Sempurnakan Keselamatan Pelayaran Dunia, IKPPNI Gaungkan Deklarasi Selat Sumatra

0
269
Dok Foto: Istimewa

Jakarta (Samudranesia) – Ikatan Korps Perwira Pelayaran Niaga Indonesia (IKPPNI) mendeklarasikan suatu perjuangan untuk perubahan nama dari Selat Malaka menjadi Selat Sumatra.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum IKPPNI Capt Dwiyono Soeyono dalam webinar bertajuk ‘2021 Kuliah Umum Program Diploma Pelayaran’ dengan tema ‘Tantangan Dunia Maritim di Era New Normal’ yang diselenggarakan oleh Universitas Hang Tuah Surabaya, Kamis (22/7).

“Apa yang kita lakukan ini ialah meneruskan perjuangan Deklarasi Djuanda 1957. Kita hari ini juga harus mencatatkan diri dalam sejarah,” ungkap Capt. Dwiyono.

Deklarasi IKPPNI berisikan ‘Bahwa segala perairan di sekitar Sumatra dengan garis batas-batas wilayah laut yang merupakan wilayah laut NKRI disebut sebagai Selat Sumatra adalah sangat laik dicantumkan dalam peta laut dunia, dan adalah merupakan kewajiban negara pantai yang harus memberikan pengumuman sebagaimana mestinya mengenai peta dan daftar koordinat geografis tersebut kemudian mendepositkan satu salinan/turunan setiap peta atau daftar tersebut kepada dunia, sebagaimana amanah konvensi yang mengharuskan bersikap demikian untuk berkontribusi meningkatkan dan menyempurnakan keselamatan pelayaran dunia’.

Pesan deklarasi tersebut ialah terkait pentingnya menjaga kedaulatan Indonesia yang ujungnya tentu adanya manfaat ekonomi yang dapat diperoleh oleh negara.

“Saat ini ada nama Selat Malaka – Malaysia dan Selat Singapura, padahal selat itu bersinggungan dengan kepulauan kita dan kapal-kapal yang berlayar di sana lebih banyak yang berada di alur teritorial kita. Sedangkan saat ini kita hanya terkena imbas dari pelayaran tersebut,” jelasnya.

Pelaksanaan webinar bertajuk ‘2021 Kuliah Umum Program Diploma Pelayaran’ dengan tema ‘Tantangan Dunia Maritim di Era New Normal’ yang diselenggarakan oleh Universitas Hang Tuah Surabaya

Sambung dia, UNCLOS juga telah memandatkan negara pantai dalam hal sarana bantu navigasi serta pengembangan lainnya dan pencegahan, pengurangan dan pengendalian pencemaran.

Dengan adanya deklarasi ini, lanjut Capt Dwiyono, sebagai momentum untuk menggugah patriotik anak bangsa yang kini banyak meluntur.

“Padahal bapak-bapak pendahulu kita, misalnya Ir Djuanda sudah mengeluarkan suatu deklarasi yang akhirnya konsepnya diterima dunia. Saat ini kenapa kita juga tidak mengeluarkan deklarasi yang berisi konsep untuk ditawarkan kepada dunia?” tegasnya.

Sebagaimana isi deklarasi bahwa tujuannya antara lain untuk menyempurnakan konsep pelayaran dunia, di mana Selat Malaka saat ini merupakan choke points teramai di dunia. Maka perlu pengaturan traffic pelayaran yang baik di selat itu, terlebih dalam masa pandemi Covid-19, penumpukan di Selat Malaka dan Singapura terus terjadi.

“Kami menawarkan konsep lalu lintas laut yang lebih aman dengan menetapkan lalu lintas laut yang lebih luas di jalur timur dan barat dan terikat oleh skema pemisahan yang lebih luas,” terangnya.

Ia pun berharap agar konsep ini mendapat dukungan dari seluruh elemen bangsa karena manfaat dari perubahan nama itu sangat besar bagi Indonesia.

“Pemerintah harus terlibat penuh untuk menyelesaikan ide masa depan dalam Sistem manajemen keselamatan lalu lintas di Selat Sumatra yang terintegrasi. Ini tantangan di era new normal sebagai kontribusi Indonesia bagi maritim dunia,” pungkasnya. (*)