UUV China Mengintai Saatnya Perkuat Teknologi Pertahanan Maritim

0
355
Sistem kerja UUV. Dok: dsjournal.com

Jakarta (Samudranesia) – Penemuan UUV (Unmanned Underwater Vehicle) yang diduga milik China di Pulau Tenggol, Masalembu dan Kepulauan Selayar beberapa waktu lalu oleh nelayan setempat menjadi peringatan keras buat sistem pengamanan perairan kita betapa pentingnya penerapan teknologi mutakhir.   

Sudah tentu pertahanan maritim Indonesia perlu diperkuat dengan berbagai teknologi yang andal. Menurut Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas NH Kertopati, hal ini merupakan fakta bahwa penggunaan Unmanned System telah dilakukan oleh berbagai negara maju di laut.

“TNI AL harus segera melengkapi Puskodal (Pusat Komando Pengendalian)-nya dengan sistem pemantauan bawah laut diperkuat dengan Smart mines yang dapat dikendalikan secara otomatis atau manual. Kapal-kapal perang TNI AL juga harus dilengkapi dengan Anti-USSV System yang dapat menghadapi serangan USSV,” ungkap Nuning biasa disapa kepada Samudranesia, Minggu (3/1). .

“TNI AL harus meningkatkan sistem pendidikan bagi prajurit TNI AL agar memiliki kecakapan melakukan peperangan Anti-USSV sebagai bagian dari kemampuan peperangan Anti Unmanned System,” tambahnya.

Sambung dia, UUV yang ditemukan oleh prajurit TNI AL berlabel Shenyang Institute of Automation Chinese Academic of Sciences merupakan platform khusus yang dirancang untuk mendeteksi kapal-kapal selam Non-Chinese dan merekam semua kapal-kapal yang beroperasi di perairan Asia Tenggara dan Laut China Selatan.

“Penemuan UUV ini juga menunjukkan bukti bahwa perairan Indonesia menjadi Spill Over adu Kekuatan Militer antara Cina Dan Amerika Serikat berikut Sekutunya,” tegasnya.

Mantan Anggota Komisi I DPR ini menambahkan bahwa UUV ini masuk ke dalam kategori platform penelitian bawah laut. Namun tidak menutup kemungkinan China atau negara lainnya sudah meluncurkan USSV (Unmanned Sub-Surface Vehicle) yang sudah membawa persenjataan. USSV ini lebih berbahaya daripada UUV.

“Semua UUV yang ditemukan dalam kondisi malfunction dan bukan expired, yang artinya ada kendala teknis internal di dalam sistemnya. Dari analisa awal, ketiga UUV diperkirakan sudah memiliki jam selam lebih dari 25.000 atau mendekati 3 tahun. Kemungkinan besar UUV tersebut diluncurkan November 2017,” jelasnya.

Dia juga menegaskan agar pemerintah Indonesia menetapkan langkah-langkah strategis untuk menghadapi penemuan UUV di perairan Indonesia. Pertama, lanjut Nuning, dari aspek hukum, perlu segera ditetapkan peraturan penggunaan semua jenis Unmanned System di wilayah Indonesia baik UAV (Unmanned Air vehicle) di udara, USV (Unmanned Surface Vehicle) di permukaan laut maupun UUV di bawa permukaan laut.

“Sejalan dengan itu, juga dibutuhkan peraturan pemerintah yang menentukan tata cara menghadapi illegal research di perairan Indonesia, mulai dari perairan Kepulauan hingga ZEE,” imbuhnya.

Berikutnya, masih kata Nuning, Kementerian Pertahanan dapat mengajak Kementerian Perhubungan untuk segera memasang UDD (Underwater Detection Device) di seluruh ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) dan semua Selat strategis untuk memantau semua lalu lintas bawah laut, utamanya di Selat Malaka, Laut Natuna, Selat Makassar, Selat Sunda dan Selat Lombok.

Oleh karena itu, dia mengingatkan Kemhan, Mabes TNI dan Mabes TNI AL tidak boleh memandang remeh hasil temuan ketiga UUV beberapa waktu yang lalu.

“Jangan sampai konsentrasi menghadapi Covid-19 kemudian mengurangi Kewaspadaan Nasional terhadap bahaya perang besar di Laut China Selatan,” tandasnya. (*)