Singapura-Hong Kong Buka “Air Travel Bubble”

0
325

Internasional (Samudranesia) – Hong Kong dan Singapura membuka kebijakan Air Travel Bubble, layanan penerbangan internasional atas kesepakatan dua negara di tengah pandemi Covid-19, Rabu 11 November 2020.

Menurut Direktur Eksekutif Hong Kong Tourism Board (HKTB) atau Dewan Pariwisata Hong Kong, Dane Cheng,  dibukanya layanan penerbangan internasional dengan rute antar kedua negara ini merupakan momen penting. “Ini menunjukkan kepada dunia bahwa perjalanan internasional yang aman saat ini sangat mungkin terjadi, dan ini akan membuka jalan bagi kami untuk membawa penerbangan wisata dari dan ke negara lain,” kata Cheng melalui keterangan resminya yang diterima redaksi, Kamis 12 November 2020.

Menurutnya, berkat kerja keras dari para ahli di berbagai sektor dalam meningkatkan standar kebersihan, pihaknya yakin Hong Kong saat ini sudah bersih dan siap menyambut kedatangan kembali para wisatawan. “Terlebih lagi, kami juga memiliki penawaran yang luar biasa bagi para pengunjung, termasuk hotel dan atraksi, beragam pengalaman, dan penawaran yang ekonomis,” tambahnya.

Chief Executive Officer Singapore Tourism Board (STB), Keith Tan, menyebut jika negaranya memiliki perlengkapan yang baik untuk menangani pandemi COVID-19. “Kami yakin bahwa turis dari Hong Kong dapat menikmati Singapura dengan tenang,” jelasnya.

Tan juga menjelaskan jika saat ini industri pariwisata di Singapura telah meningkatkan standar produk pariwisata yang akan memberikan pengalaman berbeda dan memberikan kejutan kepada para pengunjung meski mereka pernah ke Singapura sebelumnya.

Dalam program Air Travel Bubble ini, Hong Kong akan menerbangkan maskapai Cathay Pasific sementara Singapura akan mengoperasikan Singapore Airlines. Penerbangan pertama dari dua negara rencananya akan dimulai pada 22 November 2020.

Menteri Transportasi Singapura, Ong Kue Yung, dikutip dari The Straits Times, Kamis 12 November 2020,  menjelaskan jika untuk sementara masing-masing pmaskapai memiliki jadwal penerbangan satu kali dalam satu hari dengan batas maksimum kuota 200 penumpang untuk sekali penerbangan.

Jadwal tersebut akan ditambah menjadi dua kali dalam sehari pada awal Desember 2020.

Meskipun demikian, pihak otoritas penerbangan sipil Singapura atau Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) menegaskan jika aturan tersebut bisa saja berubah jika kemudian ditemukan lebih dari lima kasus Covid-19 selama satu minggu penerbangan, baik di bandara Singapura maupun Hong Kong.

Kebijakan Air Travel Bubble juga, menurut mereka, tetap dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Salah satunya adalah kewajiban melakukan tes PCR Covid-19 bagi penumpang Singapura yang ingin melakukan perjalanan ke Hong Kong. Tes wajib dilakukan minimal 7 hari sebelum keberangkatan.

Angka kematian rendah

Sampai dengan berita ini diturunkan terjadi 58.091 kasus Covid-19 di Singapura. Sebanyak 28 pasien meninggal dunia, dan 57.990 sembuh. Angka kematian akibat Covid-19 di Singapura adalah paling rendah dibanding negara-negara lainnya.

Menurut keterangan Kementerian Kesehatan Singapura, sekitar 95 persen kasus COVID-19 Singapura terjadi di antara pekerja migran. Mereka yang sebagian besar berusia 20-an atau 30-an, tinggal di asrama yang sempit dan bekerja di sektor padat karya seperti konstruksi dan pembuatan kapal.

Sementara parameter penyakit terus dipelajari seiring dengan perkembangan pandemi, tren global saat ini menunjukkan bahwa dampaknya tidak terlalu parah bagi orang yang lebih muda, banyak di antaranya menunjukkan sedikit atau tanpa gejala.

Pemerintah Singapura juga bergerak cepat melakukan uji swab kepada lebih dari 900.000 orang warganya setelah kasus pertama terdeteksi. Angka ini mencapai  lebih dari 15 persen dari 5,7 juta populasi. Angka ini merupakan salah satu pengujian per kapita tertinggi secara global.

Pemerintah melakukan tes di semu asrama dan melakukan pengujian massal terhadap mereka yang dinyatakan rentan terpapar Covid-19 ini. Semua tes dilakukan secara gratis. Langkah tersebut terbukti telah menekan angka kematian akibat Covid-19 di negara tersebut.