Mane’e: Cara Unik Menangkap Ikan

1
1771

Mane’e… mungkin buat sebagian besar masyarakat di negeri ini sepotong kata tersebut aneh kedengarannya. Jangan kan memahami pengaplikasiannya, maknanya pun pasti mereka gak tau. Atau, yang lebih sepele, pengucapannya pun belum tentu benar. Tapi, coba deh Anda tanyakan pada masyarakat Kepulauan Talaud, khususnya dari Kakorotan, Intata dan Malu. Pasti dengan enteng akan mereka jawab. Karena kata ini memang merupakan bagian dari bahasa ibu mereka.

 

Ada hal terpenting yang membuat mereka begitu familiar dengan kata mane’e. Bukan semata-mata karena kata itu menjadi salah satu kosakata dari bahasa sehari-hari mereka, melainkan juga karena mane’e punya makna yang begitu berarti dalam kehidupan mereka. Koq bisa? Dari sisi istilah mane’e berarti mengambil ikan di laut secara bersama-sama dan berdasarkan musyawarah mufakat. Jadi, mane’e adalah tradisi menangkap ikan secara tradisional dan turun-menurun, digelar sekali dalam setahun di Pulau Intata, Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara.

Lalu, apa sih yang membuat mane’e menjadi unik?

Satu hal yang pasti, dari metodenya. Seperti Anda tahu, penangkapan ikan konvensional, selain melibatkan para nelayan, juga sejumlah perlengkapan, seperti alat pancing atau jaring dan seterusnya, serta moda angkutan, seperti perahu dan seterusnya. Dan, jumlah nelayan yang dilibatkan pun tidak banyak.  Paling banter sekitar sepuluh orang. Tapi, tidak dengan mane’e. Seluruh elemen yang menjadi bagian dalam penangkapan cara ini bisa membuat Anda tercengang. Pertama, orang-orang yang ikut menangkap jumlahnya cukup fantastis, sekitar 200 orang. Mengenai jumlah serta orang-orang yang diikutsertakan dalam kegiatan ini ditentukan oleh para tetua adat. Jadi, mereka merupakan orang-orang pilihan, dan tidak sembarang orang boleh ikut.

Kedua, peralatannya. Mungkin di mata orang lain, peralatan yang dipakai orang-orang Talaud dalam kegiatan ini tergolong aneh dan gak masuk akal. Bayangkan, untuk menjaring ikan, mereka menggunakan alat yang mereka sebut sammy. Kayak apa sih sammy itu? Bentuknya sangat sederhana, hanya berupa sebuah tali hutan (rotan) yang pada jarak tertentu atau sekitar 1 atau 2 meter diberikan janur (daun kelapa yang muda).

Panjang sammy tidak tanggung-tanggung, mencapai tiga kilometer. Dan, untuk pengerjaannya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat di kepulauan itu. Coba saja Anda renungkan, mungkinkah dengan  alat semacam ini ikan bisa terjaring? Secara logika, sepertinya sulit memang. Tapi, kenapa koq masyarakat Talaud bisa? Aneh.  Selain sammy yang berfungsi sebagai jaring, masih ada sedikitnya dua macam peralatan untuk mendukung kegiatan mane’e. Ada alat yang mereka sebut jubih atau panah laut. Dan, lainnya adalah saringan.