Prof. Marsetio Paparkan Pariwisata Maritim sebagai ‘Leading Sector’ Indonesia Masa Mendatang

2
2084
Staf Ahli Menteri Pariwisata, Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio dlaam SIDI Conference 2019 di ITS.

Surabaya (Samudranesia) – Staf Ahli Menteri Pariwisata, Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio menjadi narasumber dalam ‘Sustainable Island Development Initiatives Conference (SIDI Conference) 2019’ yang diselenggarakan di Gedung Riset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Senin (2/9/2019).

Dengan mengangkat tema paparan ‘Pariwisata Maritim Sebagai Leading Sector Indonesia Masa Mendatang’, Marsetio menjelaskan bahwa dengan pariwisata, masyarakat Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonominya dengan baik.

“Presiden Joko Widodo menetapkan pariwisata sebagai leading sector dan sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi wisata maritim yang besar. Pulau-pulau kecil dapat menjadi tempat wisata bernilai ekonomi tinggi, yaitu sebagai wilayah untuk kegiatan pariwisata berkelanjutan, area rekreasi, konservasi dan jenis pemanfaatan lainnya,” kata Marsetio sesuai dilansir dalam indomaritim.id.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut periode 2012-2015 ini lebih lanjut menyebutkan banyak daera potensi wisata bahari Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang bernilai ekonomi tinggi. Ia mencontohkan Wakatobi yang ada Sulawesi Tenggara sebagai marine tourism favorit untuk wisata selam dan snorkeling.

“Selain itu ada Kepulauan Sumbawa yang kaya dengan kebudayaan masyarakat pesisir pantai, ini juga menjadi potensi ekonomi yang besar,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Guru Besar Ilmu Pertahanan Unuiversitas Pertahanan itu menerangkan kembali konsep Poros Maritim Dunia yang didengungkan oleh Presiden Jokowi. Pembangunan Poros Maritim Dunia itu bertumpu pada lima pilar.

Lima pilar tersebut adalah pertama membangun kembali budaya maritim Indonesia, kedua menjaga sumber daya laut dan menciptakan kedaulatan pangan laut dengan menempatkan nelayan pada pilar utama, ketiga memberi prioritas pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim dan keempat menerapkan diplomasi maritim.

“Kemudian melalui usulan peningkatan kerja sama di bidang maritim dan upaya menangani sumber konflik, seperti pencurian ikan, pelanggaran kedaulatan, dengan penekanan bahwa laut harus menyatukan berbagai bangsa dan negara dan bukan memisahkan. Dan pilar kelima adalah membangun kekuatan maritim sebagai bentuk tanggung jawab menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan maritim,” bebernya.

Marsetio juga mengungkapkan dirinya bersama Konjen RI untuk Perth, Dewi Tobing, telah melakukan pertemuan di Perth, Australia. Tujuannya untuk mempromosikan Fremantle – Bali Yacht Race 2020. Rencananya, event ini akan diikuti 220 sampai 240 yacht. Atau akan menjadi route rally terbanyak pengikutnya. Fremantle Bali Yacht Race 2020 akan menempuh rute dari Bali ke Lombok, Labuan Bajo, Selayar, Pare-Pare, Toli-Toli dan Nunukan.

Dengan demikian, lanjutnya, ada tiga pintu masuk kapal kapal yachts dari Australia menuju Kepulauan Nusantara. Dua yg lain adalah jalur Darwin – Kupang dan jalur Brisbane – Debut, Maluku.

“Australia Barat telah menetapkan jalur pelayaran baru Fremantle – Bali pada tahun 2020, yang pada awalnya direncanakan akan diikuti sekitar 200-an kapal layar atau yachts,” kata Marsetio, yang juga menjadi Ketua Bidang Yachts & Cruise Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia

Pendekatan Triple C Dalam Membangun Negara Maritim

Pada konferensi ini, Marsetio juga menyebut pendekatan Triple C untuk membangun Indonesia sebagai negara maritim. C yang pertama adalah contour atau tata ruang dimana pendekatan pembangunan Maritim bukan continental.

“Sedangkan C yang kedua Content atau isi, dimana membangun infrastruktur di kawasan tengah dan timur Indonesia. Dan C yang ketiga Conduct yang bermakna tata laku, yaitu membangun karakter insan bahari menumbuhkan kesadaran maritim menjadi bagian awal tata laku pembangunan maritim,” jelasnya.

Masih kata Marsetio, tinjauan ruang, isi dan tata laku ini sebagai visi maritim bangsa dalam bingkai Wawasan Nusantara sebagai landasan pembangunan nasional.

SIDI merupakan program dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang bekerjasama dengan berbagai organisasi. Berdasarkan info dari situs ITS, SIDI didirikan pada tanggal 10 November 2012, ditandai dengan perjanjian kerjasama antara ITS, Departemen Kelautan dan Perikanan, Bupati Berau Kalimantan Timur dan Wismar University of Applied Sciences dari Jerman).

Melalui SIDI, ITS telah ditunjuk oleh kementerian untuk mengadopsi dua pulau, Pulau Poteran di Kabupaten Sumenep dan Pulau Maratua di Kabupaten Berau. Tujuan dari program SIDI adalah untuk pembangunan dan pemberdayaan pulau-pulau kecil di Indonesia, baik untuk pengembangan konsep pendidikan dan penelitian dan kegiatan-kegiatan yang melibatkan akademisi, mahasiswa, penelitian, pemerintah, industri dan lainnya. (Tyo)

2 COMMENTS