Sistem Defensif Aktif, Bangsa Indonesia Cinta Damai tetapi Lebih Cinta Kemerdekaan

0
7953
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas NH Kertopati.

Jakarta (Samudranesia) – Bertempat di ruang rapat Komisi I DPR RI, kemarin, Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto memaparkan konsep pertahanan Indonesia kepada para legislator. Prabowo menyebut tingkat ancaman yang dihadapi Indonesia terus meningkat maka dari itu perlu kekuatan pertahanan yang mumpuni.

“Kami inginkan suatu kemampuan pertahanan yang memadai, saya selalu katakan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat luas dan sangat kaya sumber daya alam, dari dulu selalu jadi incaran banyak bangsa lain,” kata Prabowo di Gedung DPR, Jakarta, Senin (11/11).

Berbagai teori serta doktrin pertahanan dipaparkan oleh mantan Pangkostrad ini guna menghadapi kondisi negara yang tak menentu. Sistem Pertahanan Semesta yang menjadi doktrin pertahanan Indonesia sejak lama pun dijabarkan olehnya.

Menanggapi hal tersebut, pengamat militer dan intelijen Susaningtyas NH Kertopati mengungkapkan apresiasinya terhadap komitmen Menhan dalam menjaga pertahanan negara berdasarkan konsep luhur bangsa Indonesia.

Menurut Nuning biasa disapa, sistem pertahanan negara defensif aktif adalah doktrin pertahanan negara yang dianut sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Sistem pertahanan tersebut bersumber dari nilai-nilai kejuangan 1945 yang menyatakan Bangsa Indonesia Cinta Damai tetapi Lebih Cinta Kemerdekaan.

“Sistem pertahanan negara defensif aktif dijabarkan dalam bentuk Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) yang kemudian disebut Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta).

Defensif aktif artinya kekuatan TNI dibangun untuk mempertahankan integritas wilayah NKRI. Tidak ditujukan untuk melakukan ofensif ke negara lain,” kata Nuning dalam keterangannya, Selasa (12/11).

Meskipun defensif, sambungnya, tetapi TNI dituntut aktif untuk melakukan  antisipasi perkembangan lingkungan strategis. TNI harus aktif menggelar operasi militer untuk mengatasi berbagai bentuk ancaman yang faktual dan potensial.

“TNI harus aktif menjalin kerjasama militer pada tataran regional dan internasional untuk menghadapi berbagai bentuk ancaman sesuai hukum nasional dan hukum internasional,” jelasnya.

Mantan Anggota Komisi I DPR itu lebuh lanjut mengutarakan bahwa sistem pertahanan negara defensif aktif juga selaras dengan politik luar negeri bebas aktif. Politik luar negeri tersebut menjadi landasan yang kuat bagi TNI untuk bebas menjalin kerjasama internasional dengan semua negara (tidak bergantung pada blok tertentu) dan aktif menjalin kerjasama tersebut sesuai kepentingan nasional Indonesia dan perdamaian dunia.

“Untuk itulah postur pembangunan kekuatan TNI yang dikenal dengan Minimum Essential Force (MEF) merupakan jabaran dari sistem pertahanan negara defensif aktif. TNI juga lebih menonjolkan Alutsista yang memiliki dampak penangkalan yang tinggi,” pungkasnya. (Tyo)