Rapid Test Antigen Masih Kalah Akurat dengan PCR, Mengapa diwajibkan?

0
1532

Jakarta (Samudranesia) – Menjelang perayaan Hari Natal 2020 dan libur tahun baru 2021, beberapa kota menerapkan aturan masuk ke wilayahnya. Pemerintah provinsi DKI Jakarta dan Bali, misalnya, mewajibkan setiap pendatang maupun wisatawan yang melakukan perjalanan ke wilayah mereka diwajibkan untuk menunjukkan surat keterangan hasil negatif rapid test antigen paling lama 2×24 jam sebelum keberangkatan.

Sontak pengumuman ini ramai diperbincangkan di media sosial. Pasalnya di tengah-tengah semakin meningkatnya angka kasus penderita Covid-19, pemerintah malah memunculkan istilah-istilah dan aturan baru. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan, bahwa aturan ini diberlakukan guna mengantisipasi lonjakan kasus saat libur Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2021.

Food Drugs Association (FDA) mendefinisikan test rapid antigen sebagai tes untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi virus corona dengan mendeteksi adanya materi genetik atau protein spesifik dari virus tersebut dalam tubuh seseorang.

Lalu apa bedanya dengan uji swab?

Menurut dokter umum sekaligus kandidat PhD di Medical Science di Kobe University, Adam Prabata,  sebenarnya dua istilah tersebut memiliki arti sama. Dilansir dari Kompas.com, menurut Adam tes ini memiliki cara kerja awal mendeteksi protein virus (antigen) dalam jumlah banyak, kemudian antibodi di alat rapid test. “Selanjutnya menghasilkan sinyal positif  test antigen,” ujarnya.

Baca Juga: Tuduhan Korupsi di Kemenhan Bisa Menggangu Penanganan Covid-19

Tak hanya itu, menurut Adam, test ini bisa menunjukan hasil negatif meskipun demikian  pasien masih dinyatakan bisa menjadi penular Covid-19. “Sebab test rapid antigen memiliki sensitivitas maksimal 94 persen dan spesifitas lebih dari 97 persen. “Risiko hasil negatif palsu sangat tinggi, terutama ketika viral load rendah atau sebelum 1-3 hari pra gejala dan sudah lebih dari 7 hari gejala muncul,: kata Adam.

Viral load merupakan prediksi jumlah virus yang ada di dalam tubuh berdasarkan hasil CT-Value PCR. Jika menilik pada tingkat keefektifan, Adam mengatakan masa swab antigen memiliki akurasi tinggi, hampir sama dengan waktu pasien Covid-19 berisiko menularkan ke orang lain. Adapun masa swab antigen akurasi tinggi ini terjadi setelah masa infeksius atau setelah hari ke-10 setelah bergejala.

Seperti apa proses test rapid antigen?

Seperti halnya swab, test dilakukan melalui proses pengmabilan sampel berupa lendir dari dalam hidung maupun tenggorokan dengan metode usap (swab). FDA menyebut jika test memiliki tingkat keakuratan lebih tinggi ketimbang rapid test bisa karena mengidentifikasi virus dalam sekresi hidung dan tenggorokan. Hasil test ini bisa didapatkan hanya dalam waktu hitungan menit saja biasanya sekitar 15 hingga 30 menit.

Namun jika dibandingkan dengan test PCR  (polymerase chain reaction), hasil test ini disebut masih kalah akurat. Karena itu seseorang yang dinyatakan positif setelah menjalani test rapid antigen masih harus dirujuk ke untuk melakukan tes PCR karena bisa saja hasil tes positif palsu. Demikian juga dengan pasien dengan hasil negatif.

Berapa harga rapid test antigen?

Setelah aturan mengenai kewajiban menunjukkan hasil rapid test antigen diumumkan pada 18 Desember 2020, banyak warga yang mengeluhkan tentang besaran biaya tes tersebut yang berbeda-beda di setiap rumah sakit. Merespon hal tersebut, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) akhirnya menetapkan batas harga tertinggi sebesar Rp 250.000 untuk di Pulau Jawa dan Rp 275.000 di luar Pulau Jawa.