Menuju Era Smart Logistics

0
1063
Ketua DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi.

Jakarta (Samudranesia) – Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) telah siap untuk mendukung program National Logistic Ecosystem (NLE) yang tengah dikembangkan oleh Kementerian Keuangan RI. Tujuan dari adanya program itu ialah mempertemukan pelaku usaha logistik baik ekspor maupun impor di dalam satu platform untuk saling bertukar informasi dengan konsep API (Application Programming Interface).

Menurut Ketua DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi, pihaknya sudah membangun ecosystem collaboration melalui pengembangan digitalisasi Smart Logistics melalui Website ALFI (ilfa.or.id) dan terkoneksi dengan platform digital yang disebut Digico (digico.id). 

“Pengembangan platform digital dilakukan secara bertahap, saat ini modul yang siap adalah modul impor, ekspor, track and trace, yang telah mencakup lebih dari 150 negara. Selanjutnya pengembangan rantai pasok sampai dengan ke last mile delivery,” kata Yukki dalam keterangannya, Rabu (4/12).

Selain itu, tambah Yukki, ALFI juga kembangkan platform digital itu dalam IoT (Internet of Thing) di pergudangan, depo dan data exchange (pertukaran data) cross border, tak lupa sektor Perbankan dan Asuransi untuk menunjang Trade Financing.

“Tahap awal Track and Trace yang saat ini dikembangkan tentunya meliputi transportasi laut, darat dan udara. Untuk keamanan digital ALFI juga melakukan kerja sama dengan Peruri Digital Security,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, intinya adalah collaboration di mana konektivitas digital ini bisa dilakukan secara seamless dan end to end tanpa ada proses intervensi manual. Karena dalam era keterbukaan saat ini tidak ada yang bisa bergerak sendiri dan dibutuhkan kolaborasi baik dari dalam maupun luar negeri.

“Pentingnya kolaborasi digital platform sehingga menjadi satu ecosystem akan membuat seamless synergy di antara para pemangku kepentingan baik pemerintah maupun swasta,” pungkasnya. 

Pada era sekarang ini sistem digitalisasi sangat dibutuhkan untuk mempermudah laju logistik. Bahkan besarnya potensi bisnis pengiriman berbasis digital membuat banyak investor melirik bisnis ini.

Berkenaan dengan beberapa kebijakan telah dibuat Bea Cukai untuk memperlancar proses logistik dan perdagangan internasional. Kebijakan-kebijakan itu antara lain advance manifest system, export simplification for CBU Vehicles, web-based import and export system, export simplification for CPO and drivatives, D/O Online System, elektronik SKA, TPS Online System, serta autogate system. 

Namun sayang, peringkat LPI (Logistics Performance Index) Indonesia pada 2018 menempati urutan ke 46 masih berada di bawah Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Singapura. Hal ini disebabkan belum adanya platform digital yang mempertemukan pelaku usaha sektor logistik dari sisi permintaan dan persediaan, sehingga timbul informasi asimetris. (Tyo)