OP Tanjung Priok Pastikan Kegiatan Ekspor-Impor Tetap Berjalan di Tengah Gangguan CEISA

0
222
Kepala OP Tanjung Priok Dr Capt Wisnu Handoko.

Jakarta (Samudranesia) – Mitigasi menghadapi permasalahan seiring gangguan jaringan Custom-Excise Information System and Automation (CEISA) milik Bea Cukai di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta sejak hari Kamis (8/7), salah satunya adalah upaya PT Pelindo II (Persero) atau IPC yang patut diacungi jempol. Solusi dari IPC mampu meredam kongesti maupun kemacetan parah di Terminal 3 pelabuhan tersebut.

Hal itu tersirat dalam acara konferensi pers yang digelar KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, dihadiri Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Capt Wisnu Handoko beserta Kesyahbandaran Utama, Balai Besar Karantina Pelabuhan, PT Pelindo II (Persero) atau IPC, pimpinan operator terminal kontainer dan non kontainer di pelabuhan Tanjung Priok, Senin (19/7).

Capt Wisnu Handoko menjelaskan, pada hari Kamis tanggal 8 Juli 2021 terjadi gangguan pada sistem elektronik layanan kepabeanan atau CEISA yang berdampak tidak lancarnya penerimaan dan pengeluaran barang dari pelabuhan, terutama kegiatan bongkar muat ekspor-impor yang diangkut melalui pelabuhan internasional Tanjung Priok.

Melihat langkah IPC berdasarkan Surat Edaran Kepala OP Utama Tanjung Priok nomor UM.006/13/19/OP.TPK-2021 tanggal 15 Juli 2021 tentang Antisipasi Dampak Perbaikan Aplikasi CEISA Di Pelabuhan Utama Tanjung Priok, dengan segera menyiapkan buffer lapangan penumpukan di Lapangan Digul, Lapangan Adhiguna, Lapangan Ketel Uap, Lapangan Ex Inggom, Lapangan 225X dan Lapangan terminal 009.

IPC juga berupaya meringankan beban para pengguna jasa kepelabuhanan dengan kebijakan extend closing time serta pembebasan denda atau keringanan storage progressive. Tujuannya agar pelayanan bongkar/muat kapal di pelabuhan Tanjung Priok tetap berjalan normal

Bahkan guna mengantisipasi terjadinya kongesti, pihak manajemen IPC dapat memanfaatkan lapangan ekspor terkait penumpukan container impor, melakukan unlock capacity dengan optimalisasi lahan yang ada serta pemindahan lokasi sebagian container impor ke TPS lini 2.

“Berdasarkan laporan operator terminal kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok pada evaluasi kondisi di setiap terminal menunjukkan rata-rata Yard Occupancy Ratio (YOR) impor masih di bawah 80 persen, dan ekspor di bawah 60 persen. Kondisi ini diperkirakan masih dapat menampung kapal MLO yang akan datang sampai akhir pekan,” kata Capt Wisnu Handoko, Senin (19/7).

“Sedangkan khusus bagi kegiatan muatan reefer kontainer berisi sayuran, buah-buahan dan alat kesehatan akan diberikan prioritas, untuk bisa diselesaikan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB)-nya. Kapasitas penampungan kontainer reefer di setiap terminal masih cukup menampung kapal yang akan datang, jika reefer kontainer yang ada lebih cepat dikeluarkan,” jelasnya.

Untuk diketahui bersama, selama jaringan CIESA terganggu, pihak KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok memiliki daftar layanan yang dapat diajukan secara manual, di antaranya pengajuan dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB), layanan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB), layanan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB), serta Nota Pelayanan Ekspor (NPE), dan beberapa layanan penting lainnya. (*)