Supriyadi, Antara Kisah Mistis dan Teori Intelijen

0
3621
Ilustrasi Foto: Shodanco Supriyadi bersama Nyi Roro Kidul dan lambang PETA. Dok: Maritimnews.com

Jakarta (Samudranesia) – Shodanco Supriyadi merupakan tokoh kunci Pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) Blitar, 14 Februari 1945. PETA sendiri merupakan barisan pasukan sukarela didikan Jepang  yang terdiri dari para pemuda pribumi. PETA dibentuk pada 3 Oktober 1943 setelah Bung Karno dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya menyetujui kerja sama dengan Jepang untuk perekrutan para pemuda Indonesia dalam membantu Jepang pada palaga Perang Pasifik menghadapi Sekutu.

Menurut sumber, Supriyadi dilahirkan di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923. Di masa Hindia Belanda, Supriyadi mengbiskan masa kecilnya bersekolah di sekolah Belanda sebagaimana anak-anak bumiputra lainnya. Dia sempat memasuki Sekolah Pamong Praja di Magelang tahun 1941. Sebelum tamat dari sekolah tersebut, Jepang sudah keburu datang menyerbu Hindia Belanda.

Supriyadi sebagai pemuda cerdas di masa itu, dilirik Jepang untuk dimasukan ke Seinen Dojo, barisan pemuda yang diperuntukan untuk menyerap informasi kekuatan Sekutu di Asia Tenggara, khususnya Hindia Belanda.

Ketika PETA dibentuk, dia langsung masuk sekolah perwira PETA di Bogor sebelum akhirnya menjadi Shodanco, setingkat komadan regu di Blitar. Di Bogor, Supriyadi dilatih sebagai perwira militer bersama anak-anak bumiputra lainnya. Banyak nama-nama besar jebolan Pendidikan Perwira PETA Bogor yang kemudian hari menjadi pimpinan TNI. Sebut saja Soedirman, Achmad Yani, Soeharto, Sarwo Edhy Wibowo, Kemal Idris, Tjokropranolo dan lain sebagainya.    

Sepulangnya dari Bogor, Supriyadi bersama Shodanco Muradi memimpin beberapa regu pasukan PETA di Blitar. Hari demi hari, mereka tidak tahan melihat penderitaan bangsanya di tangan penjajahan Jepang.

Kedua Perwira jebolan Pendidikan Komandan Peleton PETA di Bogor kemudian tergerak untuk menyusun suatu perlawanan terhadap Jepang. Mereka berdua adalah inisiator sekaligus penggalang pasukan PETA dan rakyat Blitar untuk melawan Jepang.

Awal tahun 1945, mereka berdua gencar melakukan rapat-rapat rahasia di sebuah dapur di mess pasukan PETA Blitar. Sejumlah tokoh PETA lainnya pun hadir dan mendukung pergerakan mereka. Hingga akhirnya dipilihlah waktu yang tepat untuk melancarkan serangan.

Rencana penyerangan itu akan dilakukan di pagi-pagi buta, 14 Februari 1945. Tepat pagi buta, setelah Muradi memberikan aba-aba, desing tembakan langsung menyerbu pos penjagaan yang hanya diisi oleh beberapa serdadu Jepang. Dengan mudah mereka melumpuhkan para penjaga dan menguasai gudang persenjataan.

Namun sayangnya, rencana perlawanan itu sebelumnya sudah diketahui oleh pasukan Jepang di Blitar. Tentara Jepang kemudian menurunkan satu batalyon tempur yang jumlahnya banyak untuk merebut kembali markas PETA. Akhirnya sejumlah pasukan perlawanan PETA mulai terdesak dan mundur ke dalam hutan.  

Dalam tempo kurang dari 3 hari, tentara Jepang berhasil melumpuhkan pasukan yang baru mengenyam pendidikan militer itu. Sebanyak 78 orang perwira dan prajurit PETA dari Blitar ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara untuk kemudian diadili di Jakarta.

Enam orang salah satunya ialah Shodanco Muradi divonis hukuman mati di Ancol pada 16 Mei 1945, enam orang dipenjara seumur hidup, dan sisanya dihukum sesuai tingkat kesalahan.

Namun sosok Shodanco Supriyadi hilang secara misterius pasca peristiwa tersebut. Silang pendapat di antara beberapa sumber soal nasib Supriyadi menjadi daya tarik tersendiri saat ini. Terutama saat kemunculan Andaryoko, sosok yang mengaku sebagai Supriyadi pada tahun 2008 silam sempat membuat geger di publik.

Bukan hanya Andaryoko yang mengaku Supriyadi, ada juga Suyono di Blitar dan Misdi di Jombang. Bahkan salah satu di antara mereka mengaku Supriyadi untuk motif menipu orang.

Beberapa sumber menyebutkan, Supriyadi merupakan pemuda yang sering melakukan laku prihatin dan banyak tirakat dalam hidupnya. Sehingga menurut kepercayaan Jawa, Supriyadi adalah orang sakti yang moksa (menghilang) saat menemui ajalnya.

Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara dalam buku ‘Api Sejarah, sebelum melakukan perlawanan, Supriyadi memohon restu pada Kiai Ngabdullah Chatib dan Kiai Mohammad Cholil (dua ulama ternama di Blitar). Dari dua kiai inilah dibacakan doa untuk keselamatan dirinya menjelang perlawanan terhadap Jepang.

Bung Karno berdasarkan buku ‘Penyambung Lidah Rakyat’, yang ditulis Cindy Adams juga menjelaskan bahwa Supriyadi sudah merencanakan perlawanan sejak tahun 1944, di kala Bung Karno sekeluarga mudik ke Blitar. Namun Bung Karno hanya diam, tidak menyetujui juga tidak melarang.

Harjosemiarso, Kepala Desa Sumberagung pada zaman penjajahan Jepang, beberapa saat setelah pecahnya pemberontakan PETA Blitar mengaku pernah menyembunyikan Supriyadi di rumahnya selama beberapa hari.

Dari dia pula diperoleh informasi bahwa Supriyadi kerap mengunjungi Pantai Selatan di sekitar Blitar. Lagi-lagi, berdasarkan kepercayaan orang Jawa, Pantai Selatan merupakan tempat ngelmu, mencari kesaktian dan ilmu kanuragan yang ampuh.

Karena di pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia ini dipercaya bersemayam Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul. Konon, siapa saja yang sering menjalankan tapa brata di pantai ini, dipercaya akan selamat dalam setiap gejolak.

Pasca menghilang, Bung Karno dianggap tahu keberadaan Supriyadi. Sehingga ketika Republik Indonesia berdiri, Supriyadi diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat oleh Sang Proklamator. Namun karena tak kunjung muncul, akhirnya jabatan itu dipegang oleh Imam Muhammad Sulyoadikusumo.

Perwira Intelijen

Terlepas dari aura mistis di balik kisah menghilangnya Supriyadi, beberapa kawan-kawannya di PETA mengakui bahwa Supriyadi adalah salah satu lulusan terbaik. Sebelum mengikuti Pendidikan PETA di Bogor, ia bersama Dzulkifli Loebis, Daan Mogot, dan Kemal Idris adalah lulusan Seinen Dojo, barisan pemuda Indonesia yang dididik ilmu intelijen oleh Nakajima.

Konon, ketika dinyatakan hilang, Supriyadi termasuk orang yang mendirikan Badan Istimewa (sekarang BIN) bersama Dzulkifli Loebis. Badan inilah yang bekerja secara rahasia dalam menyerap informasi Sekutu dan Belanda pasca Indonesia merdeka.

Herman Sarens Soediro dalam wawancaranya di sebuah televisi swasta pada tahun 2008 pernah menyebutkan, Supriyadi yang kerap menyepi ke Pantai Selatan bukan karena ingin bertapa. Tetapi di Pantai Selatan Jawa Timur itulah tempat intelijen Sekutu menyusup dari Australia untuk menghancurkan Jepang.

Supriyadi yang memiliki kemampuan intelijen mampu membaca situasi itu, sehingga dia berkeyakinan hanya Sekutu yang bisa menyelamatkan dirinya dari ancaman Jepang. Sebagai Perwira Intelijen, bukan hal yang tabu bila Supriyadi kemudian memiliki banyak nama samaran, hilang secara misterius selanjutnya muncul beberapa tahun ke depan dengan nama berbeda.

Kisah-kisah tersebut banyak diceritakan di film-film intelijen bertema Perang Dunia II. Bisa jadi, jejak Supriyadi juga seperti intel-intel Perang Dunia II yang menghilang misterius kemudian muncul beberapa puluh tahun kemudian memberi kesaksian.

Dalam teori intelijen sangat lumrah dikenal konsep konspirasi dengan berbagai misi rahasia. Tujuannya tentu banyak yang mengatasnamakan kepentingan negara dan keselamatan dirinya. Berbekal prinsip ‘Berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tidak dicari‘ seorang intel lazim melakukan penyamaran dalam tugasnya.

Pasca Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Supriyadi sempat diangkat oleh Bung Karno sebagai Menteri Keamanan Rakyat pada kabinet pertama. Karena yang bersangkutan tak pernah muncul, jabatan itu kemudian diganti oleh orang lain.

Sangat memungkinkan apabila Supriyadi langsung berhubungan khusus dengan Bung Karno yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI dengan nama yang berbeda dan tidak tertulis jabatan resminya.

Namun Herman Sarens Soediro meyakini bila Supriyadi sudah mati oleh Kanpetai (Polisi Rahasia Jepang) pasca peristiwa Blitar. Bahkan ada beberapa teman PETA lainnya menyebut Supriyadi sebagai pengecut yang lari dari pasukannya saat dihukum mati oleh Jepang.

Apa pun asumsi soal misteri Supriyadi, pemerintah telah menetapkan dirinya sebagai Pahlawan Nasional pada 9 Agustus 1975 berdasarkan Keputusan Presiden No. 063/TK/1975. Kisah perjuangan Supriyadi bersama PETA Blitar tetap terkenang sepanjang masa.

Peristiwa itu turut memicu berdirinya Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai tindak lanjut janji kemerdekaan Kaisar Jepang. (*)