‘Psywar’ TNI AL dan Bakamla di Laut Natuna

0
219
Latihan bersama antara Bakamla dan TNI AL di Laut Natuna jadi momen 'psywar' untuk negara-negara lain di kawasan.

Natuna (Samudranesia) – Sebelumnya, di tengah operasi SAR dan persiapan operasi perbantuan penanggulangan bencana alam di Sulawesi Barat, Badan Keamanan Laut RI (Bakamla) berhasil menghalau Kapal Pengawas Perikanan Vietnam Kiem Ngu 215 yang memasuki perairan Indonesia, Laut Natuna.

Kejadian tersebut berlangsung pada saat KN Tanjung Datu-301 yang dikomandani oleh Kolonel Bakamla Arif Rahman, S.T., M. Tr. Hanla., sedang melaksanakan Operasi Keamanan dan Keselamatan Laut Dalam Negeri “Trisula-I/21” mendapatkan informasi pada Jumat (15/1) pukul 15.30 WIB dari Puskodal Bakamla RI perihal keberadaan kapal Pengawas Perikanan Vietnam di sekitar garis batas landas kontinen Indonesia.

Baca Juga: Tugas Berat “Sang Ketua Kelas” di Laut Natuna

Setelah mendapatkan informasi tersebut, Sabtu (16/1) pukul 04.00 WIB KN Tanjung Datu-301 yang sedang lego di Pulau Laut langsung menuju garis batas landas kontinen Indonesia untuk melaksanakan pemeriksaan keberadaan kapal Pengawas Perikanan Vietnam tersebut.

Pukul 14.30 WIB KN Tanjung Datu-301 melalui peralatan AIS berhasil mendeteksi keberadaan Kapal Pengawas Perikanan Vietnam dengan nama lambung kapal Kiem Ngu 215 yang berada kurang lebih 2,5 nm di Selatan garis batas landas kontinen. Kemudian, pukul 14.45 WIB KN Tanjung Datu-301 melakukan kontak radio dan sekaligus memperkenalkan diri sebagai Indonesia Coast Guard untuk menanyakan perihal keberadaannya di perairan Indonesia.

Respons kooperatif pun terlihat saat Kapal Kiem Ngu 215 menerima pesan dari KN Tanjung-301 dan didapatkan bahwa benar Kiem Ngu 215 berada di perairan Indonesia dengan alasan adanya kerusakan mesin sejak Kamis (15/1).

Kemudian, dengan alasan kerusakan mesin, Kiem Ngu 215 meminta waktu 30 menit untuk mempercepat perbaikan mesin selanjutnya kapal itu bergerak ke utara keluar dari perairan Indonesia.

Untuk mencegah perselisihan dan tensi hubungan diplomatik antara Indonesia dan Vietnam, komandan KN Tanjung Datu-301 Kolonel Bakamla Arif Rahman terus melakukan koordinasi melalui kontak radio. Pukul 15.30 WIB kapal Kiem Ngu 215 start mesin dan mulai bergerak menuju utara dengan dibayangi KN Tanjung Datu-301 hingga 3 Nm di utara garis batas landas kontinen.

Kapal Bakamla dalam aksinya ini di-backup oleh KRI Usman Harun yang juga telah memantau keberadaan kapal pengawas perikanan berdasarkan informasi dari Puskodal Koarmada I. Selama operasi ini, kapal TNI AL dan Bakamla RI terus saling bersinergi dengan bertukar informasi tentang posisi dan situasi laut di sekitarnya.

Setelah berhasil menghalau Kiem Ngu 215 keluar dari yurisdiksi Indonesia, KN Tanjung Datu 301 dan KRI Usman Harun 359 melaksanakan latihan bersama, Minggu (17/1/2021).

Latihan ini digelar sebelum kedua kapal penjaga kedaulatan menempati kembali sektor masing-masing selepas mengintersep dan menghalau kapal pengawas perikanan Vietnam keluar dari wilayah yurisdiksi Indonesia di Laut Natuna Utara.

Dalam aksi tersebut, terlihat adanya grey and white hull synergy, dimana KN Tanjung Datu 301 yang berada di depan menghalau, sementara KRI Usman Harun-359 mem-back up pada jarak 5 Nm dibelakang Kapal Bakamla tersebut.

KRI Usman Harun 359 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Rasyid Al Hafiz, MMaritimePol., M.Tr.Hanla memimpinnya jalannya latihan. Latihan ini bertujuan selain mempertahankan kemampuan, juga agar terbina komunikasi yang baik di antara aparat penegak hukum itu.

Tak hanya itu, latihan ini juga bermakna psychological warfare (psywar) terhadap negara-negara kawasan untuk tidak memasuki perairan ZEE Indonesia. Latihan yang dilakukan meliputi latihan manuver taktis, latihan formasi dan latihan komunikasi taktis. 

Kepala Bakamla pada kesempatan terpisah mengungkapkan bahwa sinergi TNI AL dan Bakamla merupakan suatu keniscayaan.

“Ini harus dijaga dan ditingkatkan, salah satunya dengan memanfaatkan setiap kesempatan pada saat operasi di wilayah yang sama,” ujar Aan.

Menurutnya, mengelola Laut Natuna Utara membutuhkan tiga pendekatan yaitu kehadiran aparat penegak hukum, pemanfaatan laut dan membangun saling percaya.

“Kunci pengelolaan wilayah perbatasan laut RI di Laut Natuna Utara adalah sinergi semua pemangku kepentingan terkait,” pungkasnya. (*)