Menghangatnya Isu Geopolitik, TNI Perlu Nakhoda Berjiwa Maritim

0
542

Ilustrasi. Net

Jakarta (Samudranesia) – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bakal memasuki purnatugas pada Desember 2021 mendatang. Sekalipun terbilang masih cukup lama, sejauh ini telah beredar tiga nama yang berpeluang menjabat Panglima TNI.

Ketiganya merupakan jenderal bintang empat, dan kini tengah menjabat Kepala Staf Angkatan. Masing-masing Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Yudo Margono, dan Marsekal TNI Fadjar Prasetyo sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU).

“Ketiganya prajurit berintegritas, sama-sama memiliki rekam jejak gemilang di matra masing-masing. Ketiganya juga punya segudang prestasi, tidak diragukan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, karena itu pantas menjabat pucuk pimpinan TNI. Siapa paling berpeluang, itu hak prerogatif Presiden Jokowi,” kata Peneliti Geomaritim Indonesia, Anom B Prasetyo, Jumat (29/5).

Sambung Anom, hal itu guna menghadapi tantangan pertahanan dan keamanan mendatang, TNI bukan hanya butuh sosok kuat di kesatuan dan memiliki hubungan luar negeri mumpuni. Selain Covid-19, saat ini konflik perbatasan di Laut China Selatan masih menjadi salah satu masalah kedaulatan paling mencolok. Indonesia diharapkan di garis depan dalam menyelesaikan masalah ini.

Diperlukan sosok dengan pikiran kosmopolit, pemahaman yang baik tentang geopolitik internasional dan kawasan, ekonomi, sosial-politik, keragaman suku bangsa dan budaya, terutama jatidiri Nusantara sebagai bangsa maritim.

“Penting digarisbawahi, pada periode kedua Pak Jokowi, TNI butuh sosok yang tepat untuk mewujudkan visi Poros Maritim Dunia,” tambah Anom.

Secara normatif, jika merujuk pada aturan rotasi Panglima TNI dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia, matra laut dikatakan lebih berpeluang. Pola pergantian Panglima TNI dari tiga matra, menurut dia, diterapkan sejak reformasi.

“Pola semacam ini masih berjalan sampai sekarang, karena amanat konstitusi,” paparnya.

Menilik sejarahnya, sejak reformasi sudah ada empat jenderal TNI AD menjabat panglima TNI. Sedangkan dari TNI AL dan AU, masing-masing baru dua orang, yakni Laksamana TNI Widodo AS dan Laksamana TNI Agus Suhartono; Marsekal TNI Joko Suyanto dan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Ditanya tentang kemungkinan Presiden Jokowi bakal punya pertimbangan lain, karena kondisi negara dinilai tidak normal, ia membantah bahwa pandemi merupakan fenomena global. Pandemi bukan ancaman kedaulatan, mayoritas negara mengalaminya, termasuk negara adidaya.

“Anggapan itu memang beralasan, tapi tidak bisa dikaitkan dengan rotasi Panglima TNI. Presiden Jokowi tentunya punya kriteria sendiri, siapa dari tiga nama itu yang dipandang paling tepat dan profesional. Kita percayakan kepada Presiden Jokowi, panglima tertinggi. Semoga keputusan yang diambilnya tetap konsisten dengan garis konstitusi,” pungkasnya. (Tyo)