Seminari Mertoyudan Menambah Pendapatan dan Peningkatan Konsumsi Ikan Para Peserta Didik

0
558
Lokasi budidaya ikan lele

Magelang (Samudranesia) – Seminari Menengah Santo Petrus Canisius atau yang populer dikenal dengan Seminari Mertoyudan, Kabupaten Magelang berhasil mengembangkan usaha bududaya lele sistem bioflok. Kegiatan usaha tersebut secara nyata memberikan dampak positif terhadap raihan pendapatan dan peningkatan konsumsi ikan para peserta didik. Sekolah yang mengusung konsep boarding school ini, mampu mengembangkan kapasitas usahanya hingga dua kali lipat dari dukungan semula.

Sebelumnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), tahun 2018 telah memberikan dukungan sarana dan prasarana untuk pengembangan usaha budidaya sistem bioflok. Dukungan tersebut bersifat stimulan dan diharapkan akan memicu pengembangan usahanya secara optimal.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto saat mendapatkan laporan keberhasilan tersebut, di Jakarta baru-baru ini mengatakan bahwa KKP sangat mengapresiasi keberhasilan pengelolaan usaha yang dilakukan Seminari Mertoyudan – Magelang. Ia berharap keberhasilan tersebut juga diikuti oleh lembaga pendidikan serupa yang ada di Indonesia.

“Saya rasa apa yang telah dilakukan pihak Seminari Mertoyudan dalam memanfaatkan dukungan Pemerintah ini patut jadi contoh. Artinya, komitmen untuk mandiri, kelembagaan yang kuat dan kapasitas SDM yang baik akan sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya. Apalagi sistem bioflok adalah budidaya dengan teknologi yang cukup tinggi. Keberhasilan yang dicontohkan, saya rasa jadi momentum lembaga pendidikan sejenis untuk melakukan hal yang sama,” jelas Slamet.

Budidaya Ikan Lele

Ditambahkan Slamet, KKP tetap berkomitmen menjadikan dukungan langsung budidaya sistem bioflok ini sebagai program prioritas di tahun 2020 ini. Sebelumnya menurut Slamet, dukungan tersebut juga telah banyak dialokasikan ke lembaga lembaga pendidikan termasuk Yayasan, Pondok Pesantren dan Seminari. Tujuannya menurut Slamet, selain sebagai media pembelajaran wirausaha, juga dalam rangka meningkatkan tingkat konsumsi ikan dikalangan para peserta didik.

“Dampak dukungan seperti usaha budidaya lele bioflok telah secara nyata memberikan dampak perbaikan struktur ekonomi masyarakat dalam hal ini pendapatan, nila tukar pembudidaya (NTPi), dan tingkat konsumsi ikan. Oleh karenanya, bagi Seminari atau lembaga sejenis yang membutuhkan dukungan dan punya komitmen untuk mengelola, kami terbuka untuk memfasilitasi dukungan sejenis. Nanti tim kami akan menilai kelayakannya sesuai pedoman teknis”, kata Slamet.

Slamet juga mengungkapkan bahwa ditengah wabah pandemik covid-19 saat ini, perlu ada upaya untuk meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh. Oleh karenahya, ia berpesan agar masyarakat mulai membiasakan mengkonsumsi ikan guna meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.

“Mari mulai sekarang biasakan konsumsi ikan untuk tingkatkan stamina tubuh. Virus hanya bisa dilawan saat tubuh kita fit”, pesannya.

Sementara itu, salah satu pengelola Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Stevanus Dandy, saat dimintai keterangannya mengatakan bahwa dukungan budidaya lele bioflok telah dimanfaatkan secara optimal dan memberikan dampak positif baik dari sisi ekonomi maupun dampaknya bagi peningkatan konsumsi ikan para peserta didik. Menurutnya, dari dukungan awal, saat ini pihaknya telah mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat untuk memenuhi permintaan konsumsi siswa seminari.

“Sejak dukungan kami terima tahun 2018 lalu, saat ini kami berhasil tingkatkan produksi dua kali lipat. Disamping itu lokasi budidaya juga semakin tertata dengan baik. Bahkan, saat ini usaha budidaya kami beberapa kali dijadilam percontohan baik dari instansi pemerintah, lembaga swasta maupun perorangan”, ungkap Stevanus.

Ditanya mengenai keuntungan dari sisi ekonomi, Stevanus mengungkapkan, secara umum memang fokus budidaya adalah untuk mensuplai kebutuhan konsumsi bagi siswa. Menurutnya dari hasil panen selama ini, pihaknya telah mampu meraup pendapatan hingga Rp. 170 juta, dengan pendapatan bersih hingga Rp. 50 juta. Pihaknya kemudian mengelola keuangan tersebut untuk pengembangan kapasitas usaha. Menurutnya, manajemen usaha yang adalah kunci untuk mendorong percepatan pengembangam usaha. Nilai ekonomi ini, menurut Stevanus sebenarnya jauh lebih besar, karena pihaknya tidak menghitung hasil panen yang khusus untuk konsumsi para siswa yang jumlahnya cukup besar.

“Kami bertekad untuk terus mengembangkan kapasitas usaha. Bahkan saat ini, kami telah melakukan pembangun fasilitas untuk perluasan segmentasi usaha mulai pembenihan, pengembangan pakan alami cacing sutera dan maggot dan akses pasarnya. Disamping, kami juga mohon dukungan untuk fasilitas produksi pakan mandiri, proposal sudah kami usulkan dan mudahan segera dapat ditindaklanjuti. Intinya kami ingin ke depan terbangun usaha budidaya yang terintegrasi. Tujuan kami, siswa akan terdorong menjadi calon wirausaha muda yang sukses di bidang perikanan budidaya”, imbuhnya.

Sejak tahun 2019, pihak pengelola juga menambah jenis usaha budidaya yakni unit pembenihan ikan nila dan lele. Segmentasi usaha pembenihan sangat prospektif, seiring meningkatknya kebutuhan benih bagi para pembudidaya.(Ars)