Rokhmin Dahuri Yakin Produksi Lobster Indonesia Bisa Saingi Vietnam dalam Waktu 3 Tahun

0
479
Prof Rokhmin Dahuri kedua dari kiri.

Jakarta (Samudranesia) – Usaha ekspor benih lobster ditambah dengan budidaya lobster akan segera menggeliat di Indonesia. Hal itu secara serius dipelajari oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo beserta jajarannya saat melakukan kunjungan kerja di Australia.

Pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) optimis pembenihan lobster (hatchery) bisa dilakukan di Indonesia. Dalam 3 tahun ini diharapkan, Indonesia mampu menjadi negara penghasil lobster yang menyaingi Vietnam.  

Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan ulasan tersebut saat bertemu dengan para pelaku usaha dan akademisi di Gedung Mina Bahari III, KKP, Jakarta, Selasa (3/3).

“Kemarin saya lihat menetaskan telur (lobster) bisa dilakukan di Tasmania. Semakin digunakan (teknologinya) semakin murah dan efisien. Untuk ekspor benih lobster nanti dikasih kuota dan waktunya akan kita tentukan,” ungkap Rokhmin.

Baca Juga:

Guru Besar Kelautan IPB itu lebih lanjut menyatakan bahwa dirinya juga sudah beberapa kali mengunjungi Vietnam untuk melihat budidaya lobster di sana. Menurutnya pola di sana sangat maju terutama dalam hal pakan dan karakter pembudidayanya.

“Soal pakan di sana ada kerang hijau, karena makanan yang paling lezat bagi lobster itu kerang hijau, itu dibudidayakan di sana, ditambah lagi ikan rucah. Jadi nanti (di sini) pakan kita genjot. Nah faktor yang kedua itu disiplin para pembudidayanya. Dalam membersihkan keramba jaring apungnya itu mereka rutin,” jelasnya.

Masih kata Rokhmin, pasar lobster di Vietnam sangat maju karena juga ditopang oleh sistem logistiknya. China sebagai negara terbesar dijualnya produk lobster Viernam bisa ditempuh oleh jalur darat hanya 8 jam.

“Ini yang paling susah, logistik. Jadi pasar lobster Vietnam ke China itu cuma 8 jam diangkut menggunkanan truk. Kalau di kita kan bisa 3 hari,” tegasnya.

Kendati demikian, Rokhmin yakin jika dalam 3 tahun ini para pelaku usaha lobster kita kompak maka logistic cost-nya bisa ditekan. “Jadi kita main volume, misalnya (Vietnam) bisa 1 juta, kita 3 juta sehingga ongkos kirim bisa di-cover begitu,” ungkapnya lagi.

Dengan seperti itu dia yakin, keuntungan dari ekspor lobster dan benih bukan lagi dinikmati oleh oknum segelintir orang melainkan bisa masuk ke kas negara.

“Saya perkirakan kalau 8 dolar AS (per ekor/benih) sementara kita ada 300 juta, itu sudah 2,4 miliar dolar AS kita terima,” pungkasnya. (Tyo)