Masuki Renstra III MEF, TNI Dituntut Tunjukan Leadership di Kawasan

0
2450
Pasukan Elit TNI.

Jakarta (Samudranesia) – Program Minimum Esensial Force (MEF) yang sudah berjalan sejak 2010 tetap berlanjut di tahun 2020 ini. Tahapan MEF pada periode ini telah memasuki Rencana Strategis (Renstra) III dengan target memenuhi kebutuhan dalam kekuatan TNI kita agar menjadi unggul dan terdepan.

Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas NH Kertopati menilai bahwa Program MEF 2020-2024 adalah lanjutan dari tahapan yang sudah berjalan selama ini. Keamanan regional menjadi sorotannya dalam periode ini.

“Dari data-data intelijen beberapa tahun terakhir, maka TNI diharapkan lebih aktif lagi di dalam mewujudkan stabilitas keamanan regional. Sehingga TNI harus menunjukkan leadership di antara militer negara-negara anggota ASEAN,” kata Nuning biasa disapa dalam keterangannya, Rabu (1/1/2020).

Baca Juga: Sistem Defensif Aktif, Bangsa Indonesia Cinta Damai tetapi Lebih Cinta Kemerdekaan

Terutama dalam memandang eskalasi di perairan Sulu beberapa tahun terakhir yang marak dengan aksi perompakan dan pembajakan kapal  oleh Kelompok Abu Sayyaf. Nuning berpendapat bahwa TNI dapat menyusun program aksi keamanan regional sesuai dengan ASEAN Political-Security Community yang telah dicanangkan sejak 2015.

“Kawasan perairan Laut Sulu antara Indonesia-Filipina-Malaysia dapat menjadi fokus TNI di dalam menunjukkan leadership di ASEAN. Dengan mewujudkan ketahanan regional, maka otomatis TNI juga dapat mewujudkan ketahanan nasional,” imbuhnya.

Baca Juga: Perkuat Diplomasi Maritim, Bakamla harus banyak Berperan di Zona Delimitasi

Lanjut dia, leadership TNI di kawasan itu juga harus ditopang dengan SDM dan teknologi yang mumpuni. Maka dari itu, program MEF 2020-2024 yang diintegrasikan ke dalam Network Centric Warfare merupakan sistem pertahanan negara yang jauh lebih efektif dan efisien.

“Dengan memanfaatkan hasil kunjungan Menhan ke Turki dan China, maka terbuka peluang akselerasi di dalam pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI. Berbagai sistem persenjataan yang ditawarkan kedua negara dinilai cukup proporsional di dalam mewujudkan Nerwork Centric Warfare sebagaimana yang telah dicanangkan Panglima TNI selama ini,” jelasnya.

Mantan Anggota komisi I DPR ini juga menyambut baik rencana pemenuhan Alutsista TNI lima tahun mendatang mengingat Organisasi TNI yang baru telah disahkan melalui Perpres nomor.66 tahun 2019.

“Penggelaran kekuatan TNI di Indonesia bagian Timur menjadi perhatian pemerintah dengan konsentrasi penyelesaian separatisme Papua. Kondisi keamanan di Papua juga dapat dinilai sebagai tolok ukur keberhasilan TNI di dalam melaksanakan OMSP (Operasi Militer Selain Perang) sebagaimana dimuat dalam UU TNI dan RUU Perbantuan TNI,” ungkapnya.

Baca Juga: Penyelesaian Masalah Papua Sebaiknya Dengan Pendekatan Dimensi Sosial Dan Budaya

Selanjutnya, dalam era Revolusi Industri 4.0 saat ini, perkembangan teknologi harus menjadi fokus perhatian TNI. Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI dan Mabes TNI dituntut untuk lebih berinovasi menciptakan taktik peperangan dan strategi tempur yang lebih baik dan sesuai dengan Alutsista yang dimiliki.

“Doktrin pertahanan negara dan dan doktrin TNI harus dikembangkan lagi sehingga TNI mampu menjalankan tugas yang diemban dengan lebih optimal,” pungkasnya. (Tyo)