Mengkhawatirkan Dahsyatnya Bom Hidrogen Korea Utara

0
370
Rudal Balistik Hwasong-16 yang dipamerkan Korea Utara pada parade militer 10 Oktober 2020 (Ist)

Internasional (Samudranesia) –  Pamer kekuatan militer yang dilakukan Korea Utara terus berlangsung setelah berbagai olok-olok dunia internasional ditujukan kepada negara tersebut. Setelah mengarak sebuah unit rudal balistik berdaya ledak hingga 3 ton, negara pimpinan Kim Jong Un ini dikabarkan tengah membangun dua unit kapal selam yang akan difungsikan sebagai peluncur rudal balistik tersebut.

Parade militer yang menampilkan rudal balistik dengan nama kode Hwasong-16 terjadi pada 10 Oktober 2020 lalu dalam rangkaian peringatan hari ulang tahun ke-75 Partai Buruh, partai berkuasa di negara tersebut, di Pyongyang. Parade ini sendiri berlangsung  sangat tertutup dari media asing maupun warga asing.

“Parade tersebut menunjukkan bahwa Hwasong-16 dapat meluncurkan muatan sekitar 2.500 hingga 3.000 kg ke target mana pun di daratan AS, itu hampir dua kali lipat bobot Hwasong-15 yang sekitar 1.500 kg saja,” ungkap Michael Elleman, analis pertahanan rudal senior di International Institute for Strategic Studies seperti dikutip Yonhap dari 38 North, sebuah situs intelejen AS yang memantau pergerakan Korea Utara.

Pada saat parade Hwasong-16 terlihat diarak menggunakan Transporter Erector Launcher (TEL) dengan 22 roda. Dari TEL yang mengangkutnya itulah Elleman menyakini jika rudal balistik tersebut memiliki bobot dua kali lipat dari Hwasong-15.

Pun demikian, Ellemen malah menduga bahwa rudal yang dipamerkan saat parade adalah palsu dan sekedar gertakan. Alasannya, Korut ketahuan memamerkan rudal palsu pada perayaan serupa di tahun 2012.

Seperti banyak diberitakan sebelumnya, Korut menjadi olok-olokan banyak pengamat militer di dunia setelah pada tahun 2012 dan 2013 negara ini memamerkan rudal pada parade militer Partai Buruh. Setelah diselidiki rudal-rudal tersebut ternyata hanya maket alias palsu.

Kapal selam

Di tengah-tengah berita tentang Hwasong-16, informasi mengenai upaya Korut membangun armada kapal selam juga muncul kembali. Armada siluman yang ditengarai sedang dipersiapkan sebagai pelengkap rudal balistik ini diberitakan memiliki teknologi tenaga nuklir.

Informasi mengenai dua unit kapal selam ini menguap menjelang pembicaraan tingkat tinggi antara Korea Selatan dan International Atomic Energy Agency (IAEA) yang akan berlangsung pekan ini. Pembicaraan tentunya akan berfokus pada program nuklir Korea Utara.

Upaya Korut membangun kapal selam diyakini cukup masuk akal mengingat selama ini armada kapal selam yang mereka miliki tergolong sudah berumur tua dan memiliki kemampuan terbatas. Pada Juli dan Agustus 2019, Korut pernah melakukan serangkaian ujicoba peluncuran rudal balistik dari kapal selam mereka. Langkah tersebut diduga merupakan respon Kim Jong Un atas aktivitas latihan militer Amerika Serikat dan Korea Selatan sebelumnya.

Rudal dengan yang ditembakan dari kapal selam secara teori akan memiliki daya ledak kuat dan kemampuan jangkau target yang lebih tinggi. Penggunaan kapal selam juga membuat rencana penembakan rudal menjadi sulit terdeteksi.

Rajin berinovasi

Korut diketahui semakin ‘rajin’ melakukan pengembangan alat dan system kemiliterannya. Selain membangun beberapa seri rudal balistik, negara ini diketahui memiliki bom hidrogen atau termonuklir.

Dikutip dari BBC, termonuklir termasuk senjata dahsyat berbahan nuklir yang memanfaatkan energi dari reaksi nuklir utama untuk memadatkan dan membakar reaksi fusi nuklir kedua. Senjata ini diperkirakan memiliki daya ledak antara 100 hingga 370 kiloton. Enam kali lebih hebat dari kekuatan bom nuklir “Little Boy” yang dijatuhkan pihak sekutu di Hiroshima, Jepang pada Perang Dunia 1945.

Pada 3 September 2017, negara ini melakukan ujicoba pertama termonuklir mereka di sebuah gunung di kawasan Punggye-ri, Korut. Hasil analisa data dari sebuah satelit Jepang berhasil mengkalkulasi bahwa daya ledak senjata mematikan tersebut mencapai 400 kiloton.

Sementara dari citra satelit yang diambil oleh lembaga antariksa India, Indian Space Research Organisation (ISRO), daya ledak bom ujicoba tersebut antara 245 dan 271 kiloton.

Beberapa ilmuwan juga mengukur perpindahan permukaan gunung akibat ledakan beberapa hari pascaledakan ujicoba bom dengan menggunakan data dari satelit Jepang, Advanced Land Observing Satellite 2 (ALOS-2).

Teknik pengukuran dilakukan menggunakan Synthetic Aperture Radar Interferometry (InSAR). Sebuah teknik yang menurut US Geological Survey (USGS) sudah umumnya digunakan untuk mengukur deformasi tanah yang terkait dengan gunung berapi, yang dapat membengkak sebelum meletus secara akurat

Hasilnya, satelit itu mendeteksi adanya pergeseran permukaan gunung beberapa meter tepat di atas ledakan. Ledakan juga diketahui telah menggerakkan sisi puncak Gunung Mantap sekira 0,5 meter. Para ilmuwan memperkirakan ledakan bom itu sendiri terjadi sekitar 540 meter di bawah puncak dan telah menciptakan rongga besar di dalam gunung dengan radius 66 meter.

Meski mendapat kritikan dari dunia internasional, Korut sendiri mengklaim belum akan berhenti mengembangkan senjata nuklir mereka.