Tradisi Minum Sake, Sisi Lain Budaya Jepang

0
536

Jepang adalah salah satu negara modern dan sangat maju di dunia memang tak mungkin terbantahkan. Negara yang berjuluk Negara Sakura ini boleh dibilang mampu menciptakan berbagai jenis produk berteknologi canggih. Dan, di sisi lain kehidupan masyarakatnya pun tak bisa dipungkiri sudah sangat maju. Geliat hidup mereka nyaris tak pernah lepas dari arus modernisasi yang begitu kental. Ritme arus yang boleh dibilang tak pernah mengenal kata jedah. Cuma ada satu warna yang begitu dominan dalam kehidupan mereka, yakni sibuk.

Kata sibuk memang seolah menjadi rutinitas yang rasanya terlalu muskil buat disingkirkan dari kehidupan masyarakat Jepang. Lihat saja keseharian mereka, derap kehidupan orang-orang di sana bagai tak pernah berujung. Namun begitu, bukan berarti di tengah kesibukan itu tak ada lagi warna lain. Tetap ada. Biasanya ada celah dalam pergumulan waktu yang penuh kesibukan itu. Nah, momen itu tak jarang digunakan buat beragam kegiatan yang bisa meredam kepenatan dari rutinitas yang bikin lelah. Atau, bisa juga celah itu diisi dengan kegiatan lainnya.

Satu dari sekian banyak tradisi yang amat melekat dalam keseharian masyarakat Jepang adalah minum sake. Sake dalam bahasa Jepang berarti minum beralkohol. Tidak seperti kehidupan di belahan bumi bagian barat yang bebas banget meminum minuman beralkohol, di Negara Matahari Terbit justru sebaliknya. Tidak semua kalangan diizinkan minum sake. Boleh dibilang dalam konteks ini pihak Pemerintah Jepang cukup ketat mengeluarkan aturan. Hanya kelompok umur tertentu saja yang diperbolehkan minum minuman berahkohol.

Bukan cuma itu. Minum sake juga sejatinya punya aturan yang mesti dipatuhi. Jadi, minum ini gak boleh juga serampangan. Dan, masyarakat Jepang biasanya menghelat tradisi minum sake ini menjadi bagian dari sejumlah momen penting. Salah satu momen penting itu, sebut saja misalnya Festival Shinto. Bukan rahasia lagi, bahwa Shinto adalah agama asli orang Jepang, dengan kuil Shinto sebagai rumah ibadahnya. Dan, sudah menjadi tradisi di setiap kuil itu secara rutin diselenggarakan festival Shinto, atau disebut Matsuri. Kegiatan ini selain berisi ibadah, juga beragam perayaan yang seru banget, satu di antaranya pesta mabuk. Terkait ini biasanya yang diminum adalah sake.

Selanjutnya Pernikahan. Dalam momen ini sake juga diperlukan banget. Pasalnya, dari deretan ritual upacara pernikahan ada satu event yang mengharuskan pasangan mempelai minum sake. Masing-masing tiga kali dengan tiga cangkir berbeda ukuran. Dan, pada momen bertukar cangkir itu, secara simbolis mereka  menyatakan sumpah pernikahan. Terus, orang tua mereka pun ikut meminumnya, sebagai simbol ikatan kedua keluarga. Yang juga tak ketinggalan adalah Perayaan keberhasilan. Seolah sudah menjadi tradisi, minum sake juga kerap dilakukan dalam momen-momen seperti ini. Contoh konkretnya, merayakan kesuksesan mendapat pekerjaan baru atau promosi jabatan.

So, di mata masyarakat Jepang, tradisi minum sake punya posisi yang penting banget. Makanya, tak sedikit momen penting kerap menggelar tradisi ini. Bukan cuma soal momen, tata cara minum sake pun sejatinya gak bisa asal-asalan. Ada aturan yang harus diikuti. Contohnya, saat minum bersama, gak boleh membiarkan gelas lawan bicara kosong. Segera tuang minuman itu ke gelasnya. Juga, gak boleh menuang minuman buat diri sendiri.

Lalu, soal tempat duduk. Terkait ini juga diatur banget. Ada istilah kamiza atau tempat duduk spesial dan geza atau tempat duduk biasa. Buat tamu spesial atau orang-orang terhormat ditempatkan pada kamiza. Dan, tempat duduk yang satu ini diletakkan pada posisi yang strategis. Sebaliknya, buat geza punya posisi yang biasa-biasa saja.