Legenda di Balik Eksotisme Pulau Senoa

0
1167
Pulau Senoa, Natuna, yang menyerupai ibu hamil sedang dalam posisi telentang (dok.Majalah Samudra)

Bentuk pulaunya mirip wanita hamil yang sedang tidur. Perairannya yang jernih tak hanya menawarkan snorkeling, tapi juga diving di antara terumbu karang serta kapal karam.

Alkisah ada seorang Datuk Panglima Hitam mempersunting anak Raja Senubing yang cantik bernama Engku Patimah atau Mai Lamah. Sayangnya, meski cantik sang putri punya tabiat yang tidak terpuji, yakni sangat kikir. Saking kikirnya, ia tak pernah mau memberi pinjaman barang sekecil apapun miliknya, apalagi harus memberi. Karenanya, banyak warga yang tidak menyukai Engku Patimah. Bahkan, tak jarang  warga yang melontarkan umpatan atas kelakuannya

Suatu ketika Engku Patimah yang sedang hamil tua terpaksa harus ditinggal pergi Datuk Panglima Hitam untuk melaut. Dan, pada malam harinya ia seperti mendengar suara yang mirip suara suaminya memanggil-manggil dari luar. Tanpa pikir pikir panjang, Engku Patimah pun bergegas menuju asal suara itu. Namun, alangkah terkejutnya ketika dilihat ternyata suara tersebut bukanlah suaminya, melainkan berasal dari mahluk yang sangat menyeramkan. Engku Patimah merasakan ketakutan yang luar biasa, dan seketika itu juga mencoba melarikan diri.

Mahluk itu terus mengikuti Engku Patimah. Ia pun berusaha dengan sekuat tenaga berlari seraya meminta pertolongan warga. Namun, tak ada satu pun warga yang mempedulikannya. Mereka sudah terlanjur benci dan enggan berurusan dengan istri Datuk Panglima Hitam itu. Karena tak ada yang mau menolong, ia pun berniat memberi tahu suaminya. Ketika itu Datuk Panglima Hitam sedang mencari ikan di seputar Pantai Sepampang.

Upaya yang keras dari Engku Patimah untuk menuju lokasi suaminya berada membuatnya kian lemah. Lebih parah lagi, karena kondisinya yang tengah hamil tua. Ia pun tak kuat lagi melanjutkannya, hingga pingsan. Kejadian itu dilihat Datuk Panglima Hitam. Namun, ketika didekati, Engku Patimah kesurupan. rupanya, mahluk jahat tersebut masuk dan menguasai raganya. bahkan, lebih menyeramkan lagi wujudnya berubah menjadi raksasa.

Melihat kondisi itu, Datuk Panglima Hitam pun tak tinggal diam. dia mencoba mengusir mahluk itu. Sehingga terjadilah pertempuran sengit dengan raga dan jiwa Engku Patimah yang telah dikuasai oleh mahluk tersebut. Karena sudah terdesak, Datuk Panglima Hitam pun mengeluarkan keris saktinya. Sayangnya, tanpa sengaja senjata itu justru melukai dan membunuh Engku Patimah. Mahluk raksasa itu terbaring dan terkapar di tengah laut. Ia pun kemudian berubah menjadi sebuah pulau, pulau yang menyerupai ibu hamil. Peristiwa tragis itu pun akhirnya membuat Datuk Panglima Hitam terbelenggu oleh rasa penyesalan serta bersalah yang sangat dalam.

Dilihat dari kejauhan Pulau Senoa memang mirip sekali dengan wanita hamil yang sedang tiduran. Makanya, tak aneh jika pulau yang kerap disebut juga Pulau Senue oleh warga sekitar begitu erat kaitannya dengan legenda Engku Patimah. Bahkan, bukan cuma itu. Ada pula tradisi yang turut melegenda di pulau tersebut yang tetap dipatuhi hingga sekarang. Yaitu, larangan kata-kata kasar atau kata-kata yang tidak pantas.

Selebihnya, Pulau Senoa tak ubahnya sebuah surga kecil yang muncul di antara deretan Kepulauan Riau. Persisnya, di ujung utara kepulauan tersebut. Pulau ini boleh dibilang menjadi tapal batas atau daratan terakhir milik Indonesia sebelum memasuki teritorial Malaysia. Hampir seluruh daratannya ditutupi oleh pelbagai jenis tanaman. Sehingga membuat pulau yang luasnya hanya berkisar 50 hektar ini tidak hanya hijau melainkan juga teduh dan menyejukkan. Terlebih, kawasan pantainya, semilir hembusan angin dari arah laut akan merasakan elusan yang lebih menyejukkan.

Ist

Panorama Senoa pun tak kalah cantiknya dengan kebanyakan pulau yang menjadi destinasi wisata di tanah air. Eksotis, dilihat dari jauh maupun dekat. Tak hanya di daratan, di perairannya pun sangat menawan. Khusus wisata air, di pulau ini banyak yang bisa dinikmati. Mulai dari pantainya yang menawarkan hamparan pasir putih yang sangat bersih. Sehingga, untuk bersantai sambil menikmati deburan ombak yang saling berkejaran menjadi sangat ideal. Singkatnya, aktivitas apapun yang bisa menyemarakkan rekreasi sangat mungkin dilakukan.

Yang juga sangat mengagumkan adalah air lautnya. Perairan di seputar Pulau Senoa sangat bening bagaikan kristal. Karena itu, bukan tak mungkin semua kandungan lautnya menjadi sangat jelas dilihat, bahkan hingga jauh di kedalaman tertentu. Apalagi, dukungan ombaknya yang relatif tenang, pastinya akan semakin memudahkan penglihatan.

Dengan karakter perairan seperti itu bisa dipastikan Senoa sangat ideal sebagai destinasi para wisatawan, khususnya penggila snorkeling serta diving. Pastinya, perairan di seputaran pulau Ibu Hamil ini akan menawarkan sorga bagi wisatawan pehobi snorkeling. Begitu pula, untuk mereka yang hobi diving. Asal tahu saja, biota laut di perairan ini sangat beragam, di samping juga penuh dengan warna-warni. Tak hanya ikan-ikannya, tapi juga banyak hewan laut lainnya. Apalagi, terumbu karangnya sangat banyak jenisnya dan tumbuh sangat subur. Logis, jika dunia bawah laut perairan Senoa memiliki panorama yang benar-benar memukau.

Satu lagi, daya tarik yang juga perlu diperhitungkan dari Senoa adalah sarang burung walet.  Pulau ini juga dikeliling batu-batu karang yang curam, dan di sela-selanya terdapat gua yang menjadi burung-burung walet bersarang. Melihat ini tentu menjadi pemandangan tersendiri yang cukup mengasyikkan. tambahan lagi, dari sekitar gua tersebut bisa terlihat pemandangan Gunung Ranai, Batu Sindu serta Pantai Tanjung yang indah.

Lantas bagaimana caranya ke sana? Mudah saja. Pulau Senoa terletak tak jauh dari Desa Sepempang, Ranai, Kabupaten Natuna. Dari desa itu dibutuhkan waktu menyeberang sekitar 15 menit.  Untuk itu bisa menyewa pompong milik nelayan, biayanya sekitar Rp 400.000,- untuk pulang-pergi. Penyeberangan Anda menuju Pulau Senoa pasti berkesan, karena akan dimanjakan oleh pemandangan air laut yang berkilauan serta terumbu karang yang indah, plus pesona Gunung Ranai.

Agus A. Abdullah