Tahun Baru yang Berselimut Duka

0
495
Dok. KalderaNews.com

Jakarta (Samudranesia) – Langit kelam seolah enggan menghentikan langkah meski cuma sesaat. Dengan pongahnya terus membelenggu setiap jejak perjalanan waktu yang mengusung beragam kehidupan anak manusia. Ragam tahun baru yang sejatinya penuh warna-warni. Tapi secuil pun nyaris tak juga mau mencuat. Pasalnya, corona telah merenggut warna-warni itu dan mengubah nuansa menjadi penuh duka.

Dan, duka itu pun bagai menyelimuti setiap ruang hati anak manusia. Bahkan lebih dari itu, mengisi setiap celah di antara mereka. Tak heran, itu menjadi sulit dibantah, kalau isi bumi ini tak lain hanyalah kumpulan manusia dan corona semata. Selebihnya ada gumpalan duka yang beratnya luar biasa di sudut kalbu manusia. Duka yang tercipta sebab ulah corona yang setiap saat mengusik jejak-jejak anak manusia. Mereka pun lantas menderita dan amat tersiksa, lalu ujung-ujungnya terkapar, meninggal dunia.

Aksi corona yang mematikan itu tak terasa mampu menguasai dunia di rentang waktu setahun lamanya. Jika dikilas menurut tanah kelahirannya di Wuhan sana. Dan, di Indonesia sendiri baru pada awal Maret corona mulai bertingkah. Dan kini, ketika waktu akan mengakhiri perjalanannya di ujung tahun ini, corona nampak sekali belum juga menunjukkan rasa bosannya membunuh dan membunuh lagi setiap anak manusia yang ditemuinya.

Dari penelusuran tak sedikit anak manusia yang harus kehilangan nyawa akibat diamuk corona. Untuk tingkat dunia tercatat lebih dari 82 juta kasus, per 30/12/2020. Lalu, yang sembuh mencapai 58 juta lebih, dan yang positif 22 juta lebih. Dan, di waktu yang sama di Indonesia corona telah mengakibatkan 735.124 kasus positif, sembuh 603.741 orang, dan sebanyak 21.944 harus meregang nyawa.

Kondisi ini harus diakui memang miris sekali. Sebab, sejak awal pemunculannya jumlah korban tak pernah mengenal kata “rehat” meski cuma sesaat. Yang terjadi malah sebaliknya, bertambah dan terus bertambah. Padahal, demi membungkam ulah corona, Pemerintah tak pernah berhenti melakukan segala upaya. Sayang, hasilnya nyaris belum pernah membuat semua semringah.

Lantas, adakah yang salah dari setiap langkah yang diambil Pemerintah? Rasa-rasanya tidak ada. Malah, tak berlebihan, kalau sikap Pemerintah dalam menangani badai corona terlalu bijaksana. Bukan cuma menggulirkan peraturan demi kebaikan semua, tapi juga bantuan sosial, khususnya buat mereka yang terdampak. Lihat saja, berbagai jenis bantuan disasar untuk sejumlah lapisan masyarakat sejak corona mulai merajalela. Tetap saja tak juga kondisi jadi berubah.

Tak berlebihan, melihat fakta seperti ini sangat mungkin kalau kesalahan tersebut ada pada masyarakat. Jelas. Realita yang tergambar di lapangan, banyak sekali anggota masyarakat yang jauh dari kata taat. Tentunya, tidak taat terhadap aturan Protokol Kesehatan, tetap sering berkerumun, dan banyak pula yang masih tidak percaya dengan keberadaan corona. Rasanya logis, jika kondisi pandemi ini kian menjadi. Kondisi yang cepat atau lambat akan membuat mahluk yang bernama manusia bisa sirna, dan dunia pun sarat akan penghuni baru corona namanya.

Tapi, yang pasti harapan untuk membalikkan keadaan tetap selalu ada. Manusia bisa menguasai sekaligus menaklukkan corona. Dengan satu syarat,  tak ada lagi istilah apriopri, lalu semua Protokol Kesehatan dipatuhi. Karenanya, bukan tak mungkin, ke depan di saat-saat tahun baru datang akan selalu menjadi momen bahagia dan tak ada lagi duka. (guss)