Unhan Dorong Penerapan ‘Unmanned System’ dalam Keamanan Maritim

0
182
Rektor Unhan Laksdya TNI Dr. A. Octavian, S.T., M.Sc., D.E.S.D., CIQaR, CIQnR, IPU. Dok Foto: Unhan

Jakarta (Samudranesia) – Penemuan Unamanned Underwater Vehicle (UUV) atau seaglider di perairan Pulau Selayar beberapa waktu lalu terus menimbulkan polemik di dalam negeri. Banyak pengamat yang mengaitkan penemuan itu dengan konflik Laut China Selatan.

Benda temuan itu hingga saat ini juga masih diduga kuat milik China. Banyak yang beranggapan bahwa benda itu digunakan untuk kepentingan militer China .

Terlepas dari polemik tersebut, Universitas Pertahanan (Unhan) mendudukan masalah tersebut dalam tinjauan ilmiah dalam suatu seminar nasional berjudul ‘Ancaman Unmanned System Terhadap Sishanneg dan Respons Negara dari Aspek Hukum, Strategi, dan Teknologi’ yang digelar secara virtual, Kamis (14/1/2020).

Rektor Universitas Pertahanan, Laksdya TNI Dr. A. Octavian, S.T., M.Sc., D.E.S.D., CIQaR, CIQnR, IPU dalam sambutannya mengemukakan bahwa seminar ini bertujuan untuk membahas secara akademis kondisi keamanan laut Indonesia secara umum terutama kepentingan nasional di bawah laut.

“Terutama terkait perkembangan teknologi maju penggunaan unmanned system di dunia. Seminar ini juga untuk mendapatkan pemikiran secara ilmiah dari para akademisi ilmu pertahanan dan praktisi sistem pertahanan negara atas penggunaan unmanned system,” ujar Octavian.

Lulusan AAL tahun 1988 ini juga menyatakan bahwa seminar ini bermanfaat dalam memberikan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat sekaligus meningkatkan kewaspadaan nasional.

Begitu pula dalam visi Poros Maritim Dunia, menurut Octavian, sistem pertahanan dan keamanan maritim Indonesia menjadi bagian penting dan tertuang dalam pilar pembangunan dalam Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI).

“Penggunaan Unmanned Underwater Vehicle berdampak terhadap pertahanan bawah laut di mana sifat pertahanan menjadi semakin dinamis. Kepala Staf Angkatan Laut sudah melakukan konferensi pers terkait temuan seaglider di Selayar. Jika kita lihat dalam perjalanannya mulai dari 2016 ditemukan UUV milik Amerika di Laut China Selatan dan tahun 2019 ditemukan juga seaglider di Kepulauan Riau,” ungkapnya.

Mantan Danseskoal ini menyatakan bahwa ke depan tren penemuan seaglider ini semakin masuk di perairan Indonesia. Dia mengakui, secara spesifik UUV memang dapat dirancang untuk kepentingan observasi bawah laut.

“Tapi UUV juga banyak digunakan oleh Angkatan Laut di negara-negara maju di dunia. Saat ini UUV juga banyak diproduksi di banyak negara,” jelasnya.

Maka dari itu, dia mendorong agar peraturan internasional yang mengatur soal penggunaan UUV ini diperjelas. Begitu pula dengan Pemerintah RI, pihaknya mendorong agar sudah sepatutnya menerbitkan peraturan yang mengatur alat ini.

Octavian yang pernah menjadi Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Unhan ini menjelaskan dalam teknologi kunci UUV terdapat sistem sonar, komunikasi, imaging, navigasi dan propulsi.

“Sistem deteksi bawah laut dibutuhkan oleh Indonesia untuk mengamankan perairan Indonesia mulai dari coastal intelligence system, passive autonomous acoustic surveillance system dan integrated underwater harbors defense and surveillance system,” pungkasnya.   

Seminar tersebut menghadirkan para narasumber antara lain Prof. Hasjim Djalal, Laksda TNI (Purn) Dr Surya Wiranto, Mayjen TNI Dr Susilo Adi Purwantoro, Laksdya TNI (Purn) Dr Desi Albert Mamahit, Prof Dr Muljowidodo Kartidjo dan Romie Oktovianus Bura.

Sementara para penanggap yang hadir di antaranya Prof Dr Hikmahanto Juwana, Laksma TNI Kresno Buntoro, Laksamana TNI (Purn) Prof Dr Marsetio, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, Ir. Adhi Dharma dan Ir Wasis Dwi Aryawan. Seminar tersebut dimoderatori oleh Laksma TNI Dr Edy Sulistyadi. (*)