Transportasi Laut, Jantungnya Pertamina

0
83
Dok Foto: Nur Hermawan

Jakarta (Samudranesia) – Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar yang jumlah wilayahnya didominasi oleh lautan mengandalkan kehiduannya dari aktivitas pelayaran. Hal itu membuktikan bahwa bisnis pelayaran akan tetap hidup sampai kapan pun.

Termasuk kiprah dari PT Pertamina International Shipping (PIS) yang menggerakkan seluruh transportasi laut milik Pertamina dalam mendistribusikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Gas (BBG) ke seluruh Indonesia bahkan dunia internasional.  

“Ketika saya berdiskusi dengan para pekerja shipping di Pertamina, dengan para pengamat energi, dengan para guru besar yang peduli Pertamina, dengan Dewan Energi Mahasiswa Indonesia dan lain-lain, saya selalu mengatakan bahwa bisnis di Pertamina yang tidak akan pernah punah adalah bisnis transportasi laut. Sekalipun Indonesia tidak lagi punya sumber minyak,” ujar Ketua Serikat Pekerja Forum Komunikasi Pekerja dan Pelaut Aktif Pertamina (SP FKPPA Pertamina) Nur Hermawan, Sabtu (1/5).  

Dia menambahkan bisnis transportasi laut Pertamina tidak akan berkembang kecuali negara Indonesia ini berubah tidak lagi menjadi negara kepulauan dan maritim yang dikelilingi lautan.

“Transportasi laut inilah yang sangat berperan mendistribusikan BBM plus BBG ke seluruh pelosok tanah air hingga ke daerah 3T (terluar, terpencil,terdepan) sekalipun dari aspek keekonomiannya tidak visibel,” jelas Wawan biasa akrab disapa.  

Wawan menyatakan ketika Pertamina membuat kebijakan BBM satu harga untuk premium dan solar, maka aspek transportasi laut inilah yang sangat berpengaruh terhadap biaya distribusi BBM plus BBG. Transportasi laut dan juga udara bisa dikatakan menjadi jantungnya Pertamina.

“Saat ini Subholding PIS dimiliki 100 persen oleh Negara. Nah sejak tahun yang lalu, hingga saat ini ada informasi dan gonjang ganjing yang menghawatirkan bahwa Pertamina International Shipping akan segera di-IPO kan (Initial Public Offering) yaitu akan melantai di bursa saham dan tampaknya IPO ini menjadi target dari Kementerian BUMN,” bebernya.

Ketika ada wacana tersebut, dirinya bersama seluruh serikat pekerja Pertamina dengan tegas menolak. Pasalnya dengan adanya rencana IPO terhadap PT PIS, Wawan tidak bisa menjamin apakah BBM dan BBG

“Apakah kalau PIS di IPO kan dimana sebagian sahamnya maksimal 49 persen dikuasai publik (Swasta nasional dan Asing), PIS masih bisa menjalankan penugasan dari negara dalam hal mendistribusikan BBM plus BBG hingga ke daerah 3T  Yang siap menanggung kerugian ratusan milyar per tahunnya?” tandasnya. (*)