Seba dan Kawalu, Tradisi Orang Baduy Sejak Ratusan Tahun Lalu

0
111
Suku Baduy (dok. Dispar.Bantenprov.go.id)

Mungkin di antara Anda pernah menyaksikan langsung serombongan orang berpakaian khas, serbaputih dengan ikat kepala putih pula, berjalan tanpa alas kaki di jalan-jalan seputar kota Serang. Jumlahnya gak tanggung-tanggung 2.000-an orang. Ada yang unik dari kegiatan itu, nampak mereka membawa beragam hasil bumi: ada padi, buah,  palawija dan banyak lagi. Jelas banget keceriahan nampak di wajah mereka, penuh semangat dan gak kenal lelah, menyusuri jalan beraspal yang ratusan kilometer jauhnya. Nah, siapa lagi yang punya tradisi unik macam ini, selain  masyarakat Suku Baduy. Sekelompok masyarakat yang sering menyebut diri mereka Urang Kanekes.

Pemandangan yang cuma setahun sekali terjadi itu memang harus diakui menjadi tradisi rutin, sekaligus wajib dihelat oleh Masyarakat Baduy. Namanya seba. Konkretnya, tradisi ini berupa ritual seserahan hasil bumi kepada para penguasa wilayah setempat. Terkait ini pastinya Bupati Lebak dan Gubernur Provinsi Banten yang menaungi wilayah perkampungan adat mereka. Sudah menjadi rahasia umum, masyarakat Baduy mendiami Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak – Provinsi Banten.

Seba tak bisa dipungkiri menjadi sebuah tradisi yang khas banget. Potret budaya yang amat bersahaja, bernilai luhur, dan mengesankan. Tradisi ini sudah dihelat selama ratusan tahun, sejak berdirinya Kesultanan Banten sekitar 1526. Buat masyarakat Baduy, seba esensinya adalah wujud pengakuan mereka terhadap penguasa. Gak aneh, meski zaman atau pemerintahan terus berganti, tapi tidak dengan seba. Buktinya, setiap tahun ritual ini selalu saja digelar di hadapan Bupati Lebak dan Gubernur Banten.

Tradisi yang tetap terjaga

Bukan rahasia lagi kalau masyarakat Baduy terbilang keukeuh banget dalam mengusung tradisi warisan nenek moyang. Selain dengan alam, mereka juga dikenal dekat dan selalu menjaga hubungan baik dengan pihak penguasa. Gak aneh kalau silaturahmi dengan penguasa wilayah di mana mereka berada benar-benar dijaga. Makanya gak usah heran, karena kuatnya komitmen buat merawat lingkungan alam, perkampungan Baduy nampak natural dan asri banget. Plus, yang pasti  hubungan baik dengan penguasa, perkampungan masyarakat Baduy nampak natural dan asri banget.

Harus diakui, lewat seba hubungan masyarakat Baduy dengan Bupati Lebak dan Gubernur Banten terjalin begitu harmonis. Gak bisa dipungkiri fenomena ini tercipta berkat interaksi mereka yang intens setiap tahunnya. Karenanya, bisa dibilang, seba tak ubahnya sudah menjadi denyut jantung kehidupan mereka. Sudah mendarah daging. Gak berlebihan kalau ada orang yang bilang “tanpa seba dan kawalu, gak ada Orang Baduy”.

Gak aneh, kalau masyarakat Baduy punya komitmen yang kuat banget dalam melakoni petuah nenek moyang mereka yang satu ini. Logis, kalau demi tradisi seba, berbondong-bondong mereka rela berjalan kaki ratusan kilometer untuk menyambangi, sekaligus bersilaturahmi dengan Bupati Lebak, yang biasa mereka panggil Ibu Gede.

Anjangsana ini dihelat pada hari pertama. Di momen yang bertajuk sapeuting jeung Urang Baduy atau semalam bersama orang Baduy diisi dengan acara babacakan jeung Urang Baduy, atau makan bersama Warga Baduy. Dan, tentu saja digelar pula seserahan hasil bumi sebagai acara inti, seperti padi, palawija, gula aren dan seterusnya. Bukan cuma itu, biar suasana lebih marak, tak jarang dimeriahkan pula oleh pelbagai jenis hiburan, di antaranya kesenian khas Baduy.

Tradisi seba terus bergulir, memasuki hari kedua. Warga Baduy pun mengunjungi Bapak Gede atau Gubernur Provinsi Banten. Di sini rombongan yang dipimpin ketua adat atau pu’un ini juga melakukan hal serupa. Menyerahkan hasil bumi yang mereka bawa. Plus, disisipi satu pesan yang sangat krusial untuk disampaikan kepada Bapak Gede. Yaitu, permohonan agar kelestarian lingkungan alam, dan hutan selalu dijaga. Tak berlebihan, kalau kemudian tradisi ini terus dilestarikan. Lagi pula, petuah ini memang pas dengan filosofi mereka, “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung”. Artinya, panjang tidak boleh atau bisa dipotong, pendek tidak boleh atau bisa disambung.

Di penghujung acara, nuansa kemeriahan biasanya makin terasa. Pasalnya, bukan cuma masyarakat Baduy Dalam dan Luar saja yang boleh ikutan dalam keramaian, tapi juga masyarakat umum. Bisa dibayangkan, keseruan tradisi seba pada hari terakhir itu. Di momen ini biasanya masyarakat umum bebas berinteraksi langsung, baik dengan masyarakat Baduy Dalam maupun Luar. Sebuah kesempatan yang jelas-jelas amat langka terjadi. Masuk akal, kalau tak sedikit masyarakat umum lalu antusias banget buat bertemu dan berinteraksi.

Kawalu dulu, baru seba

Upacara seba bisa jadi gak akan dihelat, jika sebelumnya gak ada yang namanya ritual kawalu. Harus diakui, seba dan kawalu menjadi tradisi masyarakat Baduy yang gak mungkin dipisahkan. Logis, kalau keduanya masih terus dilestarikan sampai sekarang. Jadi, tanpa kawalu, seba gak bakal ada. Lantas, apa sih kawalu itu?

Kawalu tak lain adalah bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat Baduy atas anugerah Tuhan sehingga panen padi bisa berhasil. Nah, wujudnya adalah dengan berpuasa seharian penuh selama tiga bulan. Praktiknya, dimulai dari pukul lima sore sampai pukul lima sore hari berikutnya. Kawalu pertama dimulai pada Februari dan Maret. Lalu, dilanjut kawalu kedua dan ketiga pada bulan April.

Ritual ini biasanya hanya dijalankan oleh masyarakat Baduy Dalam yang tersebar di tiga kampung: Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik. Dan, selama ritual berlangsung perkampungan tertutup untuk kunjungan. Makanya gak aneh, kalau kampung Baduy jadi sepi banget. Tambah sepi lagi, karena mereka memang enggan melakukan kegiatan di luar rumah. Jadi, bisa jadi Anda gak bakal ketemu warga yang lagi berladang misalnya. Atau, sekadar duduk-duduk santai di depan rumah. Mereka benar-benar lebih memilih berdiam di rumah, sembari berdoa, mohon keselamatan bangsa dan negara, agar selalu aman, damai dan sejahtera.