Pertamina Pride Ternyata Berbendera Singapura, Pengamat: Kebanggaan Langsung Luntur!

0
331
Kapal Tanker Pertamina Pride.

Jakarta (Samudranesia) – PT Pertamina International Shipping (PIS) menjamin pasokan minyak mentah ke refinery atau kilang di Indonesia optimal. Pasalnya, baru-baru ini, kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) berkapasitas 2 juta barel bertajuk VLCC Pertamina Pride di Galangan Japan Marine United (JMU) diluncurkan guna menopang operasional PT PIS.

Namun begitu menyayat hati ketika ternyata kapal Tanker berukuran 301,000 DWT itu diketahui berbendera Singapura.

“Awalnya, Pertamina Pride bikin pride alias bangga. Namun, begitu mengetahui bahwa kapal tersebut berbendera Singapura, sontak kebanggan tadi luntur. Ternyata, Pertamina Pride tidak bikin pride,” kata Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi kepada Samudranesia, Rabu (21/4).

Dia pun mengulas bahwa mendaftarkan kebangsaan sebuah kapal ke dalam kebangsaan (baca: register) asing yang berbeda dari kebangsaan pemiliknya atau owner sebetulnya hal yang wajar.

“Dalam kasus owner Indonesia, ada banyak pemilik kapal yang juga mendaftarkan kapal yang mereka punya ke luar negeri. Jadi, sebagai owner, Pertamina bukan yang pertama. Ada sejumlah pertimbangan mengapa para pemilik kapal melakukan langkah seperti itu,” jelasnya.

Pengamat maritim yang dikenal kritis itu membeberkan beberapa alasan. Pertama, untuk mendapatkan keringanan pajak.

“Bagi pemilik kapal, keringanan pajak amat dibutuhkan agar usahanya bisa menghasilkan cuan yang lumayan. Memang, komponen pajak dalam overhead cost pemilik kapal tidak terlalu besar tetapi tetap saja bila ada kemudahan mereka akan terbantu,” ungkap dia.

“Dan, biasanya kemudahan ini banyak diberikan oleh register asing. Sementara pemerintah negara owner cenderung mengenakan berbagai pajak yang mencekik leher,” selorohnya.

Kedua, lanjut dia, untuk menghindari kerumitan teknis di lapangan terkait operasional kapal. Masalah yang satu ini cukup menghantui owner Indonesia. Pasalnya, kapal-kapal berbendera Merah Putih kurang credible di mata internasional.

“Sehingga, demi kelancaran bisnis para owner Indonesia lebih memilih mendaftarkan kapalnya ke dalam kebangsaan asing. Sepertinya, inilah alasan mengapa Pertamina Pride dibenderakan Singapura,” tegasnya.

Masih kata Siswanto, salah satu kerumitan teknis itu adalah soal dokumen statutory atau statutoria ketika kapal berada di pelabuhan di luar negeri dan kebetulan dokumennya bermasalah.

“Maksudnya begini, bila menggunakan bendera Merah Putih, sudah pasti semua dokumen yang dibutuhkan tadi akan dikeluarkan oleh klas lokal, dalam hal ini Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Masalahnya, ketika dokumen itu bermasalah, habis masa berlakunya umpamanya, BKI tidak bisa dihubungi karena tidak memiliki perwakilan di negara pelabuhan tempat kapal terlilit masalah,” ulasnya.

Di lain sisi, Siswanto menambahkan bahwa pendelegasian kewewenangan Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan survei dan penerbitan sertifikasi statutoria kapal berbendera Indonesia yang beroperasi di luar negeri oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, memang hanya diberikan secara ekslusif kepada perusahan tersebut.

“Masalahnya itu tadi. BKI tidak memiliki kantor di luar negeri. Karenanya, pendelegasian perlu juga diberikan kepada IACS (International Association of Classification Societies) yang kantornya ada di seluruh penjuru mata angin. Dengan begini, kasus Pertamina Pride bisa dicegah di masa depan,” pungkasnya. (*)