Penerapan New Normal, Bisnis Pelayaran Makin “Ketar-Ketir”

0
711

Jakarta (Samudranesia) – Sejak pertempuran global melawan wabah Covid-19 dikumandangkan pada awal tahun ini, pemerintah memunculkan gagasan New Normal. Anggapan bahwa pemerintah RI sudah tidak mampu mengatasi wabah ini terus bermunculan.

Direktur National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi berpandangan bahwa bidang kemaritiman juga bersiap menyambut New Normal. Sektor pelabuhan, pelayaran, logistik dan lain-lain dikabarkan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk itu. Ia menilai bisnis di sektor itu makin ketar-ketir dengan adanya penerapan new normal ini.

“Salah satu normal baru yang akan digeber pada sektor pelabuhan, pelayaran, dan lain-lain itu adalah pemanfaatan Internet dan berbagai aplikasi teknologi informasi (TI). Ya, digeber karena barang-barang ini sudah dijalankan jauh sebelum Covid-19 merajalela oleh pelaku usaha. Internet dan aplikasi TI dipakai untuk memesan kontainer dan truk, ada pula untuk melaporkan posisi/pergerakan kapal sehingga memudahkan proses penyandaran kapal di dermaga,” ujar Siswanto kepada Samudranesia, Jumat (29/5).

Tidak jelas selama masa pandemi ini apakah semua itu makin meningkat pemanfaatannya, biasa-biasa saja atau bahkan menurun. Menurut Siswanto, secara logika, pastilah menurun. 

Wong, bisnis utama yang ditopang oleh Internet dan aplikasi TI itu, dalam hal ini bisnis pelayaran, melorot drastis karena Covid-19. Kalaupun ada peningkatan, paling pemakaian bandwidth Internet korporasi yang melonjak signifikan karena digunakan untuk video conference. Hemat saya, biaya untuk urusan yang satu ini bakal membengkak jika new normal diterapkan kelak,” bebernya.

Dalam sektor usaha pelayaran, Siswanto menyebut ada bagian yang namanya pelayaran penumpang atau cruise line. Diperkirakan usaha ini akan terdampak cukup dalam bila new normal diterapkan bila tidak hendak dikatakan sekarat (dying). Dari semua bagian sektor pelayaran, pelayaran penumpang adalah yang paling banyak dijangkiti oleh virus corona.

“Sayang, respon operator pelayaran cruise dunia terbilang lambat dibanding sektor pelayaran lainnya. Makanya jumlah orang yang terjangkit pun paling tinggi di antara berbagai jenis usaha pelayaran,” jelasnya.

Pengamat maritim yang dikenal kritis ini menyebut, salah satu penyebabnya, sikap keras kepala operator cruise. Mereka tidak segera membatalkan pelayaran wisata yang sudah diprogram dan mengembalikan uang tiket (refund). Penumpang akhirnya terpaksa tetap melakukan pelayaran sementara wabah corona sudah mengharu biru di bebagai belahan dunia.

“Semarang sempat disandari oleh kapal pesiar internasional dan memantik kontroversi di dalam negeri apalagi sepasang suami istri asal luar negeri yang menumpangi kapal itu sempat dilarikan ke rumah sakit setempat karena ada gejala. Sebab lain, kapal penumpang adalah alat angkut yang paling banyak membawa penumpang di antara moda lainnya. Sehingga, sulit sekali melakukan physical distancing,” bebernya.

Indonesia merupakan salah negara yang amat tersengat dengan penyebaran virus corona di atas kapal pesiar. Pasalnya ada puluhan ribu anak Indonesia yang bekerja sebagai pelayan di atas berbagai hotel terapung di dunia seperti Carnival Cruise Line, Cunard Line, American Cruise Line, dan sebagainya. Kini, sedikit demi sedikit mereka dikirim balik oleh operatornya. Gelombang pertama sekitar 800 lebih anak buah kapal (ABK) sudah tiba di pelabuhan Benoa, Bali, beberapa waktu lalu.

Ratusan lagi sudah menyusul masuk dan terus akan masuk hingga berjumlah, menurut data Kementerian Perhubungan, 20.000 ABK. Di Indonesia sendiri kasus terpapar virus corona di atas kapal penumpang juga lumayan banyak dibanding pelayaran lain. Sejauh ini kapal yang dioperasikan oleh PT Pelni paling mendominasi sebagai tempat penjangkit. Perusahaan BUMN itu kini telah menyetop operasi kapal penumpang namun tetap menjalankan kapal perintis Sabuk Nusantara.

“Bagaimanakah bisnis pelayaran penumpang ini di masa new normal yang segera akan menjelang? Apakah normal baru akan membunyikan lonceng kematian bagi operator cruise line?” tanya Siswanto.

Masih kata dia, sebelum virus corona merebak, bisnis kapal penumpang internasional relatif moncer. Kapal-kapal pesiar yang dioperasikan oleh operator utama dunia selalu fully booked. Di Indonesia situasinya berbeda seratus delapan puluh derajat. Pelayaran penumpang dalam negeri sudah terseok-terseok sejak penerbangan berbiaya murah (low cost carrier) beroperasi.

“Penumpang yang biasanya menggunakan kapal laut untuk membereskan urusan mereka di tempat jauh beralih menggunakan pesawat. Dengan harga tiket pesawat yang relatif tidak berbeda jauh dengan harga tiket kapal laut, jelas mereka pilih pesawat dong. Nyaman, bergaya dan, yang paling penting, cepat sampai tujuan,” jelasnya lagi.

Lanjutnya, Covid-19 membuat posisi kedua operator pelayaran penumpang itu kini sama. Mereka sama-sama tersengal. Sebagaimana diketahui, operator pelayaran penumpang internasional masih mengandangkan untuk sementara kapal-kapal mereka. Wacana new normal yang bergaung di seantero penjuru mata angin tentu mendorong pemiliknya melayarkan kembali armada mereka.

“Bisnis pelayaran penumpang di zaman new normal akan berbeda jauh dengan kondisi normal lama. Kapasitas kapal tidak bisa lagi diisi penuh karena adanya kewajiban physical distancing. Kapal pun harus sering-sering disterilisasi agar virus corona punah. ABK mesti mendapat seragam kerja baru yang disesuaikan dengan protokol kesehatan. Alat perlindungan diri (APD) harus tersedia cukup di atas kapal untuk jaga-jaga,” ungkap Siswanto.

Di darat, operator kapal dihadapkan dengan perubahan prosedur pelayanan kapal penumpang yang diberlakukan oleh otoritas pelabuhan. Semua ini tentu saja ada biayanya. Sayangnya, biaya-biaya tidak terduga itu sulit ditutup dengan pendapatan operasi yang akan terpangkas lebih dari 50 persen karena pembatasan jumlah penumpang yang boleh diangkut di zaman new normal nanti.

Terakhir Siswanto menilai pelayaran dalam negeri telah memiliki likuiditas yang sudah menjadi masalah jauh sebelum wabah corona datang. New normal akan membuat masalah ini makin berat. Ia mengungkapkan saat ini, penumpang kapal di dalam negeri sudah berkurang hampir lima puluh persen, biisa jadi lebih.

“Di sisi lain, likuiditas pelayaran penumpang pelat merah banyak ditopang oleh subsidi negara. Dengan kondisi keuangan negara yang makin berat dihajar pandemi, bisa-bisa subsidi ini disetop. Kalau sudah begini, normal baru sama dengan membunyikan lonceng kematian bagi operator kapal penumpang domestik? Entahlah,” tandasnya. (Rei)