Tingkatkan Daya Saing, UMKM Perlu Pahami Pengelolaan Logistik

0
905
Pembudidaya ikan menjadi pihak yang paling terkena dampak Covid-19.

Bandung (Samudranesia) – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tengah pandemi-19 ini masih memiliki banyak kendala dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Meskipun berbagai energi telah disalurkan untuk menopang UMKM, namun kesulitan dalam alur logistik masih kerap dimiliki oleh para pelakunya.

Terkait itu, Ketua Kadin Kota Bandung Iwa Gartiwa mengatakan pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap masyarakat dan UMKM yang merupakan lapangan kerja bagi lebih dari 90 juta orang atau sekitar 97 persen tenaga kerja di Indonesia.

“Saat ini entrepreneur menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Suatu penelitian menyebutkan sebuah negara dinilai maju apabila 15 persen dari jumlah penduduknya adalah entrepreneur atau wirausaha,” ucap Iwa dalam acara “Kamis Manis Ngobrol Bisnis” dengan tema “Strategi Ekspor Bagi UMKM di Era Digitalisasi” pada 26 November 2020,.

Iwa menjelaskan, Kadin Kota Bandung membentuk Kadinpreneur, Studentpreneur, dan Pensiunprenuer untuk memfasilitasi para pelaku UMKM dalam bentuk konsultasi dan sharing mengenai usaha baik antara pelaku UMKM dan Kadin maupun antar UMKM sendiri.

Kadin Kota Bandung juga menyelenggarakan acara “Kamis Manis Ngobrol Bisnis” ini secara rutin agar UMKM mempunyai komunitas dan jejaring serta berdiskusi dan sharing untuk mendapatkan solusi serta saling mendorong dan memasarkan produk UMKM.

Pada acara itu, Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan pelaku UMKM perlu memahami pengelolaan logistik untuk peningkatan daya saing.

“Salah satu masalah dalam inbound logistics adalah ketergantungan terhadap bahan baku yang sebagian besar adalah impor dan volumenya yang kecil. Sementara, masalah outbound logistics terutama proses pengiriman produk terutama tujuan ekspor,” ujar Setijadi.

Pelaku UMKM juga menghadapi masalah pengemasan agar produk dapat sampai dalam kondisi yang baik hingga ke konsumen domestik maupun luar negeri.

Setijadi yang juga sebagai CEO Ruang Logistik menyarankan para pelaku UMKM berkolaborasi dalam proses logistiknya agar mencapai ekonomi skala. Kebutuhan konsolidasi ini menjadi peluang dan tantangan bagi perusahaan penyedia jasa logistik.

Pada kesempatan yang sama, Senior Consultant SCI Widia Erlangga menyebutkan kontribusi Industri Kecil Menengah (IKM) mendominasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 57 persen PDB dan berkontribusi dalam ekspor nasional sebanyak 16 persen.

“Kebutuhan utama IKM adalah permodalan, bahan baku, alat produksi, dan pasar hasil produksi. Sebagian besar bahan baku yang dibutuhkan oleh IKM/UMKM menggunakan bahan baku impor maupun lokal,” kata Widia.

Senada dengan Setijadi, Widia yang juga menjabat Sekjen Asosiasi Pengusaha Industri Kecil Menengah Indonesia (APIKMI) menyatakan IKM/UMKM memerlukan konsolidator untuk kebutuhan bahan baku.

“Para pelaku IKM/UMKM juga memerlukan operator yang kompetitif untuk logistik pengiriman hasil produksinya. Para pelaku dapat bekerja sama dengan perusahaan kurir, perusahaan freight forwarding, dan perusahaan konsolidator laut maupun udara,” pungkasnya.