Orang Laut, Hidup dan Matinya Bertumpu di Atas Perahu

0
1750
ok. selinatika2704.blogspot.com

Tanjung Pinang (Samudranesia) -Menggantungkan hidup di atas perahu memang bukan hal yang biasa. Artinya, lahir, kemudian menjadi dewasa dan menikah hingga akhirnya meninggal melulu hanya di atas perahu. Tentu gaya hidup seperti ini bukan cuma unik, tapi juga sangat langka. Bagaimana tidak, gaya hidup itu muncul di tengah kebanyakan atau hampir semua orang di muka bumi ini, apapun sukunya, hidup di daratan.Salah satu dari komunitas yang gaya hidupnya terbilang langka itu adalah Suku Laut atau biasa juga disebut Orang Laut.

Masyarakat dari suku yang satu ini cukup unik. Mereka, dari lahir, lalu tumbuh dewasa dan menikah hingga akhirnya menemui ajal tertumpu di atas perahu. Tak heran, kalau mereka kemudian disebut Orang Laut, karena hidup mereka full di atas perahu yang terombang-ambing kerasnya gelombang laut. Jadi, buat mereka, perahu bukan lagi sekadar moda transportasi semata, lebih jauh dari itu adalah rumah atau tempat tinggal mereka.

Baca Juga: Orang Laut Mampu Taklukan Buaya Buas Hanya dengan Mantra

Penasaran, ingin tahu uniknya gaya hidup Orang Laut? Nggak sulit. Mereka bisa ditemui, jika Anda mengunjungi Kepulauan Riau. Tersebar di banyak pulau kecil di gugusan kepulauan yang ada di provinsi itu. Dari catatan sejarah, memang harus diakui ada versi soal keberadaan mereka yang dikaitkan dengan legenda. Sementara dari versi lain, beranggapan bahwa Orang Laut diperkirakan sudah ada di Kepulauan Riau sejak 2.500 – 1.500 SM dan merupakan turunan dari Suku Melayu asli.

Soal nama, sejauh ini Suku Laut sebenarnya punya sebutan yang lumayan banyak. Nama-nama tersebut ada yang didasarkan pada nama pulau tempat mereka tinggal, seperti: Orang Mantang, Suku Laut yang memang tinggal di Pulau Mantang, Orang Mapor, karena mereka menghuni Pulau Mapor, dan Orang Tambus, karena tinggalnya di Pulau Tambus. Orang Laut yang kesehariannya menggunakan bahasa Melayu ini sering juga dijuluki sea forager atau sea gypsies, serta sea folks. Bisa begitu, karena kebiasaan mereka yang hidup sebagai pengembara. Dan, di Kepulauan Riau tak sedikit pula yang menyebut mereka Orang Pesukuan. Satu hal yang perlu juga dicatat, umumnya masyarakat Suku Laut yang tidak lagi hidup no maden, rata-rata sudah memeluk agama yang berkembang di sana. Seperti contoh mereka yang menetap di daratan pulau yang tersebar di Kepulauan Riau, bahkan di Bangka Belitung dan sekitarnya.

Terkait perahu yang menjadi alat transportasi sekaligus rumah mereka, boleh dibilang tidaklah terlalu besar ukurannya. Panjangnya hanya sekitar 7,5 m, lebar 1,8 m dan biasanya terbuat dari kayu meranti, resak, seraya ataupun kamper. Perahu tersebut terbagi menjadi tiga bagian: haluan, lambung dan buritan. Semua dibuatkan lantai, khusus bagian lambung dibuat dua lantai. Pada lantai bawah yang berupa cekungan dijadikan tempat penyimpanan perbekalan. Dan, di atas perahu itulah segala aktivitas Suku Laut, termasuk mencari nafkah, sebagai nelayan dilakukan.

Suku Laut yang hampir seluruh hidupnya bergantung pada laut, bukan berarti antidaratan. Pastinya, tidak. Pasalnya, pada waktu-waktu tertentu mereka juga suka atau tidak diharuskan menepi. Dan, tinggal selama sekitar tiga bulan di daratan. Ini dilakukan, biasanya ketika musim tertentu di laut yang tidak bersahabat, seperti angin dan ombak yang sangat besar. Dan, pada momen seperti ini Orang Laut kerap memanfaatkannya untuk melakukan perbaikan perahu dan lain sebagainya.

Sekilas tentang perahu atau sampan Orang Laut, jika ditelisik, sebenarnya ada beberapa macam. Di antaranya, sampan merena, ukurannya agak besar dan dilengkapi kajang. Lalu, sampan pokcai, biasanya untuk mengangkut kayu bakar, sampan melayu atau anak sampan berukuran kecil dan sampan apolo yang bisa digunakan untuk aktivitas di lumpur.

Seperti suku-suku lain yang hidup di daratan, Orang Laut juga pastinya dihadapkan pada momen-momen alamiah sebagai mahluk hidup, dari kelahiran, perkawinan hingga kematian. Bisa jadi, buat suku-suku lain menghadapi peristiwa ini sangat membingungkan. Masuk akal, karena tak biasa. Tapi, buat Suku Laut jelas bukan masalah. Untuk proses kelahiran misalnya. Bidan atau dukun yang membantu proses itu ikut naik sampan. Proses tersebut biasanya dilakukan pada bagian lambung sampan. Lalu, haluan dan buritan sampan ditutup kain.

Setelah lahir, sang bayi diberi nama.

Terkait ini, Orang Laut punya prinsip yang simpel. Karena, buat mereka, nama hanyalah sekadar pembeda antarindividu, bukan garis kekerabatan. Jadi, kerap nama itu dibuat dengan merujuk pada alam sekitar, misal Kilat. Berbeda dengan Orang Laut yang sudah menetap di darat. Nama tak jarang disesuaikan dengan agama yang dianut. Ada yang unik dari proses kelahiran itu, sang bayi biasanya  langsung dicelup ke laut, di bawah sampan. Ini merupakan simbol bahwa setelah besar, sang bayi hidupnya tetap di laut.

Momen spesial lain Orang Laut di atas perahu adalah pernikahan. Terkait ini, jauh sebelumnya anak-anak mereka biasanya “dijodohkan” dengan sepupu satu atau sepupu dua dari kerabat dekat. Menurut keyakinan mereka, bentuk perkawinan yang baik adalah dengan sepupu. Alasannya, untuk melindungi keutuhan kelompok, tambahan lagi pasangan ini dianggap memiliki kebiasaan serta pemahaman yang baik atas lingkungan tempat mereka hidup dan bekerja. Juga, sistem perkawinan ini ditengarai bisa mencegah perpecahan.     

Lokasi pesta perkawinannya dihelat di dua tempat. Selain di sampan kecil, tempat kedua mempelai duduk bersila, juga di bibir pantai. Untuk diketahui, dalam perhelatan ini kerap diadakan atraksi pencak silat, seperti juga tradisi Melayu. Nah, di pantai itulah lokasinya. Lalu, keluarga pengantin beserta saudara dan para tamu menyaksikan atraksi itu dari atas sampan.

Khusus Orang Laut Bintan biasanya ada tradisi hantaran dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Isinya perlengkapan perempuan, dari baju, kain, dua buah cincin, hingga lipstik. Juga, tak lupa dilengkapi pula kapur sirih dan pinang, serta disisipkan uang sebesar Rp 44 ribu. Soal jumlah, biasanya berupa kelipatan 22 ribu, 44 ribu, 88 ribu dan seterusnya. Dan, hantaran ini menjadi suatu keharusan. Makanya, jika ada kekurangan, keluarga perempuan berhak memintanya.

Tradisi lain adalah saling suap makanan, berupa telur rebus oleh kedua mempelai di atas sampan. Lalu disusul pemberian ucapan selamat dari saudara dan kerabat secara bergantian, dengan mendekatkan sampan mereka ke sampan pengantin yang hanya cukup memuat kedua mempelai saja. 

Terakhir, tentang kematian. Karena hidup belum menetap di darat, tak aneh jika Orang Laut tidak memiliki lokasi pemakaman yang tetap. Untuk itu, jika ada yang meninggal dunia, biasanya dimakamkan di pulau terdekat. Berbeda pada zaman dulu, jenazah dimakamkan di laut di pedalaman. Sekarang tak sedikit yang sudah menganut agama tertentu, seperti Islam, Katolik atau Kristen, maka pemakaman pun menurut ajaran agamanya. Khusus Orang Laut yang belum beragama, biasanya mengikuti cara pemakaman ajaran Islam. Cuma bedanya, tak ada salat jenazah ataupun doa sesuai Islam.

Masa berkabung bagi keluarga yang ditinggalkan biasanya berlangsung selama tiga hari. Setelah itu, aktivitas kehidupan pun berjalan seperti biasa. Ada hal yang menarik, biasanya mereka juga melaksanakan ritual peringatan kematian. Mulai 3 hari, 7 hari, 40 hari hingga 100 hari pascakematian.  Pihak keluarga menyiapkan makanan untuk tamu undangan dan juga makanan yang dipersembahkan bagi arwah. Untuk menjamu para tamu, pihak keluarga biasanya menyiapkan pelbagai hidangan. Mulai dari nasi, ayam, pulut hingga minuman kopi atau teh. Selain itu, disediakan pula sesajen untuk arwah yang diyakini akan dimakan oleh almarhum. Plus, harapan dan doa agar keluarga yang ditinggalkan akan mendapat ketenangan dan dijauhkan dari bencana.