Start Up Perikanan Harus Mendorong Inovasi Teknologi

0
1462
eFishery (ilustrasi)

Jakarta (Samudranesia) –Indonesia yang masih mengandalkan sumber daya alam disebut menjadi penyebab mengapa Indonesia masih berkutat sebagai negara kelas menengah Hal ini disampaikan oleh Menteri Riset & Teknologi dan Kepala Badan Riset & Inovasi Nasional, Bapak Bambang Brodjonegoro, dalam sambutannya di pembukaan Digifish 2020. Menurutnya, aktivitas ekonomi Indonesia didorong agar berbasis ekonomi. Menteri Bambang juga menyebut jika Indonesia memiliki visi untuk menjadi negara maju berpendapatan tinggi dengan produk domestic bruto terbesar ke-4 di dunia pada 2045.

Untuk mencapai visi tersebut, menurut Bambang, iklim inovasi di Indonesia harus bisa didorong lebih maju dengan melibatkan sinergi triple helix antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri. “Kemenristek/BRIN melaksanakan program riset yang memperhatikan pilar-pilar dalam kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan yang salah satunya adalah penguatan sumber daya manusia dan riset inovasi,” jelas Menteri Bambang, Menurutnya, dukungan Kemenristek/BRIN dilakukan dengan melakukan pembinaan startup di bidang kelautan & perikanan melalui program Startup Inovasi Indonesia. “Melalui program tersebut harapannya dapat tercipta kemandirian dan kemajuan Indonesia di bidang kelautan dan perikanan.”

Sementara itu menurut Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim, Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Bapak Safri Burhanuddin, Indonesia menargetkan masuk peringkat ke-5 besar negara perikanan di tahun 2025. “Tantangannya, bagaimana meningkatkan nilai tambah produksi perikanan melalui inovasi teknologi dan pemasaran yang bagus.” Jelasnya.

Safri menilai munculnya startup digital di bidang perikanan telah berperan luar biasa dalam meningkatkan produksi dan pemasaran. Berkembangnya usaha rintisan perikanan berbasis digital diharapkan mendorong inovasi teknologi untuk pemanfaatan sumber daya perikanan tangkap sesuai dengan kapasitas maksimum yang diperbolehkan (MSY), peningkatan produktivitas kelautan dan perikanan, pemanfaatan lahan budidaya perikanan secara optimal, serta integrasi tata ruang laut dan darat,” jelas Safri dalam paparannya di acara yang sama.

Dalam kesempatan yang sama, Environmental Economist untuk Asia Timur  dan Pasifik dari Bank Dunia, David Kaczan  menyampaikan bahwa pihaknya sangat antusias dan mendukung ekosistem inovasi digital perikanan di Indonesia. Menurutnya, kehadiran komunitas startup perlu terus didukung karena dari sanalah transformasi ide dan inovasi baru bermunculan.

“Tidak banyak negara di dunia yang memiliki komunitas startup seperti Indonesia sehingga ini menjadi hal positif bagi perkembangan ekonomi digital,” katanya. Bank Dunia, kata David, memiliki program Coastal Fisheries Initiative : Indonesian Challenge Fund yang berkontribusi untuk  menemukan peluang investasi sektor swasta dalam perikanan berkelanjutan, pengembangan bisnis dan menghubungkannya dengan investor yang fokus pada dampak sosial.

Menurut catatan Digifish Network, jaringan startup kelautan & perikanan Indonesia, jumlah usaha rintisan perikanan yang tergabung dalam Digifish Network mencapai 32 startup dan diyakini bertambah pada 2021.

Salah satu start up perikanan yang melaju dalam industry ini adalah eFishery. Startup yang awalnya mengembangkan teknologi pemberiaan pakan (autofeeder) tersebut kini sudah merambah menjadi penyedia akses pembiayaan, pakan, dan pasar. “Selama pandemi Covid, sejak Maret 2020 hingga kini, total sudah 850 ton ikan bisa berhasil diserap. Ikan ini dibeli langsung dari pembudidaya dan dikelola untuk dipasarkan,” jelas CEO eFishery Gibran Huzaifah.

Menurutnya,usaha rintisan berbasis digital perlu terus berinovasi untuk menawarkan nilai tambah dan efisiensi produksi.