Uniknya Perahu Lesung Suku Asmat

0
2637
dok. Indonesia Kaya

Bentuknya ramping dan panjang. Terbuat dari pohon kayu pilihan. Selain sebagai alat transportasi, biasanya juga digunakan untuk perang.

“Unik dan kokoh”. Itulah kesan pertama, saat Samudra melihat perahu lesung. Sebuah moda transportasi air khas Suku Asmat, Papua. Keunikannya bisa terlihat dari bentuknya yang sangat ramping dan berukuran cukup panjang. Sehingga terbayang, dengan model seperti ini lajunya pasti cepat.

Keunikan lain ada pada bagian muka perahu yang disebut cicemen. Berupa ukiran, menyerupai burung atau binatang lainnya sebagai perlambang pengayauan kepala. Dan, ada pula ukiran manusia. Menurut cerita, ukiran itu sebagai simbol saudara yang telah meninggal. Lebih jauh, perahu itu pun dinamakan sesuai nama sang saudara.

Lalu pada bagian body pun terdapat cukup banyak hiasan. Meski sebenarnya ini bukan satu keharusan. Tapi, menurut kepercayaan masyarakat Suku Asmat, hiasan tersebut sejatinya memiliki arti penting. Bisa menjadi media penghubung dengan para leluhur mereka. Mereka meyakini tiap ukiran terdapat “satu kekuatan” sebagai wujud penghargaan atas kebesaran suku Asmat untuk para leluhur.

Tak kalah uniknya adalah dayung. Dayung perahu lesung cukup panjang dan lancip pada bagian ujungnya. Alat pengayuh ini terbuat khusus dari kayu pilihan, biasanya kayu besi. Ukurannya yang panjang  tentu punya alasan tersendiri. Pertama, karena kebiasaan mendayung masyarakat Suku Asmat adalah berdiri. Kedua, dalam situasi darurat dayung bisa dijadikan sebagai senjata atau tombak. Utamanya, ketika mendapat serangan dari musuh ataupun buaya.

Dari gambaran itu, terbersit dalam benak Samudra, bahwa perahu ini selain sebagai alat transportasi, berburu dan menangkap ikan, juga berfungsi sebagai wahana perang ataupun perjalanan jauh. Terbukti, dari dayungnya yang berfungsi ganda, juga ukuran perahunya yang lumayan panjang, 10 – 20 m. Perahu sepanjang ini tentu sangat ideal untuk mengangkut pasukan cukup banyak, berkisar 20 orang. Dan, perahu lesung dengan ukuran itu biasa disebut perahu clan. Sedang, perahu lesung untuk keluarga hanya memuat 2- 5 orang, berukuran 4 – 7 m.

Dan, satu lagi yang tampak mencolok adalah warna. Ada dua warna dominan pada perahu lesung, putih dan merah. Seluruh bagian dalamnya hanya ada satu warna, putih. Di bagian luar, selain putih, diberi pula warna merah. Lalu, ornamen lain yang juga tampak adalah daun sagu. Rupanya, keberadaan daun itu, harus diakui, tak hanya menjadi penghias, tapi juga menambah keunikan.

Proses pembuatan

Perahu lesung tak hanya unik tampilannya, tapi juga kuat dan tangguh dalam performa. Mampu melesat dengan kecepatan tinggi, plus tak mudah lapuk dari “rongrongan” air selama bertahun-tahun. Namun begitu, tradisi membuat perahu baru lima tahunan dalam masyarakat Suku Asmat tetap berjalan. Ya, mereka melakukan itu lima tahun sekali.

Untuk menghasilkan perahu yang andal, mereka tak sembarang memilih kayu. Hanya pohon-pohon kayu tertentu saja yang dipilih, kayu kuning (ti), ketapang, bitanggur. Atau, sejenis kayu susu yang biasa disebut yerak. Setelah ditentukan, pohon kayu itu ditebang. Untuk diketahui perahu lesung terbuat dari satu batang pohon utuh. Lalu, kulit batang pohon dikupas hingga bersih dan kedua ujungnya diruncingkan. Setelah itu, batang tersebut dibentuk menjadi perahu.

Sejatinya pembuatan perahu butuh waktu sekitar lima minggu, bila dikerjakan secara tradisional. Tapi, sejak mengenal peralatan modern, masyarakat Suku Asmat mampu menyelesaikannya hanya dalam 1 – 2 minggu. Tahapannya, pertama, batang kayu dihaluskan. Semua bagian batang yang berlekuk diluruskan. Tujuannya, agar perahu bisa melaju cepat. Kedua, batang kayu  dilubangi untuk membentuk ruang penumpang. Setelah terbentuk, seluruh bagian perahu – luar dan dalam – dihaluskan kembali, menggunakan kulit siput. Ketiga, membakar bagian bawah perahu. Ini dilakukan agar bobot perahu lebih ringan ketika melesat. Dan terakhir, memberi hiasan agar perahu tampil menarik.

Harus diakui, pembuatan perahu lesung ini kental dengan aroma mistis. Sebab, masyarakat Suku Asmat masih memiliki kepercayaan kuat terhadap nenek moyang mereka. Tak heran,  jika sebagian dari mereka, tetap melakukan ritual tertentu sebelum perahu digunakan. Malah, ketatnya lagi, ada pantangan yang harus ditaati. Tidak boleh banyak bunyi-bunyian saat membuat perahu. Serta, dilarang menginjak batang kayu yang belum tersentuh air. Menurut kepercayaan, akan membuat batang tersebut nantinya sulit dipindahkan.

Dari tampilan perahu lesung Suku Asmat memang sangat bersahaja. Namun, di balik kebersahajaannya, perahu ini punya makna yang sangat berarti. Sarat akan manfaat bagi kehidupan nyata, baik sosial, ekonomi maupun politis. Sekaligus, menjadi media penghubung bagi para leluhur Suku Asmat dalam dimensi mistis. Tak berlebihan, jika perahu asli Suku Asmat perlu dijaga dan dilestarikan. Karena, tak bisa dipungkiri moda transportasi tradisional ini menjadi salah satu bukti yang menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa maritim.

Agus A. Abdullah