Lewat Slogan dan Pantun Sandi, Semangat Prokes Ketat Sektor Wisata Mulai Bergeliat

0
133

Yogyakarta (Samudranesia) – Bersemangat, menginspirasi, dan penuh senyuman. Gambaran itu yang bisa dilihat dari penampilan Menteri Pariwiaata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Sandiaga Salahudin Uno dalam setiap kunjungannya ke lapangan kala bertemu masyarakat pariwisata. Sektor pariwisata menjadi yang paling utama porak poranda pasca covid 19 mewabah di muka bumi. Semua pelaku industri pariwisata dari yang besar hingga skala rumah tangga terpuruk karenanya. Selain butuh dukungan permodalan, dukungan moral dan spirituil sangat dibutuhkan untuk merajut kembali semangat yang sudah lunglai.

“Saya cukup optimistis, kita akan terus bangkit. Dengan protokol kesehatan yang ketat, kita semua akan kembali menumbuhkan ekonomi dari sektor pariwisata, lapangan kerja kembali marak,” harap Sandi, sapaan karib Menparekra, saat melakukan kunjungan kerja di beberapa lokasi desa wisata di Magelang Jawa Tengah, Jumat (4/6/2021).

Secerca harapan yang digelorakan Sandi membuat para pelaku industri pariwisata turut bersemangat. Dalam tiap kesempatan untuk menghidupkan suasana, Sandi lihai melontarkan ujaran penyemangat lewat pantun pantun yang mengundang gelak tawa. Bahkan, beberapa slogan tercipta kala merespon keluhan tiap pengusaha yang datang.

“Kita ini bukan Rohali (rombongan hanya lihat-lihat), tapi kita adalah Rojali (rombongan yang datang pasti beli,” selorohnya menyemangati para pelaku usaha di desa Candirejo, Magelang, Jawa Tengah.

Desa wisata Candirejo salah satu desa yang benar benar ditutup setelah wabah covid 19 masuk Indonesia, Maret tahun lalu. Desa tersebut pun dibuka pas kunjungan Menparekraf, 4 Juni lalu.  Masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari berjualan dan menyediakan kerajinan pun merasakan semangat kembali. Bahkan, pertumbuhan pariwisata Jateng pun sudah menunjukan pertumbuhan yang menggembirakan. 

“Kami bersyukur, wisatawan lokal sudah naik 6 persen tahun ini. Tentu kami akan terus meningkatkannya dengan protokol kesehatan yang ketat agar peningkatan ini akan terus melaju,” terang Slamet Ahmad Husein, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang. 

Sementara itu, pemilik usaha ampyang di Magelang, Ita Syarifa mengatakan sejak dipromosikan oleh Menparekraf usahanya kembali tumbuh. “Slogan dan pantun bapak mentri membawa berkah buat usaha ampyang kami. Karena pandemi kami berhenti produksi, tapi setelah dapat kunjungan dari pak menteri dan dipromosikan, pas puasa lalu saya sampai gak bisa istirahat. Karena pesanan banyak, menjelang lebaran pesanan sampai 1 ton,” ungkap wanita berkerudung itu sambil mengakhiri percakapan dengan membalas pantun Sandi yang berdialog dengannya. 

Kunjungan kerja tidak saja ke Candirejo, rombongan kemenpar juga menyapa para pelaku usaha di Candi Borobudur,  dan menyambangi komunitas pariwsata di desa Karang Woko, Ngaglik, Sleman, Jogjakarta. Yang menarik untuk mudah diingat, komunitas pariwisata memberikan nama dengan sebutan Netas untuk komunitas pariwisata setempat. Netas merupakan singkatan dari nemuin komunitas. Suasanya desa tersebut sangat asri, dikelilingi sawah yang ditumbuhi tanaman padi yang masih menghijau, dan pepohonan rindang. Tampak juga pemandangan aliran air kali yang sangat jernih dan tertata sepanjang desa. Desa Karang Woko sangat nyaman untuk rekreasi keluarga. 

“Pelaku usaha pariwisata di sini muda-muda dan kreatif. Dengan semangat yang mereka miliki kita bisa saling memberikan dukungan dan semangat berkolaborasi, mengakselerasi, dan digitalisasi,” tutup Sandi, yang masih tetap penuh semangat meski kunjungan ke tiga lokasi tersebut menguras energi di bawah panas terik matahari, dan kembali dari Desa Karang Woko sudah hampir larut malam. (ney)