Mitos-Mitos Keliru Tentang Tsunami

1
964

 

Sejarah selalu mencatat, setiap terjadi tsunami, banyak korban berjatuhan.  Fenomena itu tak hanya terjadi di Indonesia, Chile, Thailand, dan Sri Lanka. Bahkan di Jepang yang memiliki budaya pengetahuan tsunami yang jauh lebih baik juga mengalami hal serupa.

Sejarah juga mencatat, setiap kejadian tsunami, ada sebagian warga yang diberi mukjizat sehingga selamat. Dari dua catatan sejarah tersebut, ada pelajaran berharga. Mereka yang selamat karena memiliki pengetahuan tsunami. Sebaliknya, bagi yang tak paham tsunami, menjadi korbannya.

Berdasarkan catatan, selama periode tahun 1600 sampai Mei 2012 terjadi sekitar 110 tsunami di Indonesia. Dari jumlah itu, sekitar 90% di antaranya disebabkan gempa tektonik di laut, 9% akibat letusan gunung api di laut, dan hanya 1% dipicu oleh tanah longsor di laut. Akibat tsunami tersebut ratusan ribu jiwa meregang nyawa. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil hancur akibat dilanda tsunami.

Kawasan pesisir yang berpotensi terkena tsunami tersebar mulai dari pantai barat Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa dan Bali, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Teggara, Maluku, pantai utara Papua, serta hampir seluruh pantai timur dan barat Sulawesi bagian utara.

Hingga kini, sekitar 35 peristiwa tsunami menghantam pesisir di laut Banda yang meliputi Flores, Timor, Kepulauan Banda, Kepulauan Tanimbar, Seram, dan Pulau Buru. Selanjutnya, 32 peristiwa tsunami menerjang pesisir yang  berada di Laut Maluku termasuk Sangihe dan Halmahera.

Bukan hanya itu. Sekitar 20 kejadian tsunami melanda pantai barat Sumatera. Sementara itu, pantai selatan Jawa, Bali, pantai utara dan selatan Lombok, Sumbawa, serta Sumba pernah dihantam 11 kali tsunami. Lalu, Selat Makasar pernah diterjang 9 kejadian tsunami. Sedangkan pesisir sebelah utara Papua pernah dihantam 3 kali tsunami.

Dibandingkan dengan Indonesia, mengapa korban tsunami Jepang 2011 relative kecil? Salah satu faktornya adalah karena masyarakat Jepang memiliki pengetahuan tsunami yang sangat baik. Pengetahuan yang baik tentang tsunami akan menolong selamat dari tsunami. Lalu, apa mitos-mitos yang selama ini berkembang di masyarakat yang membuat mereka menjadi korban, termasuk juga di Jepang di masa lalu?

Mitos eliru

Mitos pertama adalah tsunami terjadi akibat gempa yang kuat.Pada tsunami Mentawai misalnya, masyarakat terlanjur memiliki mitos yang keliru. Mereka beranggapan, tsunami selalu didahului oleh getaran gempa bumi yang sangat kuat.

Pengetahuan ini mereka peroleh dari pengalaman gempa Bengkulu (2007). Gempa tersebut terasa kuat hingga ke Mentawai. Banyak rumah rusak dientak gempa. Kendati demikian, tsunami tak terjadi.

Memori inilah yang melekat di benak mereka ketika 25 Oktober 2010Mentawai digoyang gempa dan getarannya lemah. Mereka pun merasa aman-aman saja dan tidak melakukan evakuasi. Mereka beranggapan, gempa yang kuat saja tidak menimbulkan tsunami, apalagi jika getaran gempanya  lemah, mustahil akan diikuti tsunami.

Apa boleh buat mitos keliru tersebut harus dibayar mahal. Sekitar 14 menit setelah gempa, tsunami menyapu mereka yang tak sigap. Sekitar 450 orang saudara kita di Mentawai tewas mengenaskan. Fakta menunjukkan hampir 10 persen tsunami yang terjadi di dunia akibat gempa bumi di laut yang getaran gempanya dirasakan lemah.

Mitos kedua adalah tsunami didahului laut surut secara mendadak.Contoh dari mitos keliru ini adalah ketika terjadi tsunami akibat gempa di Samudra Hindia, 26 Desember 2004. Sebagian masyarakat Sri Lanka memiliki mitos bahwa tsunami akan didahului laut surut secara mendadak. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata mereka keliru, tsunami langsung menyapu kawasan pesisir, tidak didahului oleh laut surut mendadak.

Mitos keliru ini harus dibayar mahal, sekitar 38.000 orang tewas tersapu tsunami. Fakta menunjukkan, hampir 10 persen tsunami di seluruh dunia tidak didahului laut surut mendadak. Hal ini juga terjadi di Papua akibat Tsunami Jepang 2011.

Mitos ketiga adalah bahwa tsunami tidak terjadi ketika getaran gempanya kuat, di musim dingin, dan langit yang cerah. Mitos ini terjadi di Jepang. Pada 15 Juni 1861 langit di Sanriku berawan tebal dengan cuaca sangat panas dan lembab. Getaran gempa terasa sangat lemah. Setelahi tu, Sanriku disapu tsunami dahsyat setinggi 38 meter dan meluluh lantakkan apa saja yang dilaluinya di pesisir.

Berdasarkan peristiwa tersebut, masyarakat lalu membuat mitos sendiri: “Jika getaran gempa lemah maka tsunami yang terjadi besar dan tsunami terjadi pada musim panas ketika udara lembab dan hujan.”

Ketika pengetahuan ini diceritakan turun-temurun maka berkembanglah mitos keliru berikut ini: “Apabila getaran gempa kuat maka tsunami yang terjadi kecil, tsunami tidak terjadi pada musim dingin, dan tsunami tidak terjadi di hari cerah.”

Setelah puluhan tahun berlalu, tepatnya 3 Maret 1933, Sanriku dientak gempa kuat pada musim dingin dengan cuaca cerah. Apa yang terjadi? Para orang tua yang menganut mitos keliru tadi tenang-tenang saja alias tidak melakukan evakuasi. Mereka yakin, tsunami tidak terjadi ketika getaran gempanya kuat, di musim dingin, dan langit yang cerah.

Sekali lagi, mitos keliru ini harus dibayar mahal; korban pun berjatuhan. Padahal tsunami dapat terjadi pada gempa di laut yang lemah atau kuat dengan berbagai kondisi cuaca apapun. Syarat terjadinya tsunami adalah gempa di laut berkekuatan lebih dari 6,5 SR, pusat gempanya kurang dari 60 km, dan terjadi deformasi vertikal dasar laut yang cukup besar.

Mitos keempat, gelombang pertama tsunami merupakan gelombang terbesar. Akibat mitos keliru ini seorang warga Holtekamp Jayapura menjadi korban Tsunami Jepang2011. Setelah gelombang pertama setinggi satu meter yang menghantam Holtekamp pukul 21.15 WITberlalu, dia bermaksud kembali ke rumah. Tetapi apa daya, ia dihantam gelombang kedua setinggi 2-3 meter yang datang pada pukul 21.50 WIT. Fakta menunjukkan tsunami terdiri dari 1- 5 gelombang dengan gelombang ke-2 atau ke-3 yang terbesar.

Peringatan Dini

Kita selalu panik dan tidak sigap manakala terjadi gempa di laut yang memang tidak dapat diramalkan kapan terjadinya secara pasti. Oleh karena itu untuk menghindari korban jiwa, yang perlu dilakukan adalah mendeteksi terjadinya tsunami.

Ada beberapa langkah  yang dilakukan untuk mendeteksi terjadinya tsunami. Tahap awal adalah dengan menentukan lokasi sumber gempa bumi yang terjadi di laut secara cepat dan tepat. Lalu, perlu juga menganalisis apakah gempa bumi itu berpotensi menimbulkan tsunami. Terakhir mengonfirmasi kejadian tsunami dengan hasil pengamatan permukaan laut.

Untuk mendapatkan parameter gempa bumi dengan cepat dan tepat dibutuhkan dua sistem pengolah dan analisa data; otomatis dan interaktif. Hasil analisa otomatis harus dievaluasi untuk mengetahui apakah gempa bumi yang terjadi di laut berpotensi menimbulkan tsunami. Artinya, setidaknya ada tiga syarat;  pusat gempa bumi berada di dasar laut, kedalaman gempa bumi kurang dari 60 km,  magnitude gempa bumi lebih besar dari 6,5 SR.

Jadi, jika ketiga syarat itu terpenuhi maka peringatan dini tsunami segera dibuat. Selanjutnya, informasi semacam ini disampaikan kepada aparat  berwenang dan media massa agar  segera disiarkan kepada masyarakat pesisir.

Informasi dini itu harus dievaluasi lagi dengan data hasil pengamatan perubahan permukaan air laut. Data ini diperoleh dari sistem pengamatan pasang surut laut atau peralatan pemantau permukaan laut lainnya seperti buoy, kabel bawah laut yang dipasang sensor, radar dan lain sebagainya.

Hal ini disebabkan karena walaupun ketiga syarat yaitu gempa terjadi di laut dengan kekuatan lebih besar 6,5 SR dan pusat gempa kurang dari 60 km telah terdeteksi dan terpenuhi namun masih belum dapat dipastikan benar tidaknya gempa di laut tersebut menimbulkan tsunami. Mengapa demikian? Karena alat pendeteksi gempa tidak dapat mendeteksi terjadinya deformasi verikal dasar  yang dapat menimbulkan tsunami.

Jika hasil pengamatan permukaan air laut  mengindikasikan adanya tsunami, peringatan harus segera disebar luaskan. Sebaliknya bila tidak ada tanda-tanda perubahan permukaan air laut, maka peringatan dini dapat dibatalkan.

Indonesia sebenarnya telah memasang beberapa buoy di perairan Samudera Indonesia untuk pemantau perubahan permukaan air laut akibat gempa di laut. Namun sayang, buoy tersebut banyak yang hilang diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Kelemahan sistem buoy disamping rentan dicuri (vandalism), sensornya juga rentan ditempeli trintip yang akan mengganggu kinerja sensor pemantau perubahan muka air laut.

Kearifan Lokal

Lalu bagaimana kiatnya agar selamat dari terjangan tsunami? Cara paling sederhana, praktis, dan mudah adalah belajar dari kearifan lokal di beberapa daerah. Masyarakat di Pulau Simelue misalnya, sudah lama memiliki tradisi smong, segera angkat kaki ketika merasakan gempa.

Mereka pun berduyun-duyun melakukan evakuasi menuju dataran tinggi agar tidak tersentuh gelombang tsunami. Berkat smong itulah, kendati kawasan pesisir Simelue luluh lantak disapu tsunami 26 Desember 2004 namun hampir semua masyarakatnya selamat.

Kearifan lokal Inamura no hi di Jepang juga layak dijadikan pembelajaran. Jauh sebelum teknologi peringatan dini tsunami berkembang seperti saat ini, seorang tokoh masyarakat, Hamaguchi, punya kiat tersendiri. Di kegelapan malam, pada tahun 1854, kawasan Wakayama digoyang gempa.

Ia merasakan ada sesuatu yang ganjil, namun tak mungkin memberitahu kepada semua penduduk pantai untuk melakukan evakuasi. Dalam sekejap, ia pun mengambil obor, menuju bukit, dan membakar sawah dan lumbung padi. Kondisi ini memaksa penduduk berbondong-bondong ke bukit untuk melihat kobaran api yang sangat mencolok tadi.

Taktik Hamaguchi berhasil. Begitu  penduduk sampai di bukit, tsunami menyapu perkampungan yang sudah ditinggalkannya itu. Mereka akhirnya selamat dari terjangan tsunami.

Belajar dari berbagai kisah nyata tersebut,  kita patut membudayakan kearifan lokal. Dengan begitu, kita selalu sigap dan dapat hidup tenang di bawah ancaman tsunami yang setiap saat meneror.

Penulis: Subandono Diposaptono, Penulis buku Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami.