Surili, Primata yang Melegenda dari Tanah Pasundan

0
288

Sosoknya tak terlalu besar. Dibanding primata lain sejenisnya, Surili  ini malah terkesan mungil. Mereka punya ciri-ciri khusus yang gak dimiliki hewan lainnya. Pokoknya, asyik bangetlah buat dilihat. Warnanya keabu-abuan, terus ada warna putih di bagian dadanya, serta sedikit berjambul. Lebih-lebih, kalau melihat tingkah lakunya, lucu banget dan bikin gemas.

Masih ada keunikan lain yang biasa diperlihatkan hewan ini. Surili sangat sensitif khususnya terhadap keberadaan predator, juga manusia. Plus, waspada pada lingkungan tempat mereka berada. Sensitivitasnya malah boleh dibilang melebihi hewan lain sejenisnya. Perilaku tak biasa lain yang tak jarang juga ditunjukkan adalah suka banget makan tanah di seputar habitatnya. Hal aneh ini gunanya buat membantu proses pencernaan.

Secara morfologi, surili memiliki ciri-ciri punggung dan bagian dagu berwarna abu-abu, dan berwarna putih pada dada, perut, bagian dalam lengan, serta kaki. Pada bagian kepalanya terdapat jambul di berwarna hitam, tidak dijumpai warna putih di bagian dahi, pipi kehitaman, ekor berwarna gelap pada bagian atas dan terang di bagian bawah, dan iris mata berwarna kecoklatan.

“Panjang badan surili berkisar antara 430-600 mm dengan panjang ekor 560-720 mm, dan bobot badan dapat mencapai 6,5 kg”, ujar peneliti mamalia dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ibnu Maryanto. Menurutnya spesies ini memiliki kemiripan dengan Presbytis hosei dari dahi dan pipi yang  berwarna putih, dan ekor yang berwarna abu-abu.

Menurut , habitat asli monyet ini adalah hutan primer, hutan sekunder, dan hutan bakau, mulai dari pinggir pantai hingga pada ketinggian 250 m – diatas 2.500 m dpl. “Seringkali dijumpai juga di hutan yang berbatasan dengan kebun. Sering membentuk kelompok dengan jumlah 4-5 hingga 10-15 individu per kelompok,” ujar Ibnu. Dirinya menjelaskan, surili masih terlihat di Gunung Sawal, Ciamis, Gunung Lawu, Gunung Slamet, dan Dieng.

Dan, satu hal, surili yang juga biasa disebut lutung Jawa, meski menghuni kawasan hutan di gunung-gunung, tidak juga bebas berkeliaran pada sembarang tempat. Surili baru bisa ditemui pada ketinggian tertentu saja. Biasanya hewan ini hidup pada ketinggian 700 m di atas permukaan laut hingga lebih dari 2.400 m. Khusus di Gunung Ciremai, biasanya mereka hidup di tiga tipe ekosistem habitat. Selain di hutan dataran rendah, hewan yang dalam Bahasa Inggrisnya javan surili ini juga hidup di kawasan sub-pegunungan dan hutan pegunungan.

Surili punya nama latin Presbytis comate. Hewan yang masuk kategori primata berekor panjang ini biasanya hidup secara berkelompok. Dalam satu kelompok hanya berkisar tujuh ekor. Lalu, bagaimana dengan makanan pokoknya? Cukup beragam. Selain dedaunan, surili juga dikenal monyet kecil yang suka makan buah, bunga, biji-bijian. Bukan cuma itu. Mereka juga menyukai serangga.

Terus, populasinya? Ini yang jadi masalah. Gak gampang buat menemui surili, meski kita berada di tengah-tengah habitatnya. Bukan cuma karena sifatnya yang sensitif, sehingga membuatnya selalu menjauh saat bertemu manusia, tapi juga ada faktor lain. Surili sudah sangat terancam keberadaannya. Tak heran, hewan ini masuk dalam deretan hewan dilindungi, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Sekaligus, berstatus Endangered (Terancam), menurut Red List IUCN.

Menurut catatan Kementerian Lingkungan Hiduo dan Kehutanan, surili memiliki status konservasinya dilindungi oleh Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, CITES (2019).