Pelayaran Tak Ditutup, Daerah 3TP Rentan Terpapar Covid-19

0
650
Pelayaran di daerah 3TP masih terus berjalan di tengah pandemi Covid-19.

Jakarta (Samudranesia) – Wabah Covid-19 kini sudah terjadi di atas kapal penumpang domestik. Sejumlah anak buah kapal (ABK) yang dioperasikan oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) terpapar oleh virus corona dan dinyatakan positif. Belakangan, penumpang pun ada yang positif terjangkit Covid-19 setelah menumpang kapal milik BUMN tersebut.

The National Maritime Institute (Namarin), sebuah lembaga yang berkecimpung dalam pengkajian kemaritiman, prihatin sekali dengan kondisi yang ada. Sayangnya, melihat penanganan penyebaran wabah corona di atas kapal oleh pemerintah, Namarin mengkhawatirkan penyebaran pandemi tersebut akan masif khususnya di daerah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan (3TP).

“Kapal-kapal Pelni itu beroperasi hingga sampai ke pelosok negeri yang kita kenal dengan istilah 3TP (cat: tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan). Sayangnya, kemampuan pemerintah, fasilitas kesehatan dan peralatan pemantauan wabah penyakit di wilayah seperti itu amat terbatas. Ini yang menjadi kekhawatiran kami,” ucap Direktur Eksekutif Namarin, Siswanto Rusdi dalam pesan elektroniknya kepada Samudranesia, Jumat (17/4).

Menurutnya, protokol pencegahan Covid-19 untuk kapal yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan memang sudah dijalankan saat penumpang dan ABK akan berlayar. Masalahnya, mengacu kepada berbagai kasus penyebaran virus corona di atas kapal di luar negeri, mereka tetap saja bisa terjangkit. Karena kapal tidak sepenuhnya bebas dari virus corona.

“Kurang canggih apa kapal induk AL AS USS Theodore Roosevelt dan kapal induk AL Prancis Charles de Gaulle, tetap saja ratusan awaknya positif terpapar wabah corona,” tegas Siswanto.

Lanjut dia, pemerintah harus betul-betul mewaspadai penyebaran Covid-19 melalui dan di atas moda transportasi laut, terutama di daerah 3TP yang minim fasilitas kesehatan. Sudah tentu pencegahan Covid-19 di daerah tersebut tidak semasif di kota-kota besar atau daerah maju lainnya.

“Dan, cara terbaik untuk itu adalah dengan menghentikan sementara operasi kapal-kapal penumpang Pelni, baik kapal reguler maupun perintis. Hal ini juga berlaku untuk armada kapal penumpang atau kapal barang yang dipakai untuk mengangkut penumpang milik operator lain,” tandasnya. (Tyo)