SCI Apresiasi Pelayanan Operasional Logistik Terintegrasi Kuala Tanjung

0
187
Pelabuhan Kuala Tanjung. Foto: Pelindo I

Jakarta (Samudranesia) – Pelabuhan Kuala Tanjung yang dioperasikan oleh PT Pelindo I memiliki peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah sekitar. Terutama dalam menopang arus logistik yang berada di Pulau Sumatra secara keseluruhan, Pelabuhan Kuala Tanjung merupakan motor penggeraknya.

Terkait itu, Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan apresiasianya kepada PT Pelindo I. Menurut dia, PT Pelindo I berpotensi penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatra melalui peranannya sebagai pengelola sejumlah pelabuhan di wilayah itu.

“SCI mengapresiasi Pelindo I dalam pengembangan ekosistem Pelabuhan Kuala Tanjung. Pelindo I telah bekerja sama dengan DHL Global Forwarding Indonesia dalam memberikan pelayanan operasional logistik terintegrasi dan akan bekerja sama dengan pemain logistik internasional lainnya seperti Amazone dan Alibaba,” ucap Setijadi kepada Samudranesia, Kamis (4/3).

Setijadi berharap dengan berbagai faktor potensial dan dinamika perkembangan tersebut, Pelindo I sebagai operator pelabuhan utama di wilayah Sumatra dapat berperan penting mendorong peningkatan kontribusi wilayah itu hingga 25 persen terhadap PDB dalam beberapa tahun mendatang.

Wilayah Sumatera berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2019 sebesar 21,32 persen dan PDB 2020 sebesar 21,36 persen. Sementara pada tahun 2019 dan 2020 wilayah Jawa berkontribusi berturut-turut sebesar 59,00 persen dan 58,75 persen.

Setijadi menyatakan peningkatan kontribusi terhadap PDB bisa dilakukan dengan memacu volume ekspor komoditas unggulan wilayah dengan dukungan pelabuhan yang efisien. Untuk wilayah Sumatera, beberapa pelabuhan yang dikelola Pelindo I dapat berperan penting, seperti Pelabuhan Belawan dan Pelabuhan Kuala Tanjung.

Komoditas ekspor utama Sumatera Utara adalah lemak dan minyak hewan/nabati yang pada tahun 2019 mencapai USD 2,843 milyar, diikuti karet dan barang dari karet (USD 1,081 milyar), dan produk kimia (USD 810 juta).

“Potensi komoditas itu didukung pelabuhan-pelabuhan yang berlokasi strategis dalam jaringan pelayaran dan rantai pasok global. Pelabuhan Kuala Tanjung, misalnya, berada di tengah Selat Malaka sebagai jalur perdagangan tersibuk di dunia yang dilintasi sekitar 94.000 kapal per tahun,” jelasnya.

Pelabuhan yang ditetapkan sebagai hub internasional itu mempunyai kedalaman kolam -17 meter LWS sehingga dapat mengakomodasi kapal-kapal besar berbobot hingga 50.000 DWT serta berbagai jenis muatan, dari petikemas, curah cair, hingga kargo umum.

Pelabuhan Kuala Tanjung terhubung melalui jaringan jalan tol Trans-Sumatera dan kereta api dengan Kuala Tanjung Industrial Zone (KTIZ). Selain itu Kuala Tanjung juga terhubung dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, yang merupakan pusat industri berbasis kelapa sawit utama di Sumatera bagian utara.

“Konektivitas jaringan transportasi itu sangat mempengaruhi biaya pengiriman barang secara end-to-end. Berdasarkan perhitungan INSA dan Pelni, biaya transportasi hinterland berkontribusi hingga 50 persen dari keseluruhan biaya tersebut,” jelasnya.

“Pelindo I juga mengintegrasikan operasional kepelabuhanan dan industri dalam satu area, yaitu di Pelabuhan Kuala Tanjung Port and Industrial Estate (Kuala Tanjung PIE), sehingga proses-proses produksi dan logistik lebih efisien,” pungkasnya. (*)