Serikat Pelaut Bulukumba Berdiri, SAKTI Bidik Terbentuknya Federasi Pelaut

0
553
Deklarasi SAKTI

Jakarta (Samudranesia) – Serikat Pelaut Bulukumba (SPB) resmi berdiri sebagai wadah perjuangan pelaut di kota yang dikenal dengan tempat pembuatan pinisi tersebut. Secara sejarah, Bulukumba memang identik dengan budaya pelautnya.

Terkait itu, Dewan Pimpinan Pusat Serikat Awak Kapal Transportasi Indonesia (DPP SAKTI) mengucapkan selamat atas pembentukan atau terbentuknya serikat pelaut di wilayah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. 

Sekretaris Jenderal (Sekjen) SAKTI, Imam Syafi’i mengapresiasi dan menyambut baik langkah kawan-kawan pelaut di Bulukumba dengan inisiasi tersebut. 

“Apresiasi tertinggi kami (SAKTI) sampaikan kepada kawan-kawan pelaut Bulukumba atas terbentuknya SPB. Semoga ke depan pelaut di Bulukumba pada khususnya dapat menjadi anggotanya dan bersama-sama berjuang dalam peningkatan kesejahteraan kaum pelaut,” ujar Syafi’i kepada Samudranesia, Kamis (18/2).

Secara organisasi, Syafi’i, berharap, dapat terjalin komunikasi dan koordinasi yang baik antara SAKTI dan SPB dalam kegiatan keserikatpekerjaan. Salah satunya upaya penyatuan visi dan misi dalam jenjang kedepan menuju terbentuknya Federasi Pelaut Seluruh Indonesia.

“Belum adanya Federasi Serikat Pelaut, menjadi salah satu kendala advokasi kasus di tingkat nasional, di mana pelaut merupakan pekerjaan yang mobile (tidak menetap) seperti pekerja pada umumnya, misalnya pekerja pabrik,” jelasnya. 

“Pelaut bekerja sebagai awak kapal di lintas Kabupaten/Kota, Provinsi, Negara, bahkan Benua. Maka sangat diharapkan pelaut Indonesia memiliki organisasi besar yang kuat di internal maupun eksternal,” tambah Syafi’i. 

Serikat Pelaut Bulukumba (SPB) secara resmi terbentuk setelah melalui musyawarah via meeting virtual, 3 November 2020 lalu. SPB yang mengusung visi terwujudnya solidaritas dan soliditas yang arif, kreatif dan inovatif bagi Pelaut Bulukumba bisa diwujudkan melalui wadah ini.

Hal itu juga seiring dengan misi yang dicanangkan SPB yakni melakukan usaha sosial dan kemandirian untuk kesejahteraan anggota SPB dan masyarakat sekitar.

Meski belum memiliki badan hukum yang sah, Bendahara Umum SPB, Aswanto, mengungkapkan bahwa hal itu tidak menjadi penghalang SPB untuk menjalankan progam yang berkaitan dengan visi dan misi yang telah disepakati.

“Saat ini memang belum legal. Tapi, kita sudah mengupayakan hal itu untuk segera melegalkan. Semoga saja, semuanya berjalan lancar dan seluruh program bisa berjalan,” terangnya.

Aswanto mengaku jika SPB terbentuk atas inisiasi 53 orang pelaut asal Bulukumba. Dimana wadah yang dibentuk sebagai penguat solidaritas bersama pelaut, sehingga ruang bagi seluruh pelaut akan dilakukan.

“Saat ini ada 53 Anggota (pengurus), dan merupakan pendiri SPB. Semuanya Pelaut asal daerah Bulukumba. Insya Allah, ke depannya kita akan merangkul pelaut yang berasal dari daerah lain juga, semisal pelaut asal daerah Bone, Makassar dan lain-lain,” ujarnya.

Ia pun berharap, SPB ini menjadi serikat yang terkenal secara luas, kuat dan berdiri kokoh dengan adanya kekompakan dan kerjasama yang baik dari berbagai pelaut yang ada di Indonesia.

“Insya Allah, semoga SPB menjadi serikat yang terkenal luas, kuat dan mampu berdiri kokoh dengan adanya kekompakan dan kerjasama yang baik dari berbagai Pelaut Se-Indonesia,” pungkasnya. (*)