Mengapa Warga Tionghoa Dilarang Makan Bubur Saat Imlek?

0
726
pinterest

Perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina memiliki makna sangat besar bagi masyarakat Suku Tionghoa. Tak heran jika mereka sangat suka cita menyambut datangnya hari pergantian tahun tersebut. Berbagai macam tradisi dilakukan baik menjelang maupun saat perayaan Imlek. Salah satunya adalah makan besar bersama keluarga.

Ketika tiba harinya, berbagai menu masakan khas Imlek dihidangkan. Sebagian besar menu tersebut jarang tersedia di hari-hari biasa alias hanya dimasak saat perayaan Imlek. Karenanya bagi warga Tionghoa menikmati santapan-santapan lezat yang hanya hadir saat Imlek merupakan kenikmatan yang luar biasa.

Baca Juga: Menu Imlek dan Makna di Baliknya

Tapi dari sekian banyaknya makan lezat yang bisa mereka santap, ada satu makanan yang sangat pantang sekali untuk dihidangkan saat Imlek, yaitu bubur. Agak aneh sebenarnya karena bagi masyarakat Tionghoa, bubur sendiri merupakan makanan sehari-sehari yang biasa mereka santap.

Ada alasan khusus mengapa bubur yang biasanya selalu ada di meja makan warga Tionghoa ini tiba-tiba menghilang bahkan tabu dihidangkan saat Imlek. Ternyata ini berkaitan dengan kepercayaan dan tradisi yang mereka pegang teguh. Menurut kepercayaan mereka menghidangkan bubur saat perayaan Imlek akan menghambat datangnya rezeki kepada si pemakan sepanjang tahun berikutnya. Menyantap bubur saat Imlek juga dianggap mendekatkan diri kepada kemiskinan.

Karena kepercayaan tersebut maka saat perayaan Imlek, yang tersedia di meja makan biasanya berupakan makanan-makanan padat seperti nasi atau mie.

Tak hanya makan bubur, hal lainnya yang dianggap tabu untuk dilakukan saat perayaan Imlek adalah tak boleh mencuci baju. Ini terkait dengan kepercayaan mereka bahwa hari pertama dan kedua tahun baru merupakan hari ulang tahun Shuishen, Dewa Air. Pada kedua hari tersebut juga ada pantangan bagi masyarakat Tionghoa untuk mencuci rambutnya atau keramas.

Dalam bahasa Mandarin, kata ‘rambut’ memiliki diucapkan dengan kata ‘fa’ yang artinya ‘menjadi kaya’. Mencuci rambut saat Imlek dianggap akan “mencuci” keberuntungan dan kemakmuran.

Menjelang datangnya tahun baru dan perayaan Imlek, warga Tionghoa juga pantang untuk berhutang atau meminjam uang. Pantangan ini dilakukan karena mereka percaya berhutang menjelang Imlek hanya akan menghilangkan keberuntungan dan menghambat rezeki baik bagi yang berhutang atau yang meminjamkan.