Saatnya Pesta Nyale dan Laor

0
973
Patung Putri Mandalika (istimewa)

Tradisi menangkap dan mengonsumsi cacing laut hanya ada di Lombok dan Maluku. Penelitian mengungkap manfaat luar biasa dari biota laut ini bagi kesehatan.

Dalam bahasa Suku Sasak, Lombok, Bau Nyale memiliki arti menangkap cacing laut. Tradisi ini biasanya berlangsung setiap tanggal dua puluh bulan ke sepuluh dalam penanggalan Sasak. Atau lima hari setelah bulan purnama. Dalam kalender nasional Festival Bau Nyale kerap diadakan di akhir Februari hingga memasuki Maret.

Masyarakat Lombok biasanya akan tumpah ruah di pantai-pantai tempat festival dilangsungkan. Mereka berlomba dan berebut untuk mendapatkan nyale sebanyak-banyaknya. Tak jarang wisatawan, baik asing maupun domestik pun ikut berbaur merayakan festival tersebut.

Dalam budaya Suku Sasak, budaya Bau Nyale lekat dengan cerita tentang Putri Mandalika yang sangat mereka agungkan. Dalam legenda masyarakat Sasak, Putri Mandalika menceburkan diri ke laut karena menolak untuk dinikahkan dengan para pengeran yang meminangnya. Nyale dipercaya sebagai wujud kecintaan sang putri pada rakyatnya.

Beberapa penelitian antropologi menyebut jika tradisi ini muncul karena pengaruh alam dan pola hidup masyarakat petani yang memiliki kepercayaan yang tinggi pada Tuhan. Kehadiran Nyale setelah bulan purnama dipercaya sebagai berkah Tuhan yang harus disyukuri.

Antusias masyarakat menangkap nyale dan mengonsumsinya juga tak lepas dari kepercayaan mereka akan khasiat hewan laut tersebut. Masyarakat percaya jika Nyale bisa menjadi obat herbal bagi segala macam jenis penyakit. Bagi masyarakat tani, nyale ternyata bisa digunakan sebagai obat penyubur padi.
Cacing Berambut

Hasil penelitian Dr. dr. Soewignyo Soemohardjo dari Universitas Mataram menyebut jika Eunice fucata adalah sejenis cacing laut dari filum Annelida, kelas Polychaeta (berambut banyak).

Setiap segmen tubuhnya memiliki sepasang struktur menyerupai dayung yang disebut parapodia yang mengandung pembuluh darah halus. Struktur ini memiliki fungsi sebagai alat gerak, sementara pembuluh-pembuluh halusnya juga berfungsi sebagai organ pernapasan.

Soewignyo yang pernah mendapatkan Habibie Award ini juga menyebut jika Nyale memiliki tubuh yang lentur seperti mi dengan komposisi warna merah, cokelat, abu-abu, dan hijau. Di dalamnya terdapat banyak kandungan nutrisi serta zat-zat yang mampu membunuh kuman.

Hasil penelitian Soewignyo juga menyebut jika nyale termasuk hewan bebas tapi bukan parasit yang hanya bisa hidup di air laut dan sangat sensitif terhadap bahan pencemar. Karena itu kehadiran nyale juga bisa menjadi indikator kesehatan kawasan pantai di Lombok.

Hewan ini juga sangat sensitif terhadap sinar matahari. Karena itulah Festival Nyale selalu berlangsung dini hari sebelum matahari terbit. Saat festival, nyale akan muncul di sepanjang pantai selatan Pulau Lombok. Antara di Pantai Mawun, Kaliantan, Selong Belanak, dan Kuta.

Festival Nyale juga identik dengan festival kuliner. Cacing-cacing yang berhasil dikumpulkan oleh warga lokal akan diolah menjadi beragam jenis makanan. Biasanya warga akan mengolahnya menjadi pepes, dikeringkan seperti rempeyek atau sebagai bumbu penyedap beragam masakan khas Suku Sasak.
Dan, yang paling banyak ditunggu adalah puncak acara yang menghadirkan beragam pentas seni dan budaya serta acara makan-makan nyale massal.