Vaksin Sputnik Tetap Ditawarkan ke Indonesia, Meski Kemampuannya Diragukan

0
198

Internasional (Samudranesia) – Pemerintah Indonesia melaksanakan pemberian vaksin Covid-19 Sinovac Biotech mulai hari ini, Rabu 13 Januari 2020. Pelaksanaan vaksin dimulai dengan penyuntikan perdana kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada pukul 09.42 WIB.

Menurut Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat ini sudah ada 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 dari Sinovac yang diprioritaskan untuk tenaga kesehatan (Nakes). Vaksin ini sudah didistribusikan ke daerah-daerah. “Kita sudah mulai menyebar sebar 1,2 juta dosis untuk nakes mulai tanggal 3 Januari. Tahapannya 566.000 nakes disuntik di Januari tahap kedua di bulan Februari sisanya sekitar 900.000,” jelas Budi saat Rapat Kerja Kementerian Kesehatan, BPOM dan Biofarma dengan Komisi IX DPR RI, pada Selasa (12/1).

Selain Vaksin Sinovac, Indonesia sudah mengantongi sejumlah kontrak mengontrak pengadaan vaksin virus corona dari berbagai produsen lainnya. Antara lain, 100 juta dosis dari Novavax, 100 juta dosis dari AstraZeneca, dan 100 juta dosis dari Pfizer-BioNTech. Indonesia juga akan menerima 16 juta hingga 100 juta dosis dari Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI).

Selain deretan vaksin tersebut, pemerintah Rusia kabarnya juga sedang berupaya membujuk Indonesia untuk mendatangkan vaksin Sputnik V. Sebelumnya, Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia menyatakan, tengah mendaftarkan vaksin Sputnik V ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Pembicaraan Russian Direct Investment Fund (RDIF) dan mitranya di Indonesia terus berlanjut,” kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmilla Vorobiev, Selasa (12/1), kepada kantor berita TASS.

Menurutnya langkah itu sebagai upaya kesiapan negaranya menjalin kerjasama penyediaan vaksin corona dengan Indonesia.”Saya ingin menegaskan kembali, Rusia siap bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam aspek ini (pengadaan vaksin),” kata Vorobieva melalui pernyataan di akun Facebook Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia pada 15 Desember 2020.

Ditanggapi dengan Skeptis

Ketika pemerintah Rusia mengumumkan pengembangan vaksin Sputnik V, sebenarnya banyak yang menanggapinya dengan skpetis. Menurut pihak vaksin ini kemanjuran Sputnik mencapai 95 persen setelah dilakukan uji klinis sementara kepada sukarelawan dalam 42 hari. Menurut mereka, efek samping Sputnik V termasuk demam 38 derajat celsius, sakit kepala, nyeri otot dan mempengaruhi sekitar 15 persen penerima.

Namun para kritikus di Rusia dan luar negeri meragukan vaksin tersebut. Pada September 2019 misalnya, para ilmuwan dari beberapa negara menandatangani catatan keprihatinan atas kemungkinan manipulasi data dan anomali statistik dalam data Tahap 1/2 yang diterbitkan di The Lancet. Rumor yang beredar juga menyebutkan jika Rusia sedang berjuang dengan masalah kapasitas produksi dan masalah dengan skalabilitas dan kontrol kualitas.

Namun pengembang mempertahankan penelitian mereka dengan mengatakan bahwa metode yang mereka gunakan untuk mendapatkan pengukuran hanya memberikan nilai kasar, bukan angka pasti.