Warga Semarang Hasilkan Hand Sanitizer dari Ekstrak Daun Mangrove

0
1021
Tim Pengabdian Masyarakat dari FPIK Undip menghadirkan produk hand sanitizer dari ekstrak daun mangrove (dok. FPIK, Undip)

Semarang (Samudranesia)-Semakin banyak produk-produk yang dihasilkan dari tanaman mangrove. Di Semarang, sekelompok warga mampu menciptakan produk hand sanitizer dari esktrak daun mangrove.

Selain masalah penyebaran virus Covid-19 yang belum terhenti, sampah juga menjadi masalah bagi warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Secara keseluruhan  jumlah sampah yang diproduksi Kota Samarang sudah mencapai 65juta di mana sekitar 61,24 persennya merupakan sampah organik.

Bagi warga Mangunharjo, masalah sampah semakin bertambah pelik karena tidak diimbangi dengan kapasitas daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah mereka. Akibatnya, tak hanya menggangu kebersihan lingkungan, sampah-sampah ini juga kerap menjadi penyebab timbulnya banjir. Belum lagi bau tak sedap dan ancaman penyakit dari banyaknya sampah-sampah organik yang tidak tertangani tersebut.

Sementara di tengah pandemi Covid-19, keharusan untuk hidup sehat dan menjaga kesehatan tak bisa lagi ditolak.

Tergerak untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah, Tim Pengabdian Masyarakat  dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro mengembangkan gagasan kreatif. Yaitu mengolah daun mangrove menjadi produk hand sanitizer dan produk-produk disinfektan berbahan alami.

Dari hasil penelitian, daun mangrove yang sudah diekstrak memiliki kandungan saponin dan tannin yang berfungsi sebagai zat alkohol alami dan dapat dimanfaatkan sebagai antibakterial. Mereka menggandeng warga Mangunharjo untuk melakukan proses pembuatan produk-produk tersebut.

Mangunharjo merupakan salah satu kelurahan di Kota Semarang yang sebagian wilayahnya berada pada wilayah pesisir dan banyak ditumbuhi oleh tanaman mangrove. Mangrove telah menjadi komoditas unggulan di Mangunharjo yang dapat dikembangkan dalam berbagai sektor, seperti ekowisata, pemanfaatan bagian tanaman mangrove menjadi bahan makanan, kosmetik, sabun dan lain sebagainya. Pemanfaatan sampah organik mangrove seperti daun, batang, dan buah mangrove selama ini hanya terbatas sebagai zat warna alami untuk kain batik.

“Kegiatan pengabdian masyarakat ini dimulai dengan tahapan survey, sosialisasi, dan demo pembuatan produk,” kata Dr. Ir. Suryanti, MPi, dosen FPIK yang masuk dalam Tim Pengabdian, melalui siaran persnya, Kamis 5 November 2020. Menurutnya tidak mudah untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan rapih tanpa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi.

Dengan adanya pembuatan produk-produk disinfektan, kata Suryanti, diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan pengolahan sampah organik tumbuhan mangrove dan juga membantu dalam kiat pemutusan rantai penyebaran COVID – 19 di Kelurahan Mangunharjo.

Warga di Kelurahan Mangunharjosendiri mengaku puas dengan adanya program tersebut. “Sangat membantu kami, masyarakat Mangunharjo, di mana saat ini produk-produk tersebut sangat diperlukan untuk kami sendiri, juga dapat dijadikan cendera mata untuk para wisatawan dan menambah pendapatan masyarakat Mangunharjo,” kata Ati, salah satu warga.

Suryanti sangat berharap dengan program pengabdian masyarakat dan edukasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilaksanakan dan dipraktikkan oleh masyarakat. “Kesadaran diri sendiri juga merupakan modal utama dari terwujudnya lingkungan yang bersih,tujuannya tidak lain agar dapat menjaga kesehatan, serta meningkatkan perekonomian keluarga dengan prinsip 3R yaitu dari sampah yang tidak berguna menjadi multi guna,” pungkasnya.

Tim Pengabdian Masyarakat terdiri dari tiga dosen FPIK UNDIP, yaitu Suryanti, Churun A’in, dan Siti Rudiyanti dan tim mahasiswa KKN. Mereka bekerjasama dengan 3 Mitra“Mangrove Lestari”; “Karya Mina Mandiri” dan Tim Penggerak PKK.