Pembangunan Pelabuhan Terintegrasi Diperlukan untuk Wujudkan Poros Maritim Dunia

0
650
Pelabuhan Kuala Tanjung

Jakarta (Samudranesia) – Pemerintah tengah berupaya mengembangkan sepuluh destinasi tujuan wisata baru dengan membangun pelabuhan kelas dunia untuk memfasilitasi kapal pesiar, salah satunya di Benoa sebagai pintu gerbang wisata maritim di Indonesia. Komitmen Pemerintah melalui Pelindo III melakukan pengembangan atau revitalisasi kawasan pelabuhan Benoa menjadi home port cruise, diharapkan akan menjadi pelabuhan utama kapal pesiar terpadat di Indonesia.

Dr. Eng, Lukijanto, mewakili Kemenko Kemaritiman dan Investasi, diundang untuk menyampaikan kebijakan pemerintah terkait manajemen pengelolaan pelabuhan kepada para peserta Program Port Academic Series 2020, yang digagas oleh The Water Agency bekerja sama dengan The Royal Boskalis Westminster, Perusahaan Van Ord, dan Port of Rotterdam – Belanda.

“Dengan memerhatikan potensi ekonomi maritim Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 1,33 triliun/tahun. Salah satu industri yang paling menjanjikan dan meningkat dalam ekonomi maritim adalah pariwisata. Dan pengembangan Pelabuhan Benoa diharapkan akan bisa menopang target 20 juta kunjungan wisatawan yang dicanangkan pemerintah Indonesia pada 2020,” kata Pengajar Senior Port Academy 2020, Lukijanto, di Jakarta pada Rabu (17/6).

Tak hanya mengembangkan pelabuhan kelas dunia untuk memfasilitasi wisatawan, pemerintah juga mencanangkan pembangunan Integrated Port Network (IPN) atau jaringan pelabuhan terintegrasi untuk kepentingan industri. Dr. Eng, Lukijanto mengatakan, adanya integrasi antar-pelabuhan dan terciptanya keterhubungan antar-wilayah merupakan pengejawantahan dari visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

“Jaringan pelabuhan terpadu adalah perwujudan dari visi Indonesia sebagai poros maritim dunia, dimulai dengan mengintegrasikan pelabuhan sebagai satu sistem kemudian menghubungkan pelabuhan ke kawasan industri, sehingga menciptakan konektivitas,” kata Lukijanto, Kepala Bidang Pengembangan Logistik Maritim Terpadu Kemenko Marves (2017-2020), yang sekarang menjabat sebagai Kabid Infrastruktur Sumber Daya Air dan Rekayasa Pantai, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi.

Pentingnya pengenalan IPN untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak terkait berbagai konsep dan perkembangan terkini tentang pengelolaan pelabuhan, perdagangan dan juga sistem logistik nasional yang lebih efisien dan terkoneksi hingga ke pelabuhan rakyat dengan melakukan integrasi pembangunan backbone dan intermoda. Dr. Lukijanto kemudian menjelaskan lebih lanjut dengan memberikan studi kasus.

Ia mengatakan, Wilayah Bekasi, Karawang, dan Purwakarta dikenal sebagai jantung zona manufaktur terbesar di Indonesia, tentu sebagian besar perusahaan akan berpikir untuk meningkatkan efisiensinya, dengan mengurangi biaya logistik (biaya transportasi, penyimpanan, atau pelabuhan) untuk setiap pengiriman produknya. Di sana telah tersedia Cikarang Dry Port dengan menawarkan biaya penyimpanan & pelabuhan yang kompetitif.

“Dengan penerapan konsep Hub and Spoke inilah, sehingga menguntungkan perusahaan dalam pengurangan biaya transportasi, impor ekspor pun langsung dapat dilakukan tanpa batas, oleh karena pengurusan Bea Cukai & Karantina secara formalitas dapat diselesaikan di Cikarang Dry Port secara langsung, sehingga tidak akan ada waktu tinggal (dwelling time) yang lama di pelabuhan Tanjung Priok,” ujar Lukijanto.

Lebih lanjut, Dr. Lukijanto pun memberikan catatan bahwa pembangunan Integrated Port Network ini perlu dukungan sistem digital dalam end to end, mengoperasikan pelabuhan.

“Dalam mewujudkan jaringan pelabuhan terpadu, pelabuhan harus dijalankan oleh sistem untuk menjalankan layanan digital dalam operasi pelabuhan untuk meningkatkan efisiensi. Salah satu pelabuhan yang telah berhasil menerapkan ini adalah Indonesia Port Corporation atau PT. Pelindo II, di mana keberhasilan dan kehandalan operasionalisasi pelabuhan, telah dilihat secara langsung oleh Peserta Port Academy Series 2020,” ucap Lukijanto. (Tyo)