Sampah Laut di Pandeglang Kian Menumpuk

0
323
Sampah laut di Pandeglang. Dok Foto: Kemenko Marves.

Pandeglang (Samudranesia) – Tumpukan sampah di bibir pantai Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, beberapa terakhir menjadi sorotan karena tidak diangkut dan dibersihkan oleh pemerintah setempat.

Hal itu menambah citra buruk mengenai laut Indonesia yang selama ini telah dikenal sebagai penghasil sampah laut terbesar nomor dua di dunia.

Guna melihat dan mengidentifikasi permasalahan itu, Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan pada Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Muhammad Suhendar dan tim terjun langsung ke beberapa titik lokasi timbunan sampah, Rabu (20/1).

Suhendar menyampaikan kegiatan ini dilakukan sesuai dengan instruksi pimpinan untuk melakukan identifikasi permasalahan tumpukan sampah di Pantai Desa Labuhan di mana sampah-sampah ini menumpuk dan sudah masuk dalam pemberitaan media massa.

“Saya sempat lihat ada 10 pemberitaan sampah ini dan itu ternyata sudah lama yang belum ada solusinya,” kata Suhendar di Pandeglang.

Suhendar menjelaskan usai melihat langsung kondisi lapangan, diketahui bawah tumpukan sampah tersebut bersumber dari limbah masyarakat yang dibuang ke sungai yang kemudian dibawa ke tengah laut. Karena adanya musim ombak di lokasi tersebut, maka sampah itu kembali terbawa ke tepi pantai dan akhirnya menumpuk sampai saat ini.

Jika musim angin barat maka sampah-sampah tersebut akan terbawa kembali ke daratan, apalagi arah anginnya langsung ke Desa Teluk.

“Di situlah menumpuk terbawa angin, ada upaya dari dinas kabupaten, provinsi, dan masyarakat, tetapi fasilitas untuk mengangkat sampah tersebut masih kurang dibanding suplai sampah yang datang dari laut,” ungkapnya.

Temuan di lapangan ini pun langsung disampaikan Suhendar kepada Asisten Deputi (Asdep) Pengelolaan Sampah dan Limbah pada Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves, Rofi Alhanif.

Tekait hal ini, menurut Rofi adanya tumpukan sampah-sampah tersebut sejatinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang mempunyai nilai tambah kerana jaraknya tidak jauh dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) II Labuan. Dengan kondisi tersebut, sangat memungkinkan untuk dibangun Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) berteknologi refuse derived fuel (RDF) untuk mengolah sampah menjadi bahan baku PLTU tersebut.

Pasca identifikasi lapangan oleh tim, sambung Rofi, dia akan melaporkannya ke pimpinan untuk kemudian dilakukan rapat koordinasi lintas instansi guna mencari solusi.

“Karena sampah ini ternyata selalu ada dan ini terus menerus. Informasi dari masyarakat sampah ini sudah ada sejak lama sehingga penanggulangan tidak bisa hanya dilakukan oleh satu instansi atau unit kerja saja karena sangat berat,” kata Rofi di Jakarta.

Melihat kondisi tersebut, dia mengatakan perlunya kerja sama antarlembaga. “Ini harus keroyokan dan bereng-bareng yang mendorong keterlibatan instansi untuk mendorong masyarakat dalam  mencari solusi-solusi terkait masalah sampah ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pandeglang Kemih Kurniadi, menyampaikan bahwa sampah yang menumpuk itu tidak hanya berasal dari Desa Teluk tatapi juga desa lain atau desa penyangga yang berdekatan dengan Desa Teluk. Kondisi ini diperparah karena masih banyak masyarakat yang membuang sampah dengan sembarangan ke selokan maupun ke sungai.

“Yang akhirnya sampai ke sungai dan sampai ke laut dan kemudian didorong lagi oleh ombak ke tepi,” kata Kurniadi terpisah.

Dia mengungkapkan selama ini pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan sampah yang ada di Desa Teluk dan sekitarnya. Salah satu caranya ialah dengan membuat gerakan bersih-bersih sampah di kawasan tersebut dan saat itu ratusan truk telah mengangkut sampah yang berhasil dikumpulkan dan keruk dari titik timbunan sampah.

Meskipun demikian, Kurniadi menyadari cara yang dilakukan tersebut belum efektif untuk memecahkan permasalahan yang ada di lokasi agar Desa Teluk dan sekitarnya bisa bersih dari sampah.

“Ini juga memecahkan masalah, hanya sifatnya sementara atau sesaat karena akan ada sampah-sampah baru. Kami juga ada program yang bisa atau paling tidak mengurangi sampah tersebut dan berharap bisa menyempurnakan penanganan dengan pola bank sampah. Dibentuk bank sampah di perkampungan, beberapa RT atau per kompleks sehingga bisa menghimpun sampah-sampah yang layak jual,” ujarnya.

Sampah itu, lanjutnya telah ada cukup  lama. “Sampah ini sudah cukup tebal, sebetulnya di bawah tanah itu sampah, dari atas kelihatannya tanah tapi di bawah sebetulnya sampah. Sampah ini kiriman-kiraman terdahulu,” bebernya.

Dia menambahkan seiring dengan kemajuan teknologi saat ini sampah sesungguhnya bisa ditangani. Karena itu, perlu ditangani dengan baik dan Kurniadi yakin dengan pola yang mutakhir akan diterapkan bisa menyadarkan masyarakat bahwa sampah bisa ditangani.

“Kuncinya penyadaran di sumber sampah itu sendiri. kembali ke masyarakat, ke sumber sumpahnya,” tandasnya.

Di samping itu, Kepala Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, Endin Fahrudin menjelaskan bahwa keberadaan sampah di desanya tersebut sudah sekitar 30 tahun lalu. Dia juga menuturkan sudah berbagai upaya yang dilakukan pihaknya bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk mengatasi sampah tersebut.

“Jadi Desa Teluk ini mamang sudah berbuat, bahkan 2018 kita sudah keruk sampah hampir 180 truk,” ungkap Endin.

Endin mengatakan bahwa saat ini ketebalan sampah di bibir pantai tersebut sudah sangat dalam dan penyumbang sampah ini tidak hanya dari desanya saja namun dari beberapa desa lainnya. Ada pun desa-desa itu di antaranya. Selama ini masyarakat masih sering membuang sampah sembarangan ke Sungai Cipunten Agung dan akhirnya terbawa ke laut.

“Sampah ini dibawa aliran sungai ke laut dan saat musim ombak sampah datang lagi. Itu setiap tahun, musim ombak ini enam bulan sekali,” sebutnya.

Sebagai kepala desa, Endin, membutuhkan armada pengangkutan dan eskavator mini untuk mengeruk sampah di desanya. Dia pun berharap dengan adanya Tim Kemenko Marves yang terjun langsung ke lapangan akan membuahkan hasil bagi desanya supaya terbebas dari sampah.

“Mudah-mudahan dengan adanya kunjungan Kemenko Marves ini bisa mewujudkan permintaan Desa Teluk,” tutupnya. (*)