Mengapa Ilmuwan Indonesia Tak Meneliti Durian?

0
842
Kultivar Durian Musang King yang berharga tinggi (plukme.com)

Sebagai salah satu negara dengan kultivar durian terbesar di dunia, justru tak banyak peneliti Indonesia yang meneliti durian. Kalah cepat dengan Singapura.

Sebuah artikel ilmiah yang terbit di Nature Genetics pada awal Bulan Oktober 2017 lalu menyajikan pemetaan genom durian atau Durio zibenthinus. Menariknya, peneliti yang bergerak untuk penelitian ini adalah kelompok peneliti yang berfokus pada penelitian kanker dari Humphrey Oei Institute of Cancer Research, National Cancer Centre Singapore (NCCS) dan Duke-NUS Medical School, Singapura.

Diantara 30 spesies yang diketahui dalam genus Durio, D. zibenthinus adalah yang paling memiliki nilai jual di Asia Tenggara. Sedikitnya, sembilan spesies memproduksi buah yang dapat dimakan dan lebih dari 300 kultivar (varietas) terdapat di Thailand, sekaligus menjadi salah satu negara yang leading dalam produksi durian selain Indonesia dan Malaysia. Durian juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi, pada tahun 2016, durian yang diimpor oleh Tiongkok memiliki nilai 600 juta dolar Amerika Serikat.

Banyaknya keanekaragaman kultivar durian, meliputi berbagai perbedaan pada tekstur buah, rasa, dan aroma. Setiap permintaan dari regional yang berbeda untuk kultivar berbeda mencerminkan keistimewaan lokal dalam selera konsumen. Beberapa kultivar sangat berharga di Malaysia dan Singapura, misalnya Musang King. Sedangkan kultivar yang lebih manis dengan bau tidak terlalu menyengat sangatlah populer di Thailand, misalnya Monthong.

Penulis : Arif Nur Muhammad Ansori adalah Peneliti di Professor Nidom Foundation, peraih Beasiswa Program Pendidikan Magister Menuju Doktor Untuk Sarjana Unggul (PMDSU, Batch 3) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) yang saat ini sedang menempuh pendidikan jenjang magister di Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia.

Jika ditinjau dari sisi taksonomi molekuler, durian mewakili genus ketiga pada ordo Malvales dan yang pertama pada subfamili Helicteroideae yang telah diurutkan genomnya. Genom durian dapat menyediakan sebuah sumber untuk biologi buah tropis dan agronomi.

Meskipun buah durian termasuk salah satu yang penting dalam buah tropis, penelitian terkait genetika pada durian hampir tidak ada data. Sumber daya penting seperti peta genom tidak tersedia untuk durian, dan tidak ada spesies tanaman dari subfamili Helicteroideae yang genomnya telah diurutkan. Namun, banyak spesies dari genus Durio lainnya yang saat ini terdaftar sebagai tanaman yang rentan atau terancam punah.

Prof. Bin Tean Teh (Deputi Direktur National Cancer Centre Singapore) yang merupakan pecinta durian sekaligus ketua tim penelitian tersebut, melaporkan rancangan keseluruhan genom durian kultivar Musang King menggunakan kombinasi teknologi-teknologi analisis molekuler. Analisis yang dilakukan oleh tim tersebut mengungkapkan bahwa genom durian terdiri dari sekitar 46.000 gen, hampir dua kali lipat pada manusia yang memiliki sekitar 23.000 gen. Berdasarkan data genomik yang baru dihasilkan, tim juga mempelajari evolusi durian dan menelusuri hubungannya 65 juta tahun lalu terhadap tanaman kakao atau Theobroma cacao.

Genom durian dapat digunakan untuk menilai hubungan filogenetik dengan anggota famili Malvaceae lainnya serta untuk membandingkan data transkriptomik antara organ tanaman yang berbeda (aril buah, daun, batang, dan akar) dan antara aril buah dari kultivar yang berbeda. Penelitian tersebut juga berhasil mengidentifikasi sekelompok gen yang disebut MGL (metionine gamma lyases) yang mengatur produksi senyawa bau yang disebut volatile sulphur compounds (VSC).

Analisis genomik dan transkriptomik memberikan wawasan tentang evolusi dan proses regulasi yang terkait dalam buah durian, termasuk pematangan buah, produksi flavonoid, dan metabolisme sulfur. Genom durian menyediakan sumber yang berharga untuk penelitian biologi dan agronomi buah tropis ini. Selain itu, hasil penelitian tersebut berharga untuk penelitian filogenomik evolusioner, serupa dengan kapas dan kakao yang genomnya sudah tersedia dan penelitian terkait genetikanya telah secara aktif dilakukan.

Uniknya, teknologi yang dikembangkan oleh tim tersebut seharusnya juga dapat diterapkan pada tanaman lain, termasuk yang bernilai obat. Sebenarnya terdapat sejarah panjang tentang obat-obatan yang ditemukan dari tumbuhan. Contohnya adalah artemisinin, senyawa terkenal yang digunakan untuk mengobati penyakit malaria yang berasal dari tanaman Artemissia annua. Selain itu, contoh lainnya adalah gendarussin dari tanaman Justicia gendarussa yang mendadak terkenal karena dapat dimanfaatkan sebagai obat KB untuk pria.

Hasil penelitian yang telah dipublikasikan oleh tim peneliti dari Singapura diharapkan dapat membentuk sebuah kerjasama antara ahli botani dan ahli konservasi untuk mempelajari spesies tanaman yang lain, terutama kelompok tanaman yang terancam punah di kawasan tropis akibat implikasi dari meningkatnya deforestasi dan industrialisasi yang saat ini sedang marak terjadi.

Kendala Peneliti di Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara beriklim tropis dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi di dunia. Sejauh ini, Indonesia belum memiliki banyak penemuan yang relevan yang dapat dikaitkan dengan melimpahnya sumber daya alam. Sebuah alasan mengapa Indonesia kurang kompetitif secara global mungkin adalah karena keterbatasan dana yang tersedia untuk mendukung penelitian.

Tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi di dunia, membuat para peneliti bisa mengeksplorasi dan melakukan inventarisasi semua spesies tanaman yang berbeda di nusantara. Hal ini adalah kegiatan yang paling sering dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun, minim dana penelitian akan menghasilkan waktu yang lebih singkat untuk ekspedisi dan eksplorasi serta hasil yang didapatkan tidak akan optimal.

Di Indonesia, para peneliti masih bergantung pada pendanaan publik untuk mendukung penelitiannya. Bayangkan saja, pemerintah Indonesia mengalokasikan kurang dari satu persen dari gross domestic product (GDP) untuk dana penelitian. Hal tersebut bahkan tidak sebanding dengan tetangga terdekat kita, Singapura, yang memiliki lebih banyak dana penelitian yang tersedia. Bahkan, Jepang dan Korea lebih besar alokasinya dibandingkan Singapura.

Implikasinya, merujuk pada data yang dirilis oleh database dari SCImago Journal & Country Rank, Indonesia menduduki peringkat ke-55 di dunia. Bahkan kita tertinggal jauh dari negara tetangga, seperti Singapura (peringkat 32), Malaysia (peringkat 34), dan Thailand (peringkat 43), sedangkan Jepang misalnya, kokoh di peringkat 5 dengan 2.367.977 dokumen terindeks Scopus. Namun, informasi resmi terkini menyebutkan bahwa publikasi Indonesia sudah berhasil melampaui Thailand dalam jumlah dokumen terideks Scopus. Hal ini membuktikan bahwa kita tidak seharusnya menyerah karena ketertinggalan, masih ada asa bahwa suatu saat Indonesia akan leading pada pengembangan life sciences.

Dyna Rochmyaningsih, seorang jurnalis sains asal Indonesia, pernah menulis artikel di Nature terkait dengan basic science di negara berkembang, termasuk Indonesia. Pada tahun 2016, dana hibah dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia untuk sebuah proyek penelitian jarang sekali mencapai 100 ribu dolar Amerika Serikat. Hal ini tentu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan laboratorium yang canggih dan menghasilkan publikasi bertaraf internasional dengan impact tinggi. Kita juga dapat mengamati hal yang sama di berbagai negara berkembang lainnya termasuk berbagai negara di Afrika.

Disisi lain, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memperbaiki pendanaan penelitian di Indonesia. Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI), sebuah badan otonom dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dapat memberikan dana hibah hingga 300 ribu dolar Amerika Serikat untuk setiap proposal penelitian. Untuk awalan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia menyediakan sembilan juta dolar Amerika Serikat pada tahun 2016 untuk penelitian di bidang life sciences, kesehatan, dan nutrisi. Hal yang paling menarik adalah lembaga pendanaan baru ini tidak memberikan pendanaan pada topik applied science. Fakta ini seharusnya dapat menunjang kinerja dan kebanggaan peneliti di Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya.  

Basic science tampaknya memang kurang terlihat  menarik di negara-negara berkembang, padahal penemuan-penemuan baru didalamnya dapat lebih memberi pengaruh besar pada kehidupan yang akan menjadi dasar pada penemuan-penemuan applied science. Melimpahnya sumber daya alam dan tersedianya dana untuk penelitian seharusnya menjadikan Indonesia sebagai surga bagi penemuan ilmiah potensial. Selain durian yang telah dipetakan genomnya oleh kelompok peneliti di Singapura, masih banyak keanekaragaman hayati lainnya yang berpotensi untuk menjadi terobosan riset baru yang mungkin dapat mengarah pada kontribusi ekonomi potensial.


Opini adalah pendapat pribadi penulis, keabsahan data menjadi tanggung jawab penulis.

Anda memiliki perspektif atau opini pribadi tentang industri kemaritiman, isu kelautan dan perikanan, konservasi & lingkungan, pariwisata, energi atau sosial budaya? Kirim artikel Anda ke [email protected] atau klik Kirim Artikel