Menjaga Tradisi lewat Festival Lembah Baliem

0
1379
Dok. kostisolo.co.id

Wamena (Samudranesia) – Lembah ini memang luas sekali. Kalau ditarik garis panjangnya mencapai 80 km dan lebar sekitar 20 km. Yang bikin kagum, lembah ini nampak indah banget. Keindahan yang asli alamiah, karena nyaris belum terjamah. Keren. Bukan cuma itu. Udaranya pun sejuk banget. Bisa jadi, karena lembah ini berada di ketinggian 1.600 m di atas permukaan laut. Pokoknya, memandang lembah yang berada di Pegunungan Jayawijaya ini benar-benar menyenangkan.

Lebih asyiknya lagi datang ke lembah ini bertepatan dengan perhelatan sebuah kegiatan akbar, Festival Lembah Baliem, namanya. Ya, di sini setiap tahun, persisnya setiap bulan Agustus dihelat festival tersebut. Nama festival yang juga mengadopsi nama lokasinya, Lembah Baliem. Bisa dibayangkan, sambil menikmati eksotisme lembah ini, pengunjung disuguhi atraksi yang amat menghibur. Pastinya menyenangkan banget.

Festival Lembah Baliem memang punya daya pikat yang kuat. Tak heran, jika pamor kegiatan ini sudah mendunia. Bagaimana tidak, festival ini berisi replika dari sebuah tradisi yang sudah berlangsung lama secara turun-temurun. Kegiatan tersebut berupa pertunjukan perang dari sejumlah suku yang berdiam di Lembah Baliem. Mereka adalah Suku Dani, Lani dan Yali. Konon, kegiatan perang antarsuku ini diklaim sebagai lambang kesuburan sekaligus kesejahteraan.

Festival Lembah Baliem untuk pertama kali dihelat pada 1989 dan berlangsung selama tiga hari. Sebagai pemicu yang memunculkan konflik antarsuku tersebut biasa berkisar penculikan warga, atau penyerbuan ladang yang baru dibuka hingga pembunuhan anak suku. Dari skenario itulah perang antarsuku tersebut timbul. Terjadi penyerbuan oleh suku yang merasa dirugikan dalam konflik tersebut. Masing-masing suku yang terlibat dalam peperangan pastinya mengirim prajurit terbaik yang mereka miliki. Plus, dilengkapi pula tanda-tanda kebesaran yang mereka punya. Namun, pertikaian itu tak lantas menimbulkan balas dendam. Mereka tetap memegang teguh tema yang mereka usung dalam kegiatan ini. Yakni, Yogotak hubuluk motog hanoro, artinya “Harapan akan hari esok yang harus lebih baik dari hari ini”.

Bisa jadi buat yang pertama kali menyaksikan Festival Lembah Baliem sedikit kesulitan membedakan prajurit yang terlibat. Yang mana prajurit dari Suku Dani, Lani maupun Yali. Buat mengenalinya bisa diteliti dari koteka yang mereka pakai. Untuk prajurit Suku Dani biasanya koteka mereka relatif kecil. Lalu, mereka yang dari Suku Lani lebih besar. Pasalnya, rata-rata tubuh mereka memang lebih besar. Dan, untuk prajurit dari Suku Yali, koteka-nya panjang dan ramping diikatkan dengan sabuk rotan ke pinggang.

Sedikit mengulik tentang Suku Dani dalam konteks perang antarsuku ini. Buat mereka, berperang adalah demi mempertahankan desa mereka atau membalas dendam bagi anggota suku yang gugur. Sementara dari kacamata para ahli, perang buat Suku Dani tak lebih dari ajang unjuk diri menunjukkan kehebatan dan kemewahan kostum dengan segala pernak-perniknya. Jadi, bukan semata karena perang, lalu membunuh musuh.

Lewat perang ini Suku Dani juga ingin menunjukkan kompetensi sekaligus antusiasme. Lagi-lagi, bukan karena ingin membunuh. Untuk momen ini mereka biasanya menggunakan senjata berupa tombak yang panjang 4,5 m, serta busur dan anak panah. Dan, untuk mereka yang terluka atau terbunuh dalam perang ini, maka sesegera mungkin akan dikeluarkan dari arena.

Zaman boleh saja berubah, dan menjadi modern. Tapi, sikap suku-suku di kawasan Lembah Baliem patut diacungi jempol. Mereka tetap menjunjung tinggi adat istiadat. Ini terlihat dari perhelatan Festival Lembah Baliem yang secara rutin diselenggarakan tiap tahun. Lebih jauh lagi, nampak jelas dari kostum yang mereka digunakan. Konsisten pada kostum adat mereka yang pastinya khas banget. Lihat saja pakaian pria Suku Dani dengan koteka-nya.

Agar diketahui, koteka ini dibuat dari kulit labu air yang dikeringkan. Lalu, dilengkapi juga dengan penutup kepala yang terbuat dari bulu cendrawasih atau kasuari. Berbeda dengan para wanitanya. Mereka mengenakan rok, terbuat dari rumput atau serat pakis yang biasa mereka sebut sali. Dan, ketika mereka membawa babi atau hasil panen ubi, biasanya menggunakan tas tali atau sering disebut noken, diikatkan di kepala.

Festival Lembah Baliem tak hanya diramaikan oleh atraksi perang antarsuku, tapi masih ada sejumlah kegiatan lain. Salah satu yang sangat meriah adalah Pesta Babi. Hewan ini dimasak dengan cara yang unik, di bawah tanah. Kemudian diiringi pula dengan pertunjukan musik serta pelbagai jenis tari tradisional asli Papua. Tak lupa pula, dipamerkan pelbagai barang seni dan kerajinan asli buatan tangan yang tentunya untuk dijual. Bagaimana tertarik ingin menyaksikan langsung festival yang diperkirakan diikuti sekitar 40 suku itu? (guss)