Menjadi Motor Ekonomi, Sektor Perikanan Budidaya Perlu Banyak Terobosan

0
486
Tambak udang, salah satu andalan budidaya. Dok Foto: KKP

Jakarta (Samudranesia) – Sektor perikanan budidaya yang menjadi fokus Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam menopang ekonomi rakyat sesuai instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerlukan banyak terobosan.

Salah satunya dengan mengembangkan kajian ilmiah dan perencanaan bisnis yang matang. Langkah ini sekaligus untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan menambah pendapatan negara.

“Seperti yang kita ketahui, perikanan budidaya mendapat perhatian Bapak Presiden Joko Widodo, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan mendapat mandat untuk mengoptimalkan produksi perikanan budidaya sebanding dengan potensi yang dimiliki,” ujar Menteri Sakti Wahyu Trenggono saat memberi sambutan pada kegiatan Temu Stakeholder Akuakultur yang diselenggarakan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) secara daring di Kantor KKP, Jakarta (2/3).

Pada kegiatan yang dihadiri para stakeholder bidang akuakultur tersebut, Trengggono memaparkan dua terobosan terkait perikanan budidaya. Pertama, KKP fokus pada produk ekspor komoditas unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi, yaitu udang, lobster dan rumput laut.

“Komoditas udang dipilih menjadi prioritas berdasarkan data ekspor tahun 2020 volume ekspor udang Indonesia mencapai 239.227 Ton dengan nilai USD2,04 miliar. Untuk peningkatan produksi dan ekspor udang, KKP akan memfasilitasi pengembangan shrimp estate yakni sistem budidaya dengan skala intensif, dengan target produksi berkisar 40 ton per hektare per tahun,” ucap Trenggono.

Komoditas lainnya yaitu lobster dengan volume ekspor tahun 2020 mencapai 2.022 ton dengan nilai USD75.25 juta.

“Lobster dikembangkan melalui korporasi budidaya yang diharapkan dampaknya dapat menyentuh masyarakat, salah satu strategi yang dilaksanakan adalah membuat suatu model kawasan budidaya lobster,” jelasnya.

Selanjutnya komoditas rumput laut, Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua setelah China, dengan volume ekspor tahun 2020 sebesar 195.574 ton dengan nilai mencapai USD279,58 juta.

“KKP mengupayakan pembinaan dan sosialisasi kepada masyarakat dengan menggalakkan penggunaan bibit kultur jaringan, pembangunan kebun bibit, penyaluran penjemuran rumput laut, dan penyediaan gudang rumput laut yang menerapkan Sistem Resi Gudang. Sementara dari aspek hilir, akan dibangun pabrik pengolahan rumput laut, sehingga dapat mendorong ekspor produk turunan rumput laut,” bebernya.

Terobosan kedua, lanjut Trenggono yakni pengembangan kampung budidaya dengan konsep Corporate Farming. Kampung perikanan budidaya ini mensinergikan berbagai potensi untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha perikanan budidaya, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah.

Beberapa yang dikembangkan adalah kampung bioflok lele, kampung bioflok nila, kampung kerapu, kampung kakap putih, kampung lobster, kampung rumput laut, kampung patin, kampung lobster dan kampung ikan hias.

“Akuakultur adalah jawaban untuk membangun sektor perikanan Indonesia yang memiliki aspek pembangunan yang terdiri dari teknologi yang menjadi motor, lingkungan, sosial ekonomi dan pasar yang menjadi pertimbangan komoditas unggulan. Dimana keterlibatan stakeholder perikanan budidaya berperan penting dalam mencapai kesejahteraan pelaku usaha budidaya,” imbuh Trengggono

Sementara itu, Ketua Umum MAI Rokhmin Dahuri mendukung langkah konkret KKP dalam mengembangkan sektor perikanan budidaya. Rokhmin juga memberikan saran mengenai komoditas lain yang memiliki nilai tinggi untuk peningkatan perikanan budidaya.

“Kebijakan Pak Menteri mengenai perikanan budidaya pada penilaian kami itu sangat konkret dan kami akan mendukung, namun ada saran dari kami untuk menambahkan kerapu, kepiting, kakap dan nila, karena demand internasional untuk ekspor sangat tinggi. Kami sangat berharap Pak Menteri dapat memberi arahan kepada kami, sehingga mimpi Bapak Presiden, cita-cita Pak Menteri, dan kami semua untuk perikanan budidaya ini menjadi kenyataan,” jelas Rokhmin. (*)