Work-life Blend di Masa Work from Home

0
270

Oleh: Annisa Tria Agustina*)

Penandatanganan Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 mengenai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai respons terhadap COVID-19 beserta Keputusan Presiden Nomor 11 tahun 2020 yang menyatakan bahwa pandemi corona virus sebagai bencana nasional oleh Presiden Joko Widodo menciptakan perubahan pada pola kegiatan sehari-hari masyarakat di Indonesia. Beragam aktivitas seperti sekolah, tempat kerja, agenda keagamaan, dan kegiatan di fasilitas umum menjadi serba terbatas, baik dalam jumlah maupun pengaturan jarak demi meminimalisasi kontak langsung antar orang. Hal ini menjadi dasar kebijakan Work From Home (WFH) yang kemudian diterapkan oleh berbagai badan usaha di Indonesia sejak Maret 2020 lalu.

Bekerja dari rumah sebenarnya memberikan beberapa keuntungan, misalnya mengurangi angka penggunaan transportasi, menambah produktivitas, meningkatkan motivasi kerja, memberikan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan yang lebih baik, serta bertambahnya kontrol terhadap waktu.

Di sisi lain, terdapat kerugian seperti sulitnya mengawasi performa pekerja, biaya yang harus dikeluarkan untuk bekerja dari rumah, masalah komunikasi, tidak adanya pembatas yang jelas antara pekerjaan rumah dengan kantor, serta ketidakcocokan dengan pekerjaan tersebut (Moretti et al., 2020).

Bekerja secara remote mungkin merupakan pengalaman pertama bagi sebagian besar karyawan. Selain itu, tidak semua pekerja memiliki lingkungan rumah yang mendukung seperti di tempat kerja, baik itu dari segi fasilitas maupun suasana yang bebas distraksi. Sebagai contoh; teriakan anak-anak yang minta diajari belajar daring ketika melakukan telekonferensi, gangguan koneksi, adanya tamu yang tidak terduga, dan lain-lain.

Uraian permasalahan di atas dapat menyebabkan pekerja rentan stres, menderita gangguan kecemasan, kelelahan, dan merasa terisolasi. Penelitian yang dilakukan oleh International Labor Organization dan Eurofound (2017) menyebutkan bahwa terjadi peningkatan stres akibat kerja sebanyak 41 persen pada pekerja yang bekerja dari rumah dibanding di kantor. Kondisi tersebut kemudian akan berpengaruh pada efektivitas performa, kesejahteraan, serta sulitnya mencapai titik keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi pekerja atau work-life balance (Moretti et al., 2020).

Oleh sebab itu, diperlukan mindset baru untuk menghadapinya: lupakan work-life balance, sekarang waktunya work-life blend.

Work-life blend bukan berarti kehidupan pribadi dan pekerjaan dapat dicampuradukkan begitu saja. ‘Blend’ di sini seperti mengumpulkan kepingan aktivitas dalam suatu wadah. Work-life blend artinya memperlakukan waktu untuk bekerja dan kehidupan personal secara rata, tetapi tidak berarti memblok waktu, tenaga, dan fokus hanya untuk mengerjakan pekerjaan saja atau kehidupan sosial saja secara terpisah dalam satu periode waktu yang lama.

Konsep ini kerap disebut sebagai versi baru dari work-life balance yang mengasumsikan bahwa ‘keseimbangan’ didapatkan dari pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan personal secara merata.

Work-life blend memiliki manfaat bagi para pekerja dalam hal mengatur waktu dengan lebih baik.  Konsep ini juga mengubah pandangan pekerja bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk menikmati kehidupan pribadi mereka. Dengan demikian, pekerja dapat lebih produktif dalam beraktivitas dan mendapatkan waktu istirahat yang layak.

Meskipun demikian, dalam mempraktekkan work-life blend, diperlukan usaha serta strategi pengaturan prioritas. Langkah penting yang pertama adalah mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan di keseharian, entah itu berolahraga, self-care, melakukan hobi, makan bersama keluarga; semuanya harus dicatat, dijadwalkan, dan dijalankan. Namun, ada kemungkinan jadwal tersebut berantakan, tidak sesuai rencana, atau sulit untuk disiplin dalam menerapkannya.

Maka dari itu, perlu adanya pemahaman bahwa bahwa setiap rencana tidak selalu sempurna dantumpang tindih kewajiban merupakan hal yang biasa. Untuk meminimalisasi hal tersebut, ada beberapa taktik yang dapat dilakukan, antara lain:

  1. Membuat batasan yang pasti di antara pekerjaan dengan urusan rumah atau kehidupan personal.
  2. Membuat to-do list atau daftar kegiatan harian yang disusun berdasarkan prioritas.
  3. Menggunakan gawai yang berbeda untuk mengerjakan pekerjaan personal agar tidak tergelitik untuk mengecek keperluan pekerjaan.
  4. Evaluasi diri untuk melihat sudah sejauh apa perubahan yang dirasakan setelah menerapkan work-life blend. Kenyamanan dalam menjalankan rutinitas ini dapat menjadi bahan pertimbangan apakah metode yang dilakukan sudah tepat atau belum.

_________________________________________________________

*) Penulis adalah mahasiswa S1 jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja FKM UI

REFERENSI:

medium.com. (2018) Forget Work-Life Balance: It’s All About the Blend. [online] Available at: <https://medium.com/taking-note/forget-work-life-balance-its-all-about-the-blend-ad3115ed1fa4> [Accessed 20 November 2020].

Madero Gómez, S. et al. (2020) ‘Stress and myths related to the COVID-19 pandemic’s effects on remote work’, Management Research, 18(4), pp. 401–420. doi: 10.1108/MRJIAM-06-2020-1065.

Moretti, A. et al. (2020) ‘Characterization of home working population during covid-19 emergency: A cross-sectional analysis’, International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(17), pp. 1–13. doi: 10.3390/ijerph17176284.