Lombok Diproyeksikan Menjadi Sentra Budidaya Lobster Dunia

0
963
Budidaya lobster di Telong Elong, Lombok, NTB.

Lombok (Samudranesia) – Pulau Lombok yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) diproyeksikan menjadi sentra lobster dunia. Kegiatan budidaya yang sudah berjalan secara masif menjadi role model untuk pengembangan budidaya lobster di daerah-daerah lainnya.

Deputi Koordinasi Bidang Sumber Daya Maritim Kemenko Marves Safri Burhanuddin mengungkapkan bahwa pemerintah terus mengoptimalisasi produksi industri komoditi lobster, salah satunya di Telong Elong, Lombok, NTB.

“Telong Elong ini merupakan salah satu sentral industri komoditi lobster di Indonesia, karena ini sudah ada bukan cuma setahun dua tahun, tetapi bertahun-tahun dan berjalan dengan baik. Ini bagus dengan kita ada target bagaimana menjadikan sentral industri komoditi lobster di Indonesia menjadi sentral di dunia,” kata Safri di lokasi, Rabu (26/08).

Baca Juga: Rokhmin: Budidaya Lobster Bisa Menjadi ‘Prime Mover’ Ekonomi

Dalam mewujudkan hal tersebut, Safri menjelaskan tentu saja terlebih dahulu butuh keseimbangan antara industri komoditi lobster dan ekspor lobster Indonesia, yaitu industri komoditi lobster tetap berkembang dan ekspor tetap ada dengan pemberlakuan pembatasan.

“Hal itu sesuai dengan kebijakan Menteri KKP yakni Peraturan Nomor 12/Permen-Kp/2020 Tentang Pengelolaan Lobster. Kita prioritaskan industri komoditi lobster tapi juga harus ada kuota yang ditetapkan supaya eksportir juga bisa jalan. Kalau tidak nanti mereka (para nelayan) kecewa,” jelasnya.

Baca Juga: Budidaya Lobster di Lombok Panen, Tidak Lupa 2 Persen untuk ‘Restocking’

Selain keseimbangan, Safri juga menjelaskan hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lobster khususnya di Telong Elong ini, yakni kedalaman tempat penangkaran lobster.

“Seperti saya katakan tadi bahwa di sini sudah baik, tetapi untuk membuat lobster lebih baik dan lebih sehat, dibutuhkan kedalaman idealnya sampai 10 meter, nah di sini baru sekitar 5-6 meter. Ini saya harap ke depan akan berjalan lebih baik lagi pengelolaannya,” ujarnya.

pocong, alat penangkap benih lobster

Ia juga menjelaskan bahwa pengembangan lokasi sentra industri komoditi lobster ke depan diharapkan dapat didesain sedemikian rupa sehingga dapat menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancaranegara.

“Saya pikir ini bisa jadi tempat wisata bagaimana mereka/ wisatawan bisa melihat tempat lobster dan belajar bagaimana industri serta budidaya lobster itu sendiri,” ujarnya.

“Mungkin dari penataan lokasi yang menarik dan unik dengan khas bambu betungnya atau dengan cara penangkapan lobster yang kemudian disajikan dengan menu masakan bahan dasar lobster,” pungkasnya.

Di tempat terpisah, mantan Dirjen Budidaya KKP, Prof Ketut Sugama menyampaikan bahwa Telong Elong merupakan tempat budidaya lobster yang baik. Beberapa kali ia melakukan riset di sana untuk meneliti berbagai jenis penyakit lobster.

“Kita antisipasi agar tidak banyak terjangkit penyakit seperti di Vietnam,” ujar Ketut beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Menggiurkan! Sebesar Ini Keuntungan Budidaya Benih Lobster

Budidaya lobster di Vietnam banyak ditemukan berbagai jenis penyakit pada lobster di antaranya Milky Heamolymph Diseases (MDH) yang sangat berbahaya. Penyakit ini cepat menular pada lobster.

“Saya mengajak teman-teman budidaya untuk bisa mengantisipasi jenis-jenis penyakit ini agar lobster yang dibudidaya tidak mati,” ungkapnya.

Dengan demikian, optimisme begitu terpancar lewat budidaya lobster, utamanya di Telong Elong, Lombok. Menurut Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan Laut Indonesia (Hiplindo) Effendy Wong, suatu hari nanti sentra budidaya lobster dunia akan bergeser dari Vietnam ke Indonesia.

“Sentra budidaya lobster akan pindah ke Indonesia. Teluk-teluk di Vietnam sudah over capacity. Kita tinggal perlu strategi untuk implementasi Permen KP 12/2020,” ungkap Effendy.

Baca Juga: Jawab Keraguan Publik, Restocking Lobster Hasil Budidaya terus Dilakukan KKP

Maka dari itu, ia mengimbau agar ekspor benih lobster ke Vietnam perlu dibatasi. Karena hal itu bisa menjadi bom waktu buat kita.

“Jadi kita sama saja memberikan peluru buat negara Vietnam. Budidaya lobster di kita terhambat oleh Permen KP 2/2015, semntara di Vietnam sudah berkelanjutan selama lebih kurang 25 tahun,” pungkasnya. (Tyo)