Cerita Mistis di Benteng Malborough

0
990
dok.indonesia.go.id

Benteng tersebut Malborough namanya. Letaknya persis di tepi Pantai Tapak Paderi, Bengkulu. Benteng yang nampak begitu kokoh itu merupakan peninggalan Inggris. Tampilannya sangat memesona, tapi di balik itu sesungguhnya banyak kisah mistis tersimpan di dalamnya. Dimulai dari pintu masuknya yang terdapat parit penuh jebakan yang mengelilingi benteng. Logis, karena dulunya benteng ini merupakan basis pertahanan Inggris dari pejuang Bengkulu.

Di salah satu sisi bagian dalam benteng terdapat dua makam, masing-masing makam Robert Hamilton dan Thomas Parr. Mereka adalah tentara dan seorang residen. Dimakamkan di sana, karena untuk menghindarkan dari upaya pengrusakan oleh warga yang anti penjajah. Ada juga lorong bekas ruang penjara. Dan, dari sekian banyak ruang itu, ada yang temboknya penuh darah. Ini sekaligus menjadi saksi bahwa ada peristiwa penahanan pada masa penjajahan itu. Sang tahanan sengaja menggurat dan menulisi tembok dengan darahnya. Gambarnya berupa empat mata angin berbahasa Belanda, berisi tentang penderitaan sang tahanan.

Bukan cuma itu, di Benteng Malborough juga sering terjadi penampakan seorang wanita Inggris bernama Helen. Dikisahkan Helen meninggal dalam penahanan. Perempuan bule tersebut jatuh cinta dengan pria lokal, sampai pindah agama dan berganti nama menjadi Helen Nurhayati. Keluarganya marah dan memenjarakannya di ruang bahwa tanah benteng tersebut. tak heran, jika banyak pengunjung yang konon pernah melihat penampakan perempuan malang itu, dengan bergaun putih ala Eropa di ruang bawah tanah. Biasanya itu terjadi saat menjelang Magrib.

Terlepas dari sisi mistis, harus diakui Benteng Malborough tempat yang sarat akan kisah sejarah. Bagi penjajah, boleh jadi, benteng ini tak lebih dari simbol pertahanan mereka. Namun sebaliknya, bangunan tersebut merupakan ikon perlawanan para pejuang di tanah Bengkulu di masa itu. Sebab itu, sangat pas jika bangunan yang luasnya sekitar 2,7 hektar ini harus dilestarikan sebagai salah satu cagar budaya di Bengkulu khususnya, dan Indonesia pada umumnya.(AA)