Sorgum, Sumber Pangan Sehat Masyarakat NTT

0
321
Dok Kehati

Kuliner (Samudranesia) – Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) terbiasa mengonsumsi sorgum. bahan pangan pengganti nasi ini diklaim sangat menyehatkan.

NTT memiliki cita rasa masakan yang unik. Penggunaan bahan-bahan rempah yang tak lazim digunakan pada masakan NTT menciptakan keragaman rasa yang berbeda dibanding daerah-daerah lainnya.

Ade Putri, seorang culinary storyteller, menyimpulkan bahwa kuliner NTT memiliki karakteristik yang khas, yaitu penggunaan bumbu yang sangat minimalis. “Memandang dari segi rasa, sepertinya penduduk NTT sudah terbiasa dengan rasa bahan pangan yang mereka gunakan. Seperti karakter masakan dari daerah Indonesia Timur yang lain, kuliner NTT menonjolkan bahan asli, tidak memberi banyak tambahan bumbu sebagai cita rasa. Jadi, proses memasaknya simpel saja,” kata influencer yang sempat menemani Gordon Ramsay, ketika sang celebrity chef sedang bertualang rasa di Sumatra Barat.

Ada beberapa bahan alami yang digunakan masyarakat NTT dalam setiap masakannya. Khusus bahan pangan masyarakat NTT biasa mengonsumsi sorgum yang lebih sehat dari nasi.

Pohon Sorgum (dok Kehati)

Menurut pengalaman Ade Putri yang sudah rajin mengonsumsi sorgum selama kurang lebih tiga tahun, bahan pangan pengganti nasi. Seperti diketahui nasi memiliki kandungan kalori yang tinggi penyebab diabetes. Sorgum merupakan bahan pangan yang bebas bebas gluten, sehingga bisa menjadi solusi bagi anak berkebutuhan khusus.

“Tekstur dan rasanya tidak jauh berbeda dibandingkan nasi dari beras. Cara dan lama memasaknya pun sama, bisa juga dengan rice cooker. Hanya takaran airnya saja yang sedikit berbeda, tapi saran takaran air biasanya dicantumkan pada kemasan. Aku pernah membuat kreasi bubur manado dari sorgum. Enak banget! Belum lama ini aku juga baru mencoba membuat pancake dari tepung sorgum,” kata Ade, sambil menyebutkan bahwa produk sorgum kini lazim didapat di toko bahan makanan sehat.

Ade yang gemar mencampur-campur bahan mengaku terinspirasi dari masakan internasional yang gemar menambahkan biji-bijian, seperti barley, juga terkadang mencampur beras dan sorgum. “Dan, orang pikir yang ia makan itu adalah barley. Bagusnya lagi, ini merupakan sumber pangan tinggi protein. Orang yang harus mengonsumsi plant base food bisa mendapatkan protein dan karbohidrat sekaligus dari bahan pangan ini,” kata Ade.

Menurut Renata Puji Sumedi Hanggarawati, Agroecosystem Program Manager dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), di NTT terdapat banyak sekali varian sorgum yang kaya serat dan tumbuh subur di lahan kering. Warnanya pun sangat beragam, mulai dari putih, cokelat, kuning, merah, merah marun, hingga hitam. Seperti halnya padi, bahan pangan ini juga ada yang pera, pulen, dan ada yang mirip ketan. “Keberadaan sumber pangan ini tak bisa dipisahkan dari budaya. Jika sumber pangan hilang, maka budaya akan berubah atau hilang. Misalnya, Ende punya upacara Ngoa Lolo untuk sorgum. Kalau bahan pangan ini sampai hilang, upacara itu tentu tidak ada lagi,” kata Puji.

Menurut Puji, di rumah sakit pun pasien diberi makanan sorgum karena bebas gluten, karena bisa menurunkan kadar gula darah. Tak hanya dikonsumsi dalam bentuk nasi, masyarakat setempat sudah membuatnya sebagai sereal. Tepung sorgum pun mereka olah sebagai bahan kue. Ada juga sorgum bunga yang bisa dibuat popgum, yaitu semacam popcorn. “Bukan hanya diambil bulirnya, batang sorgum bisa dimanfaatkan menjadi gula sorgum, atau difermentasi menjadi kecap,” kata Puji.

Jewawut

Selain sorgum, masyarakat NTT juga mengonsumsi jewawut. bedanya tidak dikonsumsi sebagai pengganti nasi, melainkan lebih sebagai snack. “Aku belum pernah mendapatkan jewawut di Jakarta, sehingga belum mencoba mengolah sendiri. Tapi, aku sudah pernah mencicipi jewawut di sebuah event. Jewawut dibuat seperti bubur jagung. Cita rasanya agak manis. Biasanya bubur jewawut ini dijadikan menu sarapan atau snack sore. Ketika dijadikan menu sarapan, dia bisa disantap begitu saja, tidak perlu ditemani lauk,” kata Ade.

Rasa jewawut sendiri sebetulnya tawar, sehingga rasa akhirnya tergantung pada cara kita memberi bumbu. Serupa ketika membuat bubur kacang hijau dan ketan hitam. Manisnya karena diberi gula, dan gurihnya karena diberi santan.

“Seandainya mendapatkan akses untuk memperoleh jewawut, aku bisa mencoba membuatnya sebagai pengganti nasi juga. Dia kan berbentuk biji-bijian, jadi bisa dicampur dengan beras. Sehingga, ada tekstur berbeda di nasi,” kata Ade.

Menurut Puji, bubur dari jewawut ini kerap dimanfaatkan oleh masyarakat NTT untuk memulihkan kesehatan orang yang baru melahirkan. “Ini seperti tradisi yang diterapkan secara turun temurun. Setiap kali ada yang baru melahirkan, mereka akan membuatkan bubur jewawut, yang bentuknya seperti jali-jali.”