Pengamat Intelijen: Islam yang Saya Pelajari Adalah Islam Yang Cinta Sesama

0
143
Dosen Universitas Pertahanan (Unhan) RI Dr. Susaningtyas NH Kertopati,M.Si

Jakarta (Samudranesia) – Pengamat militer dan intelijen Dr Susaningtyas NH Kertopati meluruskan pemberitaan mengenai paparannya dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Medcom bertajuk “Taliban Bermuka Dua Ke Indonesia”, Minggu 5 September 2021.

Nuning biasa disapa, mengutarakan penjelasannya dalam acara tersebut menimbulkan kesimpangsiuran pemberitaan, sehingga perlu pelurusan atau klarifikasi atas pernyataan-pernyataannya dalam acara tersebut

“Sebagai umat Islam tentu saya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio Terorisme. Saya sebagai muslim secara sadar sangat menghormati Islam sebagai agama saya. Ajaran Islam yang saya pelajari adalah agama yang cinta sesama bahkan juga dengan Umat Beragama Lain. Islam Rahmatan Lil Alamin. Jadi saya tidak mungkin menuduh agama Islam sebagai embrio Terorisme,” ujar Nuning kepada media, Rabu (8/9).

Mantan Anggota Komisi I DPR ini membeberkan sejumlah riset yang dilakukan oleh berbagai kalangan mengenai embrio Terorisme di Indonesia. Menurut dia embrio itu tumbuh dari sistem pendidikan Islam yang dilakukan dengan salah kaprah.

“Saya pun menyampaikan apa adanya berbagai temuan terkait dengan embrio Terorisme (Radikalisme), termasuk cikal bakalnya yang tumbuh berkembang diawali dari dunia pendidikan di negara kita. Hal ini yang saya utarakan pada webinar tersebut,” jelasnya.

“Tentu saja tidak semua Lembaga Pendidikan Berbasis Muslim itu bisa dikatakan sebagai embrio Radikalisme atau bahkan Taliban. Masih ada yang mengikuti peraturan perundangan yang berlaku. Soal pendidikan itu, sudah ada banyak lembaga yang sudah meriset hal ini,” tambahnya.

Adapun permasalahan meruncing karena ada media yang menulis tidak lengkap atas keterangannya, sehingga menyulut kemarahan serta kesalahpahaman terhadap Nuning.

“Perlu saya tambahkan, saya sangat menjunjung tinggi adat budaya Indonesia yang adhiluhung dan rasa cinta tanah air Indonesia, sehingga tentu apa yang saya sampaikan tidak lain tidak bukan karena saya ingin mengajak serta bangsa ini memiliki patriotisme dalam Bela Negara,” tegasnya.

Terkait dengan Bahasa Arab, Nuning sangat respect dengan Bahasa tersebut. Ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa bahasa Indonesia.

“Dalam hal ini mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya. Sebagai catatan memang saya pun sangat mengkhawatirkan terjadi glorifikasi menangnya Taliban di Afganistan oleh sel-sel tidur terorisme di sini. Terkait hal ini tentu juga sudah sering dibahas oleh para ahli terorisme yang kita miliki, jadi bukan hanya saya saja,” pungkasnya. (*)