Serikat Pelaut Miliki Peran Besar Terhadap Pulangnya ABK WNI yang Terlantar

0
894
Foto: Kepulangan 155 ABK WNI di Bitung.

Jakarta (Samudranesia) – 13 Anak Buah Kapal (ABK) WNI yang bekerja di kapal ikan Tiongkok, Long Xing milik perusahaan RRT (Dalian Ocean Fishing) kemarin kembali ke tanah air.

Ke-13 ABK WNI tersebut telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa 10 November 2020, pkl 13.55 WIB dengan menggunakan penerbangan Ethiopian Airlines (ET628). Kepulangan mereka difasilitasi oleh Pemerintah Indonesia melalui KBRI Dakar.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo mengatakan bahwa dengan dipulangkannya 13 ABK WNI tersebut, maka seluruh ABK WNI kapal ikan Long Xing yang berlabuh di Senegal dengan jumlah 88 orang ABK WNI telah kembali seluruhnya ke tanah air.

“Sebelumnya juga telah dipulangkan secara bertahap sebanyak 33 ABK pada tanggal 27 Oktober 2020 dan 42 ABK pada tanggal 3 November 2020,” kata Dirjen Agus melalui keterangan pers-nya pada Rabu (11/11/2020).

Sebanyak 88 ABK WNI yang difasilitasi kepulangannya oleh Pemerintah Indonesia tersebut bekerja pada 7 kapal ikan Long Xing (621,622,623,625,626,627, dan 628) milik perusahaan Dalian Ocean Fisihing.

Sebelumya, Perusahaan yang sama yang telah melakukan pemulangan 157 ABK WNI melalui jalur laut di Bitung, Sulawesi Utara.

Agus juga mengatakan bahwa keberhasilan repatriasi ini merupakan tindak lanjut dua pertemuan bilateral antara Menlu RI, Retno Marsudi dan Menlu China Wang Yi pada bulan Juli dan Agustus 2020.

Pemulangan 88 ABK WNI merupakan bagian dari upaya yang dilakukan secara paralel dengan upaya negosiasi pemulangan 157 ABK WNI melalui Bitung, Sulawesi Utara.

Kementerian Luar Negeri RI dan KBRI Beijing dalam hal ini telah berhasil meminta perusahaan untuk memulangkan ABK WNI melalui campur tangan Pemerintah RRT yang telah berkomitmen secara serius menangani kasus-kasus yang menimpa ABK WNI.

Adapun keberhasilan pemulangan ABK WNI ini juga tidak lepas dari upaya yang dilakukan oleh KBRI Dakar yang telah memberikan bantuan selama ABK WNI tertahan kepulangannya di Senegal.

Dengan melakukan pendekatan kepada otoritas maritim setempat yang telah mengijinkan ABK WNI tersebut turun atau mendarat di Dakar, Senegal, sehingga dapat dipulangkan melalui jalur udara.

Tak hanya pemerintah, peran serikat pelaut juga besar dalam proses kepulangan para ABK WNI tesebut. Gerakan Pelaut Sosmed (GPS) sejak sebulan terakhir terus berkomunikasi dengan perwakilan pemerintah untuk mendorong adanya proses evakuasi bagi mereka.

Tidak jarang pula melalui jejaring media sosialnya para pelaut yang berwadah dalam GPS terus memberikan informasi secara up to date mengenai kondisi para ABK WNI yang terlantar di kapal ikan Tiongkok.

Erix Extada dari GPS bersyukur karena para pelaut yang terlantar di Senegal seluruhnya bisa kembali pulang ke tanah air.

Alhamdulillah kloter ke 3, ABK Indonesia yang ada di Senegal tanggal 9  telah pulang ke Indonesia. Jadi sudah habis laporan mengenai ABK yang di sana. Mudah-mudahan tak ada lagi kasus-kasus seperti mereka lagi,” ungkap Erix.

Begitu pula dalam upaya kepulangan 157 ABK WNI di Bitung, peran GPS bersama serikat pelaut lainnya sangat besar. Melalui keaktifannya di media sosial dan terus menghubungi pihak pemerintah serta perusahaan penyalur, akhirnya para ABK tersebut berhasil kembali ke tanah air meskipun ada 2 orang yang meninggal.