Penjara Cellular, Jejak Imperialisme Inggris di Andaman

0
1038
Penjara Cellular

Kota Port Blair, Kepulauan Andaman (Nikobar), India, pernah menjadi saksi bisu kebiadaban Imperialisme Inggris dari tahun 1800-an. Kepulauan ini memiliki sejarah Panjang sejak masa India kuno hingga menjadi basis maritim sementara untuk kapal-kapal Maratha pada abad ke-17.

Kepulauan yang konon diambil dari nama Anoman, tokoh Kera Putih dalam kisah Rama dan Shinta ini sarat dengan mitologi India. Kepulauan ini merupakan tempat penyerangan menuju Alengka, kerajaan milik Rahwana untuk menyelamatkan Dewi Shinta yang diculik oleh Raja Alengka tersebut.

Kisah berikutnya, soal Laksamana Kanhoji Angre yang legendaris, juga pernah menggunakan basis pertahanan maritim di kepulauan ini guna melancarkan serangannya kepada pelaut-pelaut kolonial dari Inggris, Portugis, Austria dan Belanda.

Awalnya, Kekaisaran Austria berusaha menjadikan Kepulauan Nikobar ini sebagai koloni mereka. Koloni tersebut didirikan pada tahun 1778. Sebelumnya koloni ini merupakan koloni Denmark. Usaha pengklaiman kepulauan ini oleh Austria dimulai dari Maria Theresia dan Joseph II yang pada tahun 1760-an hendak mendirikan pos perdagangan di Asia guna mendistribusikan produk Austria.

Kendati Austria adalah kerajaan berbasis di daratan, namun pada tahun 1778, kapal “Joseph dan Maria” berhasil mencapai kepulauan Nikobar, yang baru saja ditinggalkan oleh Denmark. Denmark menyerah setelah kebanyakan warganya meninggal akibat penyakit malaria. Pada 12 Juli 1778, penduduk asli menandatangani dokumen yang menyerahkan empat pulau (Nancowry, Kamorta, Trinket dan Katchal) kepada Austria.

Hanya berselang 3 tahun, tepatnya pada tahun 1781, para kolonis protes akan sedikitnya air minum dan makanan, tetapi Wina mengindahkannya dan meninggalkan koloni tersebut. Ketika pemimpin koloni meninggal tahun 1783, usaha membuka koloni Austria berakhir bersamanya.

6 tahun dianggap daerah tak bertuan, koloni Inggris (Britania Raya) berupaya membangun koloni kembali  pada tahun 1789-1796. Namun, karena daerah ini begitu terisolir, Inggris pun tak fokus mengurusi kepaulauan ini. Akhirnya, usaha kedua dilakukan dari tahun 1858. Tujuan utamanya adalah untuk mendirikan koloni tempat penahanan para pejuang kemerdekaan dari India.

Britania Raya menggunakan kepulauan ini sebagai penjara yang terasing untuk anggota Gerakan Kemerdekaan India. Cara penahanan disebut Kalapan. Penjara Cellular di Port Blair disebut sebagai “Siberia” Kemaharajaan Britania. Karena daerah ini ibarat gurun tandus yang sulit air dan memiliki cuaca ekstrem.

Banyak para pejuang India mengakhiri hidupnya di penjara ini, yang terkenal ganas baik alam maupun perilaku dari para tantara Inggris yang menjadi sipir di penjara ini.

Kepulauan ini diperintah oleh Kepala Komisioner Provinsi yang bertugas untuk menjaga Penjara Cellular. Inggris melanjutkan pendudukannya sampai Jepang melakukan invasi dan pendudukan terhadap kepulauan Andaman selama Perang Dunia II.

Pasca Kemerdekaan India pada 15 Agustus 1947, para founding fathers India pun mengenang kepualauan ini sebagai tempat bersejarah. Di sini lah bersemayam banyak arwah pejuang India yang menggelorakan kemerdekaan dari imperialisme Inggris.

Kunjungan Delegasi TNI AL

Dalam rangka persiapan MILAN Exercise di Port Blair, 10-14 Desember 2017, para delegasi TNI AL yang dipimpin oleh Kolonel Laut (P) Salim, juga berkesempatan mengunjungi penjara legendaris ini. Menurut Salim, Bangsa India sangat menghargai jasa pahlawannya.

“Tempat ini dijadikan Restricted Area Permit. Meskipun pembangunan terbelakang namun terawat dengan baik bekas-bekas peninggalan sejarahnya. Hebatnya lagi adalah tidak ada investor asing yang diijinkan untuk membangun wilayah ini oleh pemerintah India,” ujar Salim.

Kolonel Laut (P) Salim

Melihat dinding-dinding penjara ini, ia dapat merasakan ganasnya Imperialisme Inggris sebagai sejarah yang meluluh lantahkan siapa saja yang ingin merdeka. Dengan dilengkapi oleh benteng-benteng yang kokoh di sekitar penjara, menjadi bukti bahwa siapa pun yang dipenjara di sana jangan harap bisa meloloskan diri.

Namun keganasan penjara Cellular ini dapat dijawab oleh Mahatma Gandhi bersama rekan-rekannya untuk mewujudkan kemerdekaan India. Caranya bukan dengan kekerasan dan perjuangan fisik, melainkan dengan kekuatan hati yang kuat di dalam aspek sosial, budaya dan ekonomi.

“Imperialisme bisa digambarkan kalau di Gurun Sahara sangat berbahaya ibarat seekor ceetah yang luka kelaparan. Oleh karena itu, imperialisme sangat membahayakan umat manusia,” seloroh Pamen TNI AL yang sehari-hari menjabat sebagai Kasubdis Strategi, Taktik dan Operasi Mabesal tersebut.

Kekejaman penyiksaan terhadap suatu bangsa tidak bisa dilepaskan begitu saja oleh ingatan. Imperialisme bukan hanya merupakan sistem atau nafsu menaklukan suatu negeri dan wilayah negara lain, tetapi juga mempengaruhi sistem ekonomi dan budayanya.

Seperti prinsip Gandhi, perlawanan terhadap imperialisme  tidak perlu dilakukan dengan kekuatan senjata atau meriam, bahkan dengan menggunakan kapal perang sebagaimana yang diartikan oleh Van Kol. Akan tetapi, hanya dengan menggunakan secara halus dengan memutar lidah yang berjalan dengan “Penetration Pacifque”.

“Berkat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memperjalankan saya, sehingga diberi kesempatan melihat tempat bersejarah bagi para pejuang India dalam melawan Imperialisme. Perjalanan ini akan menjadi energi yang baik untuk kita semua agar terus melawan imperialisme,” pungkasnya.